Senin , 11 Desember 2017
Home / Seni Budaya / KEARIFAN SUKU SASAK DALAM MEMBENTUK JATI DIRI BANGSA DALAM KONTEKS PENDIDIKAN DAN PERLINDUNGAN ANAK Oleh : L. Prima W Putra
Gendang Beleq Desa Songak

KEARIFAN SUKU SASAK DALAM MEMBENTUK JATI DIRI BANGSA DALAM KONTEKS PENDIDIKAN DAN PERLINDUNGAN ANAK Oleh : L. Prima W Putra

JATI DIRI BANGSA SASAK
Lombok yang dalam bahasa Sasak bermakna lurus merupakan sebuah simbul yang diharapkan agar masyarakatnya mengintfikasikan dirinya dengan sifat yang jujur dan istiqomah. Dalam sebuah tulisan kuno berbahasa kawi tentang Pulau Lombok dikatakan LOUMBOK MIRAH SAK SAK ADI yang bermakna sutu pulau yang dihuni oleh masyarakat yang memegang prinsip dalam kehidupannya “ Menjadikan Kejujuran Sebagai Permata Kehidupan untuk Mencapai Keutamaan”. Sedang kata Sasak yang digunakan sebagai identitas suku bangsa yang mendiami Lombok secara fiosofis dimaknakan sebagai “PERSATUAN” , diruntut dari asal kata “Sak “ yang bermana satu, diawali dengan kata hubungan Sak bermakna “yang” jadi dapat dimaknakan sebagai bangsa yang bersatu dalam satu kesatuan terotorI Gumi Sasak Pulau Lombok.

SITIM NILAI DASAR; TINDIH , MALIQ, MERANG
Azas dasar dari karakter building bangsa Sasak dalam kearifan lokal disebutkan bahwa karakter utama yang harus dimiliki sebagai nilai dasar adalah : “ TINDIH- MALIQ- MERANG”. Sifat nilai dasar ini masih dalam tingkatan abstrak yang mengacu pada landasan religiusitas, IMAN-ISLAM- IKHSAN.
Tindih : Nilai abstrak yang menjadi nilai dasar adalah “TINDIH” , simbul abstrak ini tidak dapat diterjemahkan dengan padanan kata, tetapi harus dijabarkan sebagai suatu kondisi kepribadian yang memiliki komitmen dan konsistensi terhadap kebenaran, kebaikan, keindahan, dan keluhuran,. Dalam bahasa Islam konsep TINDIH ini dapat di identifikasikan dengan Insan Kamil.
Maliq : merupakan penunjang dari nilai dasar TINDIH, merupakan pantangan baik bagi individu dan kolektif. Sistim Maliq ini berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan dan ekspresinya bersifat mitis magis.
Merang : Merupakan nilai penyangga untuk membangun solidaritas sosial . Nilai ini lebih diorientasikan untuk membangun efektivitas sosial dan sekaligus merupakan mekanisme pertahanan dari berbagai bentuk strerio tipe terhadap komonitasnya.

KARAKTER “TAU SASAK” DALAM KEARIFAN LOKAL BANGSA SASAK
Selain karakter dasar di atas sebagai bentuk aplikatif dari kareakter tersebut dirumuskan dalam beberapa ungkapan dalam kearifan lokal yang kita temukan seperti :
A. TATAS TUHU TRASNA
1. TATAS : Memahami , menguasai , seluk beluk kehidupan dengan segala aspek untuk membangun kesejahteraan dan mengemban tugas sebagai khalifah di bumi. Nilai ini dalam kehidupan sehari-hari secara kualitatif diwujudkan dengan nilai-nilai seperti; tao, ceket, pergine, totos, patut, saleh, solah, dan lain-lain.
2. TUHU : Bersungguh-sungguh, tekun dan benar melaksanakan tugas dan pekerjaan sesuai dengan peran dan fungsinya dalam masyarakat . Indikator nulai ini diwujudkan dengan nilai kwantitatif antara lain sebagai berikut; pacu, pasu, genem , kereh, kencak, kenaq, paut dll.
3. TRASNA : Mengembangkan cinta kasih dalam membangun interaksi sosial. Secara kwalitatif nilai trasna ini dapat di ekspresikan dengan nilai seperti; patuh, reme, sosoh, lume..dll.

