Menu

Mode Gelap

Dinamika · 20 Nov 2022 22:42 WITA ·

Press Trip JMSI NTB Banyuwangi-Malang (4), Kota yang Hidup, Kuliner yang Menggoda


					Press Trip JMSI NTB Banyuwangi-Malang (4), Kota yang Hidup, Kuliner yang Menggoda Perbesar

Foto : Alun-alun Kota Malang.

Berada di Malang tidak pernah melupakan Kota Batu. Walau semula Batu merupakan bagian dari Malang, keduanya masih tak terpisahkan sebagai kota yang ramai.
***
Tiket kereta dari Banyuwangi dengan tujuan Malang pada Jumat (18/11) sudah ludes terjual. Kabar itu baru diketahui sehari jelang keberangkatan menuju Malang.

Sepadat itukah arus kedatangan warga menuju Malang? Bukankah daya tampung kereta api cukup luas atau jauh melebihi bus-bus pariwisata?

Kereta dengan gerbong panjang berdaya tampung manusia ratusan orang, yang biasa melintas di Desa Remahbong Dewa, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, benar saja tidak menyisakan tiket keberangkatan selembar pun.

“Naik kereta menuju Malang harus booking setidaknya seminggu sebelumnya, ” cetus Boy Mashudi yang asal Banyuwangi.

Bisa dibayangkan betapa besarnya daya magnet kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya itu. Berbagai potensi kota berudara dingin dan sejuk itu menjadi pesona, disamping keunggulan lainnya yang menyedot pendatang. Mungkin bukan sebab agenda Pekan Olahraga Raga Wartawan Nasional (Porwanas) tahun 2022 semata.

Malang dikenal sebagai kota pendidikan dengan beberapa perguruan tinggi ternama di dalamnya. Selain Brawijaya, terdapat Universitas Muhammadiyah Malang, UIN Maulana Malik Ibrahim, Universitas Islam Malang, dan Universitas Negeri Malang, yang cukup tenar dan diburu calon mahasiswa.

Kota berjuluk Paris Van East Java itu juga dikenal sebagai kota wisata dan kota apel. Tidak mengherankan, jelang ajang Porwanas yang menghadirkan ribuan wartawan untuk berlaga dalam bidang olahraga, hotel-hotel di Malang penuh.

Jika tidak booking sebelumnya, jangan berharap akan mendapatkan kamar, terutama pada hotel di area strategis. Kenyataan itu sesuai dengan padatnya penumpang kereta api menuju Malang.

Kota sejuk nan indah ini memang menawarkan sensasi yang luar biasa bagi pengunjung. Tidak hanya tempat wisata, melainkan juga kulinernya yang kaya dengan rasa. Kekayaan kuliner itu juga membangun nuansa tersendiri bagi warga yang pernah berkunjung ke Malang.

Kuliner di Kota Malang seperti tahu campur, berbagai jenis sate dan soto geprak, bisa dijumpai di kafe hingga kaki lima. Ragam kuliner yang kaya itu membuat banyaknya pilihan bagi pengunjung. Kadang kuliner tersebut berbahan baku sederhana seperti tahu, namun sensasinya membuatnya diburu. Pun terdapat sate kelinci, bakso, rujak cingur, keripik, ketan susu, onde-onde, dan lain-lain.

“Kalau saya ke kota ini selalu mencari tahu campur, ” ujar H. Rudi. Tahu itu diracik dalam mangkuk bersama bahan lain menyerupai soto. Kuahnya mirip soto namun berasa petis udang. Hal lain adalah buah-buahan dan aneka bibit pohon bagai pecinta pertanian.

Keunggulan Kota Malang hampir serupa dengan Kota Batu yang sudah jadi kota administratif sejak 1993. Walau sudah berpisah, keduanya tidak terlupakan. Pengunjung yang datang ke Malang nyaris tak lupa menapaki Kota Batu.

Dua kota ini saling melengkapi dengan daya magnet yang luar biasa. Dampaknya, antrian pengunjung yang ingin datang ke Malang begitu panjang, sampai-sampai kereta api meninggalkan daftar tunggu warga yang tak pernah sepi.

Kenyataan Malang menjadi daftar kota yang diburu warga bukan isapan jempol belaka. Warga yang sengaja datang disebabkan berbagai keunggulan yang membrandingnya sebagai kota yang sibuk dengan beragam pesona dan beragam pilihan.

Keramaian kota ini menyentuh hingga malam hari. Disela kafe-kafe yang menggelar menu-menu menarik, alunan musik dengan penyanyi muda menambah semarak suasana Kota.

Mereka melantunkan lagu sambil menari. Para penonton turut melenggang, kemudian melempar saweran ke kotak yang disediakan seperti terjadi di jalan raya Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Minggu malam.

Barangkali ini mozaik dari bagian lain yang utama tentang Kota Malang.
***
Ditinggal kereta api yang laris penumpang, Pengurus Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) NTB mesti memutar otak untuk menjemput waktu. Pada Sabtu (20/11) pagi, perjalanan tetap dilakukan menggunakan alternatif yang melelahkan.

Dalam keadaan sumpek bersama tujuh tubuh, kendaraan APV meluncur dengan harapan bertemu kesejukan baru setelah melintasi wilayah-wilayah yang cukup dikenal seperti Situbondo, Probolinggo dan Pasuruan.

Sekira enam jam perjalanan melelahkan dari Banyuwangi, jiwa terbasuh suasana harmoni.

Pada Minggu (20/11) pagi, remaja dan orang- tua berolah raga lari dan bersepeda melintasi jalan raya kota.

Ritme Kota Malang seperti sudah terbangun selaras dengan kebutuhan penduduknya dan keperluan para wisatawan. Banyak tempat di kota ini menjadi pelabuhan kenangan, yang dipotret berulang-ulang oleh mereka yang datang. Ian

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

DKD PWI NTB Serahkan Bonus kepada Peraih Perunggu Porwanas XIII

26 November 2022 - 07:57 WITA

DPD GMNI NTB Gelar Diskusi “Strategi Pemuda Dalam Mendukung KTT G20 dan Pemulihan Nasional”

25 November 2022 - 16:33 WITA

Masifkan Penjaringan Atlit Golf Muda

23 November 2022 - 16:35 WITA

Press Trip JMSI NTB Banyuwangi-Malang (5-selesai), Porwanas XIII, Silaturrahmi dalam Laga

22 November 2022 - 06:05 WITA

NTB Ikuti Sepuluh Cabor Porwanas di Malang

20 November 2022 - 08:42 WITA

Press Trip JMSI NTB (3), Media Itu Keluarga Sendiri

19 November 2022 - 21:46 WITA

Trending di Dinamika