Menu

Mode Gelap

Ekonomi · 28 Okt 2019 04:52 WITA ·

Agar Nelayan dan Buruh Pondok Prasi Sejahtera Selly Wajibkan Abon Ikan Berlabel Halal dan Miliki Standarisasi


					Selly Andayani Perbesar

Selly Andayani

MATARAM, DS – Peningkatan kesejahteraan nelayan di pesisir Kecamatan Ampenan, Kota Mataram terus digaungkan Hj. Putu Selly Andayani. Kepala Dinas Perdagangan NTB itu bertekad membantu menyulap kampung nelayan di Lingkungan Pondok Prasi, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan menjadi kampung mandiri dan sejahtera.

Hal ini dilakukan agar predikat kampung kumuh dan merupakan salah satu kampung kantong kemiskinan di Kota Mataram itu bisa berubah dan berbenah kehidupan warganya menjadi lebih baik kedepannya.

“Bagaimana, masyarakat disini bisa meningkat kehidupannya jika ikan tongkol hasil tangkapan nelayan tiap harinya hanya sebatas dijual dengan pola dipindang kayak gitu saja,” ujar Selly saat menjadi narasumber pada talkshow bersama masyarakat nelayan yang tergabung dalam Serikat Masyarakat Pesisir Laut (Simpel) yang juga dihadiri Anggota DPD RI Dapil NTB Evi Apita Maya, Sabtu (26/10).

Selly mengatakan, agar masyarakat nelayan di pesisir Pondok Prasi ini bisa keluar dari zona kemiskinan maka ikan yang dihasilkan harus bisa diolah dengan cara-cara yang lebih baik. Sebab, sebuah produk apapun, termasuk ikan nelayan akan dapat memiliki nilai tambah secara ekonomi, manakala telah ada sentuhan teknologi didalamnya.

Apalagi, dalam setahun itu tidak mesti para nelayan akan terus turun melaut. Mengingat, ada musim tertentu, dimana kadang produksi ikan paceklik.

“Disinilah, perlu kita cermat melihat posisi musim itu. Makanya, agar kita bisa berdamai dengan alam, perlu siasat dan strategi menjadikan musim paceklik ikan sebagai berkah. Caranya, bagaimana ikan tongkol yang kita hasilkan itu dibuat abon ikan yang memiliki keunggulan tersendiri dari abon ikan lainnya. Yakni, label halal yang enggak asal-asalan,” tegas Selly.

Selly mengungkapkan, merujuk Nawacita Presiden Joko Widodo di periode kedua pemerintahannya yang akan tetap fokus menjadikan sektor laut sebagai masa depan bangsa. Maka, hal tersebut harus dimaknai bagaimana masyarakat pesisir di Kecamatan Ampenan harus mampu memanfaatkan peluang tersebut.

Apalagi, kata dia, merujuk data Dinas Kelautan dan Perikanan setempat, maka saat ini, konsumsi ikan di Kota Mataram, masih berada pada angka 31 kilogram per kapita per tahunnya.

“Untuk itu saya berfikir bagaimana membantu masyarakat pesisir Ampenan, khususnya Lingkungan Pondok Prasi mengadakan spiner, sehingga abon yang dihasilkan ibu-ibu dan remaji nelayan disini bisa punya kualitas yang layak sebagai produk halal,” kata Selly.

“Kenapa halal. Ingat Provinsi NTB itu dikenal dengan wisata halalnya. Makanya, semua produk makanannya harus bersertifikasi halal. Kami akan bantu untuk itu ke Balai POM, asal syaratnya ada kemauan,” sambungnya.

Menurut Selly, produk halal tersebut dipasarkan untuk menyediakan rasa aman dan nyaman di masyarakat. Sebab, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (UU JPH) pada 2019 mendatang produk yang dijual atau dipasarkan wajib memiliki sertifikasi halal.

Meski demikian, hingga saat ini tidak banyak industri terutama usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang mengantongi sertifikasi halal pada produk yang mereka produksi. Termasuk, produk abon ikan di Pondok Prasi saat ini.

“Tekad saya, program standarisasi abon ikan Pondok Prasi ini akan kita bina intensif. Sehingga akan bisa masuk dan kita pasarkan lewat I-Shoop. Pokoknya, hilirasasi produk kita mulai dari Ampenan. Harapannya, ikan tongkol ini punya nilai tambah dan menyejahterakan warga disini,” jelas Selly.

Ia menuturkan, perempuan nelayan di NTB harus siap menghadapi era inovasi disruptif atau revolusi industri 4.0 yang sudah di depan mata. Untuk itu, bekal yang harus disiapkan adalah produk abon ikan yang dihasilkan memiliki nilai tambah yang berbeda dari sebelumnya.

“Kalau sudah produk kita terstandarisasi halal yang bukan copy paste dari internet. Namun diterbitkan dari lembaga resmi, kita enggak usah cemas dan khawatir,” tandas Selly.

“Sekarang, bagaimana mau masuk Gojek dan Facebook jika standarisasinya kita abaikan,” sambungnya. RUL.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

‘Begawe Ngujur’ Cara Nelayan Ampenan Sambut Kunjungan PLN

21 Mei 2022 - 15:36 WITA

Sarapan di Mataram, The Sultan Food Aja

20 Mei 2022 - 17:36 WITA

PT DNA akan Menyerap Semua Jagung Petani

18 Mei 2022 - 16:39 WITA

JMSI Apresiasi KBRI Madrid dan Dubes RI Kerajaan Spanyol Bangun Poros Global

17 Mei 2022 - 17:49 WITA

Tambah Satu Mobil Tangki Lagi, HBK PEDULI Tingkatkan Suplai Air Bersih Gratis untuk Warga Terdampak Kekeringan di Lombok

17 Mei 2022 - 17:09 WITA

Harga Jagung Anjlok, Gubernur NTB Beri Solusi Jalur Ekspor

15 Mei 2022 - 19:09 WITA

Trending di Ekonomi