B. PATUT PATUH PATCU
1. PATUT : Menjalankan semua tata laku kehidupan sesuai dengan kepatutan yakni berdemensi regligiusitas berdasarkan perintah Tuhan Sang maha Pencipta dan menghindarkan diri dari larangannya. Begitu pula ketataatan dengan hukum kemasyarakatan dan bernegara berupa aturan adat dan aturan formal.
2. PATUH : Kehidupan dalam masyarakat yang menjaga keharmonisan dan keseimbangan . Menjaga keseimbangan dan keharmonisan dari 3 dimensi hubungan dengan sang pencipta, sesama manusia dan juga kepada alam semesta
3. PATJU : bermakna sungguh sungguh dalam menjalankan apa yang menjadi fungsi dan tugas baik sebagai hamba Allah dan Anggota Masyarakat. Istiqomah dalam melaksanakan apa yang diemban dalam tugas yang di embakan padanya dan berlaku amanah dalam semua rposes pelaksanaannya.

C. SOLAH, SALEH , SOLOH
1. SOLAH : Kepribadian yang solah atau bermakna baik atau indah mencakup dimensi keseimbangan dan keadilan. Hal ini sejalan dengan perintah agama dalam mewujudkan insan kamil yang bermanfaat bai masyarakat sekitarnya dan juga bermanfaat bagi alam lingkungan kehidupannya.
2. SALEH : Merupakan dimensi pribadi sebagai kesadaran sebagai abdi bagi Tuhan sang maha pencipta dan pemelihara dengan mewujudkan dalam bentuk “ibadah makdah” maupun “gairu makdah”.
3. SOLOH : mengimplementasikan sikap yang damai, dalam kesadaran sebagai khalifah fil ardi pemimpin di muka bumi yang berpegang teguh pada parameter keadilan dalam menentukan kebijaksanaan dalam memutuskan suatu perkara.

SISTIM ADAT DALAM BUDAYA SASAK
Sistim adat yang menata pri kehidupan masyarakat tradisional merupakan salah satu bentuk ekspresi nilai dalam rangka mewujudkan keseimbangan dan keharmonisan kehidupan. Sistim adat ini dilembagakan melalui tradisi-tradisi dan awig-awig yang memiliki konsekwensi hukum secara normatif dengan bentuk sangsi yang lebih bersifat normatif dan sosial. Implimentasi adat yang demikian menyebabkan terjadinya kekaburan antara batas adat dan tradisi . Dalam tradisi kegiatan ritual adat dikelompokkan dalam 3 golongan besar yakni ;
A. GAWE URIP : Adat yang mengatur perikehidupan individu dalam konteks sosial.
Merupakan ekspresi “pemole” (berserah) dan syukur serta doa yang berkaitan dengan daur hidup , dengan harapan “ kenyang –tilah” (kesehatan dan keafiatan) mulai dari adat sewaktu istri hamil. Anak lahir, sampai seorang melangsungkan pernikahan. Beberapa contoh tradisi dalam hal ini seperti : Bisok Tian, Talet Adiq Kakak, Ngurisan, Nyunatan, Kikir Gigi, Midang, Merariq.. dst.
B. GAWE PATI : Adat yang mengatur tata laksana mengurus orang meninggal sebagai mahluk Tuhan dan sebagai mahluk sosial. Beberapa bentuk tahapan dalam adat ini seperti : Belangar, Betalet, Rowah ; Susur Tanaq, Nelung, Mituq, Nyiwaq, Metang dase, Nyatus dan Nyeribuq.
C. GAWE GUMI : Adat yang mengatur berhubungan dengan pemanfaatan alam, baik darat, laut, sungai dan hutan, sebagai upaya menjaga kelestarian serta keseimbangan kosmik. Beberapa bentuk tradisi dalam Adat Gumi, seperti; Selamet Bumi, Gawe Gawar, Slamet Reban, Selamet Laut…dll.

