Berbagi Berita Merangkai Cerita

Ada Tangis dan Senyum Bahagia, Mahnim dan Dua Anaknya Tidak Lagi Tinggal di Berugaq Sekenem

42

Mahnim bersama anak-anaknya ketika diantar menuju Panti Sosial Perlindungan dan Petirahan Sosial Anak Sasambo Matupa.

MATARAM,DS-Rabu (4/11), Mahnim tidak lagi tinggal di berugaq sekenem di Desa Midang, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat . Bersama dua orang anaknya masing-masing AAR (7 tahun) dan RAF (2 tahun), ia bersedia pindah dan untuk sementara waktu menempati sebuah bangunan mungil di areal milik pemerintah provinsi yang sejuk dan luas.

 Ada dua kamar tidur, satu kamar mandi dan ruang keluarga. Ia disambut gembira Kepala  Panti Sosial Perlindungan dan Petirahan Sosial Anak Sasambo Matupa di Kecamatan Narmada, Ahim Iskandar. Mahnim Nampak tersenyum mengamati kediaman barunya.

Panti ini disebut juga rumah aman, salah satu “persinggahan” bagi Mahnm dan anak-anaknya untuk sementara waktu. Ia akan menerima bimbingan sosial dan keterampilan. Melalui panti itu Mahnim bisa meningkatkan skill sebagai pedagang, sebuah profesi yang biasa digelutinya.

Pasalnya, Mahnim sehari-hari merupakan pedagang kue serabi. Melalui usaha dagang itulah ia menghidupi kedua anaknya. Selain itu, berbagai pelayanan akan diterimanya selama berada di rumah aman, termasuk bimbingan perlindungan anak dan dari aspek kesehatan selama berada di panti. Di sana Mahnim tidak sendiri karena panti memiliki petugas yang akan berkontribusi sesuai tupoksinya.

Sebelumnya, Mahnim ditemukan kader PKSAI Lombok Barat bermukim di berugak sekenem. Ia tinggal di berugak milik umum selama dua tahun lamanya. Di atas berugak itu, janda lima anak tersebut tinggal bersama kedua anaknya yang berbeda bapak.

Karena kondisi  yang tidak layak untuk anak-anak dan keadaan ekonomi yang tidak menentu, Mahnim tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi, nutrisi dan vitamin anaknya. Sehingga, anak-anaknya berada dalam baying-bayang ancaman yang tidak kecil dan memerlukan penanganan terpadu dari Pusat Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (PKSAI).

Menurut hasil pemeriksaan tenaga kesehatan melalui posyandu di Desa Midang, RAP malah sempat didiagnosa kategori BGM = Bawah Garis Merah yang tercatat di buku kontrol KIA. Tampilan fisiknya lebih kurus dan kecil dibandingkan dengan anak seusianya. Bila hal ini tidak segera ditangani maka dikhawatirkan RAP akan mengidap gizi buruk.

Namun, dibutuhkan waktu yang tidak singkat guna melakukan pendekatan sehingga Mahnim menyatakan bersedia pindah untuk sebuah bimbingan yang berkelanjutan. Semula dia berkeras tetap tinggal di sana karena terbiasa dengan situasi seperti itu. Atas anjuran beberapa orang saudaranya, Mahnim kemudian tergerak untuk mengubah hidup diri dan anak-anaknya.

“Saya sudah siap sekarang untuk pindah,” katanya dengan yakin. Meninggalkan berugaq sekenem yang lama menjadi temannya, Mahnim dan kedua anaknya dilepas dengan haru beberapa saudaranya. Bola matanya pun berkaca-kaca.

Kegiatan itu merupakan rangkaian dari penjangkauan PKSAI Kota Mataram terhadap anak-anak yang terlantar. Mengingat anak-anaknya yang kurang terurus dari aspek ekonomi maupun kesehatan, sebagai ibu Mahnim pun akhirnya menerima penjangkauan sebagai bagian dari perlindungan terhadap anak.

Anak-anaknya sudah difasilitasi  mendapatkan pelayanan kesehatan dari Dinas Kesehatan KotaMataram.. Dia pun  difasilitasi untuk pembuatan KK dan KTP baru dan akte kelahiran bagi anaknya atas nama RAP walau dokumen itu belum diterimanya. Setidaknya, dua jenis pelayanan itu sudah diperoleh sejak bulan September sejak kasus ini mengemuka.

Sedangkan pelayanan lain yang akan diterima berupa tempat tinggal di Rumah Susun Sewa (RUSUNAWA) di Kota Mataram secara gratis. Kemudian bantuan usaha  berdagang dalam bentuk barang, yaitu etalase/rombong, BPJS dan  pendidikan anaknya. Diharapkan Mahnim bisa bangkit mengelola usaha dagangnya di seputar rusunawa.

Karena itu, selama berada di Panti Sosial Perlindungan dan Petirahan Sosial Anak Sasambo Matupa, Mahnim akan menerima bimbingan sosial penguatan keluarga dan keterampilan. Kepala panti setempat, Ahim Iskandar, mengemukakan pihaknya pun akan melayani bimbingan bagi anak-anak Mahnim mulai dari tahapan pengasuhan supaya anak-anaknya menerima hak-haknya dengan baik,

Kasi Rehsos Dinas Sosial Kota Mataram, Lalu Aulia Husnurridho, mengemukakan dalam kasus tersebut, ada keterkaitan antara ibu dan anak. Karena itu anak-anak membawa orangtuanya ikut serta berada dalam rangkaian  bimbingan secara menyeluruh karena diantara keduanya tidak bisa dipisah. Terlebih Mahnim merupakan seorang janda yang menjadi tulang punggung keluarga. Kedua anaknya sangat bergantung kepadanya setelah Mahnim mengalami perceraian baik dengan suami pertama maupun suami kedua.

Mahnim berada di rumah aman setidaknya selama dua bulan sebelum menerima pelayanan lanjutan di rusunawa. Di rusunawa dia diharapkan bisa mengelola ekonominya dengan cara berdagang. Di sana dia akan tinggal selama setahun. “Jika memungkinkan, masa tinggalnya pun bisa diperpanjang,” ujar Ridho. ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.