A place where you need to follow for what happening in world cup

4 IRT Loteng Trauma Jalani Persidangan, Pemprov Beri Pendampingan Pulihkan Mental

40

FOTO. Kepala DP3AP2KB NTB bersama Tim Psikolog dari Universitas Mataram saat menemui 4 IRT terdakwa pada kasus perusakan pabrik tembakau di Lombok Tengah. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Tim Pemprov melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) NTB mendatangi rumah empat ibu rumah tangga yang menjadi terdakwa dalam kasus dugaan perusakan pabrik tembakau di Lombok Tengah.

Kedatangan Tim Pemprov yang dipimpin langsung Kepala DP3AP2KB NTB, Hj Husnanidiaty Nurdin, guna memberikan konseling traumatik untuk memulihkan mental para ibu-ibu tersebut.

“Kami datang ini adalah murni bentuk perhatian Pemprov NTB. Yakni, ibu Wakil Gubernur NTB. Memang beliau enggak datang, tapi saya dan tim diperintah kemari (Desa Wajegeseng) karena sebelumnya sudah ada Pak Gubernur yang tampil betul-betul membela warganya,” ujar Husnanidiaty pada wartawan, Kamis (25/2).

Menurut dia, Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, sangat memahami posisi empat ibu rumah tangga itu adalah perempuan desa yang lugu. Tentu bisa dibayangkan kondisi mental mereka ketika sudah berurusan dengan aparat penegak hukum.

Mereka pasti mengalami trauma karena sudah menjalani penahanan di penjara yang berbeda, yakni penitipan oleh jaksa di sel tahanan Polsek Praya Tengah dan di Rumah Tahanan Praya.

“Penahanan di dalam penjara itu membuat mereka harus menangis setiap hari. Ini bisa kami rasakan secara langsung,” tegas Husnanidiaty.

Oleh sebab itu, DP3AP2KB NTB datang langsung ke rumah empat ibu rumah tangga itu untuk memberikan konseling traumatik. Tindakan itu dilakukan bersama dengan dua psikolog dari Universitas Mataram yang memang sudah menjalin kerja sama.

Terlihat, dua orang konselor tersebut secara tertutup berbicara langsung dengan para terdakwa terkait dengan kondisinya dan memetakan permasalahan untuk kemudian diberikan jalan keluarnya.

“Jadi, DP3AP2KB NTB selaku pembantu gubenrur dan wakil gubernur diarahkan untuk memastikan kondisi mereka dan menyiapkan pendamping (konselor),” ungkapnya.

Mantan Kadis Pemuda dan Olahraga NTB itu menyatakan, pendampingan yang dilakukan pihaknya, tentu tidak bisa satu kali, tapi dilakukan sampai kondisi mental mereka betul-betul pulih. Apalagi, para ibu-ibu ini akan masih harus berhadapan dengan sidang-sidang di Pengadilan Negeri Praya.

“Selama proses sidang, mereka perlu pendampingan. Saya melihat teman-teman pemerhati perempuan dan lembaga swadaya masyarakat serta teman-teman yang bergabung di pengacara sudah berhimpun untuk bersama-sama memberikan pendampingan,” tandas Husnanidiaty.

*Trauma

Terpisah, NR (38), salah seorang terdakwa mengaku sangat trauma karena sudah merasakan ruang penjara bersama anak balitanya.

“Tidak saya sangka-sangka, saya kira tindakan yang kami lakukan akan menjadi kebaikan ternyata tembus penjara,” kata NR sambil menitikkan air mata.

Ia menceritakan bagaimana rasanya berada di dalam ruang tahanan Polsek Praya Tengah bersama tiga rekannya serta tiga orang anak balita.

NH menjalani masa penitipan tahanan oleh Kejaksaan Negeri Praya di sel tahanan Polsek Praya Tengah selama dua hari. Setelah itu dipindah ke Rumah Tahanan Praya, menjelang persidangan di pengadilan.

Di dalam ruang tahanan polisi berukuran relatif kecil tersebut, NH mengaku sangat tersiksa dan tidak bisa tidur semalaman karena mengurus anak balitanya yang sering menangis. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

Lewat ke baris perkakas