Menu

Mode Gelap

Lingkungan Hidup · 12 Jan 2022 16:32 WITA ·

ADI dan Unair Tepis Klaim Disnakeswan NTB, Terkuak Penyebab Kematian Anjing di Mandalika


					ADI dan Unair Tepis Klaim Disnakeswan NTB, Terkuak Penyebab Kematian Anjing di Mandalika Perbesar

FOTO. Inilah sejumlah anjing liar yang masih berkeliaran di Sirkuit Mandalika. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Klaim Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB menyebutkan kematian sejumlah anjing liar di kawasan Sirkuit Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) bukan karena diracun melainkan akibat halauan nampaknya terbantahkan.

Animal Defenders Indonesia (ADI) yang menggandeng Laboratorium Forensik Universitas Airlangga (Unair) menemukan fakta dari dua bangkai anjing di Mandalika, satu diantaranya mati dengan cara dihantam benda tajam pada rahang atas dan jeratan tali pada kaki depan.

“Jadi, hasil (visum) yang kami terima, sungguh mengejutkan. Ternyata salah satu bangkai anjing tersebut, mati dengan cara dihantam benda tajam pada rahang atas dan jeratan tali pada kaki depan,” ujar Ketua Animal Defenders Indonesia (ADI) Doni Herdaru Tona dalam siaran tertulisnya, memaparkan temuan yang mengenaskan pada anjing yang mati di Sirkuit Mandalika, Rabu (12/1).

Doni membenarkan, pihaknya bersama pihak terkait mengamankan dua bangkai anjing di Mandalika. Bangkai tersebut kemudian dikirimkan ke Laboratorium Forensik Universitas Airlangga untuk mengetahui penyebab kematiannya.

Namun, bangkai yang satu lagi tidak bisa diketahui penyebab kematiannya karena telah hancur.

“Bangkai yang satu lagi sudah terlalu hancur dan tidak bisa ditemukan penyebab kematiannya,” kata Doni.

Visum tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti laporan warga terkait anjing di sekitar Sirkuit Mandalika mati secara serempak yang diduga diracun.

“Dari laporan awal dan pengamatan kawan-kawan pers, ada 7 ekor. Bangkai yang bisa kami temukan di lokasi hanya 2. Sisanya hilang dari tempat mereka terlihat sebelumnya,” jelas Doni.

Doni pun menduga bahwa kematian anjing-anjing tersebut ada kaitannya dengan unggahan di website Dinas Peternakan NTB yang berupaya mensterilkan area Sirkuit Mandalika.

“Saya menduga ada kaitan antara upaya mensterilkan area sirkuit, postingan di website Dinas Peternakan, dan matinya anjing-anjing ini,” tegasnya.

Untuk itu, pihaknya pun menyerahkan bukti-bukti awal tersebut ke pihak kepolisian agar segera bergerak untuk memeriksa dan menyelidiki kasus tersebut.

“Perlu dicatat, anjing-anjing ini tidak mati dengan seketika. Ada darah yang terhirup masuk ke kerongkongan dan bagian tubuh lainnya,” ucap Doni.

Ia mendaku, sebelum mati anjing-anjing tersebut sangat menderita dan tidak mati dengan cara yang mudah.

“Untuk meningkatkan roda pariwisata, tak sepatutnya sampai menumpahkan darah hewan yang menjadi sahabat masyarakat di sana yang selama ini hidup berdampingan dan saling menghormati,” ungkap Doni.

Sementara itu, pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel, mengatakan, pihaknya tidak setuju adanya pengendalian hewan liar saat ini sedang dipraktikkan di mana-mana. Namun pengendalian tersebut harus dilakukan dengan cara manusiawi.

“Tapi caranya tetap manusiawi, dengan menimbulkan efek sakit seminimal mungkin bagi hewan. Bukan dengan cara ugal-ugalan yang kuat mengesankan sebagai pembantaian, ketidakpedulian terhadap penderitaan hewan yang sesungguhnya juga ingin hidup,” jelas dia.

Reza mendaku, kelakuan biadab para pelaku sangat kontras dengan potret dedikasi sekian banyak orang, misalnya lewat situs crowdfunding. Pasalnya, melalui platform itu, banyak anggota masyarakat yang berbondong-bondong mencari dan memberikan donasi untuk menyelamatkan binatang-binatang yang sakit, cacat, dianiaya, ditelantarkan, dan berbagai kondisi buruk lainnya.

“Apa lagi yang melatari kebaikan orang-orang itu kalau bukan kepedulian sebagai sesama ciptaan Tuhan. Sebagaimana yang juga saya rasakan ketika masuk ke gorong-gorong air kotor untuk menolong anak kucing rumahan yang terperosok di dalam sana,” papar Reza.

Ia pun berharap pihak kepolisian mengusut kasus-kasus tersebut, yaitu terkait adanya pihak-pihak yang sudah melakukan pembunuhan sadis terhadap binatang.

“Ketentuan hukum yang digunakan adalah pasal 302 KUHP. Saya pribadi justru merasa pilu membayangkan binatang-binatang yang tak berdosa itu dibantai dengan begitu keji dan dijadikan sebagai simbol tentang kematian dalam keadaan hina-dina,” tandas Reza.

Sebelumnya, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB Khairul Akbar mengklaim, sejumlah anjing liar itu mati bukan karena diracun. Pasalnya, penggunaan racun tidak lagi diperbolehkan, bahkan racun untuk anjing tidak lagi diproduksi.

Ia mendaku, pihaknya memang berencana menghalau anjing agar tidak melintas di sirkuit Mandalika. Rencana ingin menggunakan racun, tapi tidak diperbolehkan.

“Kami kemarin memang monitor ke lokasi, kami koordinasi dengan Lombok Tengah, rencana memang mau menggunakan racun tapi kan tidak boleh. Sehingga langkah kami hanya menghalau saja agar tidak masuk ke dalam area Mandalika,” tegasnya pada wartawan, beberapa waktu lalu.

Menurut Khairul, tidak ada perintah khusus dari atasan atau Gubernur NTB terkait penghalauan tersebut. Dia mengatakan hal itu inisiatif pribadi dari pihaknya.

“Tidak ada perintah khusus Gubernur terkait itu. Kami inisiatif sendiri dari dinas untuk menghalau anjing atau hewan lain agar tidak masuk ke dalam areal,” ungkapnya.

Khairul menyebut menjelang pelaksanaan hingga kegiatan berlangsung pihaknya mendapatkan laporan ada warga digigit anjing di area parkir sisi timur.

“Memang dari pemerhati hewan itu tidak boleh diracun. Kami mendapatkan laporan di areal parkir timur,” ucapnya.

Khairul menyebut pihaknya pernah menangkap anjing sebanyak 200 ekor yang kemudian diamankan di shelter. Namun, anjing-anjing tersebut dilepas kembali karena tidak ada ketersediaan makanan.

“Dulu pernah kita tangkap 200 ekor disimpan di shelter tapi di lepas lagi karena tidak ada makanan. ITDC juga tak dapat tanggapan baik setelah mereka mengganti manajemen yang baru waktu itu. Kami pernah mau minta bantuan ITDC, tapi mereka dingin dan tidak mau beri tanggapan,” jelas Khairul.

Khairul mengatakan, sejak beredarnya kabar sejumlah anjing liar yang ditemukan mati, pihaknya belum mengambil sampel. “Tidak ada (sampel), karena jauh, kalaupun kami ke sana anjingnya sudah tidak ada mungkin. Tidak ada sampel yang diambil,” tandasnya. RUL.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 34 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tekad NTB Menuju Nol Emisi Karbon Tahun 2050

26 Agustus 2022 - 19:33 WITA

Sampah Rinjani jadi Isu Penting, Ini Jawaban Wagub NTB

14 Agustus 2022 - 21:55 WITA

Ini Peristiwa Penting 10 Muharram

5 Agustus 2022 - 18:05 WITA

Selamatkan Lingkungan Dimulai dari Rumah

8 Juni 2022 - 17:56 WITA

Sambut Hari Lingkungan Hidup, Bandara Lombok Gandeng Pemprov Bersih-bersih

4 Juni 2022 - 18:07 WITA

Cegah Abrasi Laut Sambelia, 10.000 Bibit Mangrove di Gili Petagan Mulai Berkembang

25 Mei 2022 - 17:55 WITA

Trending di Lingkungan Hidup