Berbagi Berita Merangkai Cerita

Agar Kesejahteraan Masyarakat Meningkat, Pemkab Sumbawa Dukung Pembangunan Kilang Minyak di Teluk Santong

20

FOTO. Inilah kawasan Teluk Santong, Kecamatan Plampang, Sumbawa yang memiliki keindahan alam yang memesona. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Pemkab Sumbawa memastikan rencana pembangunan kilang minyak yang dilakukan PT Palu GMA Refenery Consortium (PGRC) di Teluk Santong, Kecamatan Plampang, Sumbawa, bakal terus berlanjut.

Pjs Bupati Sumbawa Ir. Zainal Abidin mengatakan, total invetasi yang akan digelontorkan perusahaan yang juga akan membangun Kawasan Ekonomi Khusus Minyak dan Gas di Sumbawa itu mencapai Rp 190 triliun.

Menurut dia, dari kajian Amdal yang diterimanya, dipastikan tidak akan ada kerusakan biota laut atau terumbu karang yang ramai diperbincangkan di media sosial (Medsos) saat ini.

“Bagaimana ada kerusakan lautnya, kan kapal yang masuk ke Teluk Santong itu punya jalur khusus yang diatur secara internasional. Saya perlu luruskan karena kajian yang di unggah itu sangat lemah secara akademik soal kerusakan Teluk Santong,” kata Zaenal pada wartawan di kantor DPRD NTB, Rabu (21/10).

Kepala Biro Kerjasama Setda NTB mengatakan, pihaknya sangat mendukung penuh rencana pembangunan kilang minyak dan gas di Sumbawa tersebut.

Pasalnya, adanya investasi besar yang masuk di satu wilayah, maka hal itu akan membuat industri lainnya juga bergerak. Diantarnya, pariwisata, transportasi hingga makanan.

“Dulu ada PT NNT yang kini berubah jadi Amman di KSB, anda lihat bagaimana perputaran uang disana. Semua masyarakat merasakan dampaknya. Maka, warga Sumbawa juga menantikan adanya industri besar, sehingga roda perekonomian akan bisa berjalan seluruhnya,” tegas Zaenal mencontohkan.

Ia mengaku, munculnya nada-nada sumbang terkait pembangunan kilang minyak yang dilakukan PT Palu GMA Refenery Consortium (PGRC) di Teluk Santong, merupakan persepsi segelintir orang yang tidak menghendaki Kabupaten Sumbawa meningkat taraf kesejahteraan warganya.

“Aneh saja, masak investasi itu hanya diumpakan pada sebatas pemkab mengeluarkan izin ruko semata. Untuk apa izin ruko kita perbanyak, namun masyarakat kita yang jumlahnya besar tidak bisa merasakan dampaknya. Jadi, lebih baik program yang besar kita perioritaskan tapi hasilnya masyarakat luas bisa bekerja disana,” jelas Zaenal Abidi.

Diketahui, keputusan PT PGRC memilih Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Oil and Gas di Teluk Santong tersebut diputuskan Direktur dan Komisaris PT PGRC dan telah disampaikan kepada Gubernur NTB, pada Sabtu (8/8) lalu.

Dimana,  sehari sebelumnya, Direktur dan Komisaris PT PGRC bersama rombongan Pemprov NTB telah meninjau lokasi, dan dipastikan lokasi yang dipilih sangat layak.

Bahkan, segala potensi yang dimiliki oleh Teluk Santong membuat para investor merasa takjub. Segala potensi Teluk Santong dan sekitarnya melebihi semua persyaratan yang diminta oleh para investor.

Bahkan rencana awal jumlah investasi sebesar Rp 150 triliun, kini berkembang lagi. Rencananya, PTPGRC akan mengembangkan pabrik etanol dengan nilai proyek sebesar Rp 40 triliun. Sehingga total investasi yang digelontorkan di Sumbawa mencapai Rp 190 triliun.

“Hasilnya (survey) sangat memuaskan. Semuanya melebihi ekspektasi kami,” kata Direktur PT PGRC Muhammad Rusdy seusai rapat bersama Gubernur NTB Zulkieflimansyah dan jajaran Kepala OPD Provinsi NTB di Sumbawa, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, ada tiga hal yang memuaskan tersebut. Pertama kontur lahan sangat bagus. Dia menyebut istilah “perfect”. Kedua, soil condition juga solid. Terakhir dari sisi kedalaman lautnya yang mencapai 25 meter.

“Jadi kalau mau narik SPR, tidak panjang-panjang amat. Kita sudah survey langsung ke sana sudah sesuai rencana kita,’’ katanya.

Malah floatingnya dinilai pas, untuk oil and gas. Untuk lahan yang diminta seluas 1000, tapi tapi tersedia 1.187.

Yang menarik dari hasil kunjungan lapangan, jajaran komisaris PT PGRC juga tertarik mengembangkan pabrik etanol. Terkait hal ini, perusahaan membutuhkan lahan minimal 20 ribu hektar lahan untuk tanaman tebu. Dan menurut data Pemda NTB, ada sekitar 21 ribu hektare lahan.

Hal lain lagi yang membuat kagum para investor ini adalah, proses pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus sudah berjalan. Dan KEK yang dikembangkan adalah KEK agro dan energi. Dan ini menjadi cocok dengan rencana pembangunan PGRC. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.