Berbagi Berita Merangkai Cerita

100 Aktivis Ikuti Diskusi Publik Pamer Pancasila

17

Narasumber Diskusi Publik PAMER PANCASILA, Aurelius R.L. Teluma, SS, MA, ( Dosen Komunikasi Universitas Mataram), Dr. Eko Chrisdianto Purnomo, SH, MH.(Kepala Pusat Studi Pancasila dan Konstitusi Universitas Mataram) Sahdan, SE. (DPP GMNI Bidang Agraria).

MATARAM – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) NTB menggelar diskusi publik Pamer Pancasila di D’Datu Café, Kekalik Mataram, Senin (30/11) mulai pukul 16.30-18.30. Diskusi yang diawali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, berlangsung hangat diikuti sekitar 100 aktivis dari berbagai OKP di Mataram.

OKP yang hadir diantaranya, PMII, IMM, PMKRI, KMHDI, HMI, Ikatan Mahaiswa Papua (IMAPA) dan Kelompok Pembebasan Mataram. Tampil sebagai pemateri dosen Komunikasi Unram, Aurelius Teluma SS MA, Kepala Pusat Studi Pancasila dan Konstitusi Unram, Eko Chrisdianto, dari DPP GMNI bidang agraria, Sahdan SE.

Ketua DPD GMNI NTB, Al Mukmin menyatakan munculnya isu ideologi-ideologi lain di Indonesia untuk mengganti Pancasila dapat dengan mudah memecah belah pesatuan Bangsa Indonesia. Oleh karena itu perlu kita lakukan upaya-upaya penguatan Pancasila sebagai ideologi Negara.

‘’Sehingga kita tidak lupa dengan marwah serta sejarah Indonesia, sehingga dapat tercapai persatuan dan kesatuan dalam bernegara,’’ tegasnya

Kepala Pusat Studi Pancasila dan Konstitusi Unram, Eko Chrisdianto, mengatakan bahwa Pamer Pancasila bukan hanya dilaksanakan pada lintas mahasiswa dan pemuda tetapi juga harus menyentuh pada akar persoalan rakyat. Salah satu yang bisa dilakukan adalah investigasi sosial pada masyarakat.

‘’Perlu adanya upaya mengedukasi masyarakat terkait nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan. Kemudian yang lebih penting adalah kita tidak boleh meninggalkan sejarah dalam di dalam ideologi Pancasila yang disepakati oleh founding father kita,’’ jelasnya.

Aurelius Teluma, Dosen Ilkom Unram menerangkan sumbangsih terbesar bagi umat beragama sampai saat ini adalah Pancasila sebagai ideologi bangsa. Melalui Pancasila diajarkan untuk memegang teguh prinsip Ketuhanan dalam beragama, kemudian prinsip keadilan dalam berkehidupan sebagai sesama manusia. Oleh karena itu penguatan akan nilai-nilai Pancasila perlu terus dilakukan agar bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang menjunjung tinggi persatuan di tengah banyaknya keberagaman.

Dari DPP GMNI, Sahdan menegaskan modal utama yang harus dimiliki Mahasiswa dan kaum muda adalah kesadaran bersama pada problem inti. Perlu disadari bahwa masalah inti saat ini adalah mudah dipecah oleh isu-isu yang tidak mendasar.

Sebagai bagian kelompok pemuda, katanya perlu bersatu tanpa perlu memandang ras, suku, maupun agama. ‘’Persatuan yang kita pegang harus berpedoman pada ideologi Pancasila karena sejatinya perdebatan ideologi sudah berakhir, tinggal bagaimana hari ini kita benar-benar mengawal Ideologi tersebut dalam perjuangan,’’ ujarnya bersemangat. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.