BSK Samawa

Berharap Selong jadi Kota Anggur, Begini Potensi yang Dirasakan Petani

Selong,DS-Budidaya tanaman anggur menggeliat di Kabupaten Lombok Timur menyusul mencuatnya performa anggur impor belakangan ini. Bahkan petani anggur setempat bertekad menjadikan Selong sebagai Kota Anggur.

Antusias warga berkebun anggur tidak lepas dari nilai jual yang tinggi. Sebutlah potensi anggur yang bisa dinikmati hasilnya tidak sebatas buah melainkan juga bibitnya.

Salah seorang petani anggur menyebut harga perbibit bisa mencapai Rp 120 ribu untuk ukuran standar. Sedangkan untuk yang sudah berbuah bisa bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Permintaan bibit anggur itu sendiri tidak hanya datang dari Lombok melainkan juga dari Pulau Sumbawa. Fakta ini menjadi peluang bisnis yang terus digarap mengingat anggur menjadi buah primadona. Hal inilah yang membuat petani anggur kini memiliki komunitas sendiri yang menyepakati beberapa hal diantaranya terkait harga bibit yang standar.

Peluang bisnis anggur impor diakui salah seorang petani anggur dari Suralaga, Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur, Mamiq Muhrim. Pasalnya, tidak hanya buah, batang anggur pun bernilai ekonomi setelah dijadikan bibit.

Ketika dilakukan pemangkasan untuk pembuahan misalnya, batang batang anggur itu tidak dibuang akan tetapi dikembangbiakkan menjadi bibir bernilai jual tinggi. Sedangkan harga anggur impor sendiri untuk sekilo bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

Berdasarkan hasil bertani anggur yang dilakoninya, Muhrim mengaku sudah memiliki ribuan bibit yang bisa dijual. Peminatnya tidak hanya datang dari Pulau Lombok melainkan juga dari Sumbawa. Bibit anggur meliputi jenis Ninel, Everes, Transfigurasi, Taldun, dan lain-lain. Bibit tersebut sangat cocok untuk iklim di daerahnya.

Dengan cita rasa yang manis, keberadaan bibit anggur itu sangat menarik perhatian para penyuka anggur yang ingin menjadikan halaman rumahnya lebih indah. Dengan kemudahan dalam bermedia sosial, akses mencari penyuka anggur pun menjadi ringan.

Sebagai bukti, ketika pihaknya menayangkan kebun anggurnya yang sedang berbuah diatas lahan tiga are melalui media sosial, warga berbondong-bondong datang ke kebunnya di Desa Suralaga setelah terlebih dahulu mengontaknya. Dengan harga Rp 55 ribu sekilo, penggemar anggur dengan mudah merogoh koceknya.

“Ini tergolong murah karena di pasar harga anggur sekilo seperti Ninel mencapai Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu,” ujar Maya, salah seorang konsumen anggur yang langsung memetik anggur dari pohonnya.

Bagi Muhrim, budidaya anggur yang dijalaninya selama 1,5 tahun sudah memberi keuntungan yang tak kecil. Ia menyebut mudal membuat para-para senilai Rp 13 juta sudah tertutupi. Bahkan modal itu tertutupi hanya dengan setengah dari hasil panennya. Sisa panen dengan ratusan dompol anggur menjadi keuntungannya saja.

Karena itulah ia merasa yakin bercocok tanam anggur sebagai peluang menjanjikan mengingat dengan lahannya yang terbatas sudah bisa menghasilkan rezeki yang tidak kecil.

Di areal yang sudah dipagar keliling itu, Muhrim terus mendalami bercocok anggur impor dan pelan pelan meninggalkan pekerjaannya semula sebagai pedagang spare part sepeda motor.
Ia pun berharap kedepan Selong sebagai ibukota Lombok Timur bisa menjadi Kota Anggur sebagai salah satu ikon yang bisa diharapkan menjadi potensi pendapatan masyarakat. ian

Facebook Comments Box

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.