Berbagi Berita Merangkai Cerita

4 IRT Ditahan di Lapas, Balita Ikut Serta, Puluhan Pengacara Siap Membela

46

FOTO. Tim kuasa hukum Keadilan Untuk IRT, Ali Usman Ahim (dua kanan) didampingi tim pembela IRT asal Wajageseng saat memberikan keterangan pada wartawan. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Sekira 50 orang pengacara yang bergabung dalam Tim Keadilan untuk IRT memberikan pendampingan hukum pada empat orang Ibu Rumah Tangga (IRT) asal Desa Wajegeseng, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah. Empat IRT itu ditahan dengan tuduhan melakukan pengerusakan dengan melemparkan batu ke gedung milik pengusaha tembakau.

Simpati atas penderitaan 4 IRT juga mengalir dari berbagai kalangan disejumlah grup Whatsapp. Diantaranya, para praktisi, pegiat perempuan, NGO, akademisi dan elemen lainnya.

“Sampai tadi, sudah ada sekitar 50 orang pengacara yang sudah menyatakan kesiapan untuk ikut dalam gerakan ini,” kata koordinator Tim Keadilan Untuk IRT, Ali Usman Ahim, dalam siaran tertulisnya, Sabtu (20/2) di Mataram.

Menurut Ali, sebagai langkah awal, pihaknya sudah mulai turun melakukan investigasi, mengumpulkan keterangan yang dibutuhkan dari para pihak terkait.Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kronologis kejadian serta duduk persoalan sesungguhnya yang terjadi.

“Selain menjenguk empat IRT di Rutan Praya, kami juga sudah menemui pihak keluarga, serta melakukan olah TKP di lokasi kejadian kasus dugaan pengerusakan yang menjadi dasar kasus hukum tersebut,” ujarnya.

Ali mengungkapkan, pihaknya berencana mengajukan permohonan Pra Peradilan terkait kasus tersebut. Persetujuan kuasa hukum dari pihak keluarga para IRT terkait rencana itu, saat ini tengah diurus.

“Karena ini berkaitan dengan kasus hukum, tentu langkah-langkah yang akan ditempuh sesuai dengan ketentuan hukum yang ada,” tegasnya.

Sekretaris DPD Gerindra NTB yang juga mantan Direktur Eksekutive Walhi NTB ini menuturkan, tergeraknya semua pihak membantu para IRT sebagai bentuk gerakan moral dan kemanusiaan.

Sebab, kasus yang membelit para IRT tersebut aneh sampai harus diproses hukum. “Harusnya, langkah-langkah restoratif justice yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Tanpa harus melalui proses hukum. Apalagi penyebabnya hanya persoalan sepele,” tandas Ai Usman.

Sementara itu, Apriadi Abdi Negara yang juga Ketua LBH PENCARI KEADILAN menegaskan bahwa hukum dibuat untuk menghadirkan rasa keadilan bagi masyarakat. Bukan malah untuk melanggengkan penindasan.

“Kalau penegakan hukum model seperti ini, jelaslah tidak berkesesuaian dengan tujuan penciptaan hukum itu sendiri,” kata dia.“Ini ada ibu yang anaknya sedang sekarat harus ditahan. Ada juga yang terpaksa harus membawa serta anaknya yang masih Balita ikut ke penjara. Dimana rasa keadilan dan kemanusiaan itu?” sambung Apriadi sambil bertanya dengan nada prihatin.

Hal itulah yang kemudian menggerakkan hati berbagai elemen masyarakat di daerah ini. Untuk membantu upaya penyelesaian terhadap kasus yang menimpa empat IRT beserta keluarganya tersebut.

Dua di antara IRT itu memiliki anak balita yang usianya sekitar 1 tahun dan 1.5 tahun akhirnya ikut bersama ibunya yang dituduh melakukan pengerusakan gudang rokok dengan cara melempar batu.

“Dan setelah kami olah TKP sama sekali tidak kami temukan ada kerusakan, pelapor terlalu mengada-ada dan membual mengenai kerusakan yang timbul akibat perbuatan ke 4 IRT tersebut. Saya tidak habis fikir apa yang menjadi dasar pertimbangan obyektif pihak jaksa sehingga menahan mereka, dan kenapa penyidik seperti memaksakan perkara diproses,” tandas Apriadi.

Adapun nama-nama Ibu Rumah Tangga yang ditahan itu yakni, NH (38), Ma (22), Fa (38), dan Hu (40). Mereka merupakan warga Dusun Eat Nyiur Desa Wajageseng Kecamatan Kopang Loteng dan mereka ini diancam pasal 170 KUHP ayat 1, ancaman pidana 5 sampai 7 tahun kurungan penjara. RUL

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.