Senin , 12 Juni 2017
Home / Tokoh / Kisah Unik Ali BD: Cara “Sang Pendobrak” Menipu Penipu
Ali bersantai di Lereng Gunung

Kisah Unik Ali BD: Cara “Sang Pendobrak” Menipu Penipu

Suatu kali, Ali dikirimi proposal, kemudian dikontak langsung investor yang mengaku punya duit Rp 370 milyar. Hal itu dilakukan sang investor setelah mengamati kegetolan Ali hendak menyegerakan pembangunan dam Pandan Dure. Investor gadungan berdalih akan membantu dalam soal ini. Tentu dalam soal pendanaan.

Janji pertemuan pun dilakukan. Bagi Ali, investor apapun harus bonafid. Karenanya, biaya pertemuan yang berlangsung di Jakarta itu harus ditangggung sang investor, baik menyangkut transportasi, penginapan, dan lain-lain. Nampaknya, investor setuju saja karena punya maksud lain.

Di sebuah hotel di Jakarta, pertemuan dilakukan. Di sana, Ali berhadapan dengan empat orang “calon investor” yang berpakaian rapi dengan membawa map dan tas yang menandakan seorang yang cukup bonafid. Saat itu, tidak ketinggalan desain dam Pandan Dure yang konon “dicuri” dari Dinas PU pun dibawa sang penipu — seakan-akan menguasai betul permasalahan Lotim.

Dalam pertemuan tersebut, Ali santai dengan bekereng. Terjadilah tanya jawab.

Awal mulanya Ali menanyakan alamat mereka. Nah, investor gadungan kemudian memberikan kartu nama. Menerima sebuah alamat dengan nomor teleponnya, tanpa ba-bi-bu, alamat yang ditunjukkan tersebut langsung dikontak. Sialnya, tidak ada sesuatu yang menandakan bahwa rumah itu milik orang yang mengaku investor tadi.

Sang calon investor mulai gelisah. Untuk menghilangkan kegugupan, sekaligus memberikan keyakinan baru, investor gadungan mengeluarkan kartu nama lain dari dalam dompetnya. Alamat kedua yang diberikan nampak sangat ganjil. Terlalu banyak gang yang harus dimasuki. Bagi Ali, ini sesuatu yang mencurigakan. Kantor yang penuh dengan gang tidaklah menunjukkan bonafiditas calon investor dengan dana milyaran.

Pertanyaan gencar dengan nada tinggi kemudian dilontarkan Ali. kali ini menyangkut asal dana yang hendak ditanamkan, apakah berasal dari Jerman, Belanda, Jepang, Singapura, Malaysia, atau dari sebuah bank di Indonesia. Sang calon investor mulai salah tingkah. Mereka khawatir, cemas, gelagapan tak bisa menjawab dan mencoba menutupi pembicaraan ke arah itu.

Tapi pada saat itu juga Ali ingin bertemu dengan investor yang sesungguhnya, dimana dan siapa orangnya. Mereka kemudian berdalih bahwa itu semua bisa dilakukan tanpa kontak langsung dengan pemilik modal miliaran itu. Ali balik marah dengan mengatakan bahwa nantinya ia akan berurusan dengan pemilik modal, sehingga sejak awal harus bertemu dengannya.

“Nanti saya berhitung bukan dengan Anda, ya!” katanya.

Mendengar pernyataan Ali, empat sekawan itu merasa tidak akan bisa lagi mengelabui Ali. Niat mereka sesungguhnya adalah agar bisa menerima uang muka Rp 750 juta lewat imig-iming pinjaman Rp 370 milyar. Namun aksi penipuan itu gagal total. Tidak hanya gagal, sang investor mungkin pusing karena sudah keluar kocek mendanai transportasi dan akomodasi Ali selama di Jakarta.

“Mereka ini beroperasi dengan sasaran bupati-bupati baru,” cetus Ali. Nah, walau Ali belum lama menjadi bupati, daya kritisnya sudah terasah bertahun-tahun.

“Mereka bubar begitu saja begitu mengetahui bahwa saya tahu mereka penipu,” ujarnya. R.RABBAH

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

CERITA UNIK ALI BD : KEMBANGKAN PERSAUDARAAN

Membangunkan Lotim menggunakan beberapa pendekatan, yakni nilai-nilai agama. Bagi Ali, nilai-nilai Islam adalah kekuatan yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *