Berbagi Berita Merangkai Cerita

13 Pasien Covid-19 NTB Meninggal Tanpa Penyakit Penyerta

938

MATARAM, DS – Kasus kematian karena Covid-19 di NTB patut menjadi perhatian semua pihak mnyusul angka kematian mencapai sebanyak 43 orang. Langkah melakukan pelonggaran menuju New Normal yang kini mulai dilakulan oleh para pemda di kabupaten/kota di NTB, seyogyanya benar-benar dikaji secara cermat.

Data Gugus Tugas Pengendalian Covid-19 NTB hingga Kamis malam (18/6) mencatat adanya tambahan sebanyak 14 kasus baru terkonfirmasi positif. Selain itu, ada sekitat 19 tambahan sembuh baru.

Sehingga, jumlah pasien positif Covid-19 di NTB mencapai sebanyak 1.022 orang, dengan perincian 695 orang sudah sembuh, 43 meninggal dunia, serta 284 orang masih positif dan dalam keadaan baik.

Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi mengatakan, dari total sebanyak 43 orang pasien yang meninggal itu, sebanyak 13 pasien meninggal tanpa penyakit penyerta.

“Umumnya, mereka meninggal itu gejala yang dominan adalah gejala penyakit saluran nafas, seperti sesak nafas. Sehingga, kita simpulkan, mereka meninggal murni karena virus Corona,” ujarnya menjawab wartawan dalam pesan Whatsappnya, Jumat (19/6).

Menurut Dokter Eka, tren kasus pasien meninggal tanpa komorbid atau penyakit penyerta. Yakni, murni karena virus Covid-19 harus menjadi kewaspadaan semua pihak.

”Pokoknya, harus tetap hati-hati karena rasio 30 persen yang meninggal itu tanpa ada komorbidnya,” katanya.

Mantan Kadis Kesehatan Lombok Tengah itu tak menampik, jika sebagian besar pasien meninggal merupakan kaum lanjut usia dan punya penyakit bawaan.

Meski demikian, jika merujuk tipe maka hal itu layak dicemati lebih detail. Hal ini, karena kasusnya cukup mengkhawatirkan.

Dari total sebanyak 43 pasien meninggal hingga Kamis malam (18/6) itu, tercatat sebanyak 13 orang di antaranya meninggal tanpa penyakit komorbid. Mereka meninggal murni karena virus Korona. ”Jadi yang muncul hanya gejala Covid-19, kita tidak menemukan dia hipertensi atau TBC,” tegas Dokter Eka.

Kemudian 18 orang pasien meninggal dengan komorbid tunggal, mereka hanya memiliki satu penyakit penyerta seperti diabet, jantung coroner, dan kanker. Sedangkan 10 orang lainnya meninggal dengan banyak penyakit komorbid. Misalnya punya penyakit darah tinggi disertai gula darah, kanker, atau TBC.

Selain itu, jika dilihat dari usia pasien meninggal, 23 orang kaum lansia, usia di atas 50 tahun, tiga orang bayi, sisanya 15 orang merupakan orang dewas, usia 20-50 tahun. ”Angka kematian terbanyak terjadi di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat,” tandas Dokter Eka.

Belum New Normal

Terpisah, Akademisi Universitas Mataram (Unram) H dr Hamsu Kadriyan mengingatkan, agar pasien Covid-19 tanpa gejala (OTG) di Kota Mataram harus diwaspadai. Dari 381 pasien positif, sekitar 67 persen pasien OTG.

“Pasien OTG ini yang bahaya. Ditubuhnya ada virus yang bisa menularkan ke orang lain,” ujarnya.

Dokter Hamsu menegaskan, Pemkot Mataram belum bisa menerapkan new normal. Jika pergerakan masyarakat tidak bisa dibatasi, maka jumlah kasus positif akan terus bertambah. “Tak hanya pemerintah, harus ada kesadaran masyarakat,” tegasnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Unram itu menjelaskan, penularan Covid-19 sangat cepat. Satu orang pasien bisa menularkan kepada 15 orang. “Kalau orang yang imunnya kuat mungkin tidak apa-apa jika ditularkan. Tapi bagaimana kalau yang ditularkan itu lansia (lanjut usia) dan orang yang ada penyakit penyertanya,” jelasnya.

Menurut Dokter Hamsu,,pasien OTG kondisinya sehat. Namun di dalam tubuhnya ada virus. Jika OTG beraktivitas, tentu akan menularkan ke yang lainnya.“Ini sangat berbahaya bagi lansia yang usianya 56 tahun ke atas. Memang kasus kematian akibat Covid-19 sangat kecil. Namun jika pasien terus bertambah, maka pasien yang meninggal juga akan bertambah,” tandasnya. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.