Dalam aplikasi dari bentuk bentuk ritual “GAWE” tersebut ditegaskan dalam bentuk hukum dan norma adat yang dikenal dengan pembagian seperti ;
A. ADAT GAME : Hukum adat yang didasarkan dengan hukum hukum agama.
B. ADAT KRAME : Hukum adat yang didasarkan pada kesepakatan masyarakat.
C. ADAT TAPSILA : Hukum adat didasarkan pada tatanan prilaku kehidupan.
D. ADAT LUWIR GAMA : Hukum adat yang terkait dengan hubungan melestarikan sumberdaya alam.

METODOLOGIS PENDIDIKAN PRANATA DAN NATAL DALAM KELUARGA SASAK
Terdapat ungkapan “mbe lain aiq ngeleq” , artinya kemana larinya air mengalir. Ini adalah ungkapan untuk menyatakan bahwa sifat-sifat sang anak merupakan turunan dari orang tuanya. Sistim pendidikan dalam keluarga menjadi metode pertama yang diterapkan dalam keluarga sasak. Kesungguhan orang tua untuk memberi perhatian terhadap pendidikan anaknya melalui pendekatan kearifan lokal sangat menentukan karakter anak kelak. Pola pendekatan pemuliaan dan ketaludanan yang menjadi inti dari metodologi pendidikan dalam rumah tangga.

Sejak anak dalam kandungan telah mulai dididik dengan anjuran agar sang orang tua menghindari dari perbuatan yang tercela dan menghindari pertengkaran karena akan mempengaruhi pertumbuhan dan karakter sang bayi dalam kandungan. Bahkan bagi si suami tidak boleh mencukur rambut dan memotong hewan.

Pada saat melahirkan sang suami turut mendampingi istri dalam persalinan. Begitu kelahiran terjadi maka kewajiban sang suami untuk melantukan azan di telinga kanan sang bayi dan meng iqomahkan ditelinga kiri, sebagai pesan agar ia kelak menjadi hamba Allah yang bertaqwa.

Ari ari sang bayi diwadahi dalam wadah ‘Kemeq Baru” (kuali) ditutup dengan kain putih. Itu bermakna agar ia mendapatkan kemakmuran dan kesucian dalam menjalankan kehidupan. Wadah berisi ari-ari yang menjadi sumber kehidupan dalam kandungan tersebut tersebut dibenamkan dalam tanah di halaman rumah dan diberikan lampu penerang sebagai simbul bahwa rizki tersebut akan didapatkan dari bumi yang saat ini menjadi alam baru si banyi dan selalu mendapat “penerang” petunjuk/ hidayah Tuhan dalam memperolehnya.

Setelah tali puser mengering dan terlepas sang bayi kemudian disembeq diberi nama dengan nama yang baik sebagai doa dan pengharapan orang tuanya. Setiap bayi di Lombok dibuatkan “Bubus” sebagai simbul memulai kehidupannya di bumi disertai dengan “Kain Umbaq” yang ditenun secara sakral sebagai simbul hak atas perlindungan bagi dirinya.
Selanjutnya diadakan ritual “rowah bekuris” atau mencukur rambut. Upacara ini dilakukan dengan mengundang handai tolan dan tetangga untuk turut memotong rambut sebagai simbul rasa syukur dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ritual ini disertai dengan lantunan “selakar” yakni puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang nukil dari kitab AL BARZANJI. Peserta yang hadir ditempat itu diberikan simbul penyaksian berupa “kepeng selawat”, dan taburkan beras kuning sebagai simbul mengusir segala bentuk marabahaya.

Pemulian pada bayi yang suci murni tanpa dosa disetarakan sebagaimana malaikat. Ia harus dijaga dan dirawat dengan baik dengan rasa kasih sayang. Dari ras kasih sayang saat memandikan dan meninak bobokkan inilah muncul nyanyian nyanyian khas yang disebut dengan “Bedede” (Dendang bayi) yang mengandung pesan-pesan pendidikan secara simbolik.
Ketika ia telah dapat melihat dan mendengar dengan baik anak-anak diperkenalkan dengan pendengaran yang bagus dan penglihatan yang indah. Panggilan terhadap anak-anak juga dimuliakan dengan panggilan ; “Datu” (Raja) , “Aden” (singkatan dari Raden), untuk laki-laki, sedang yang perempuan dipanggil dengan julukan “Dende” (Ratu). Dalam pengajaran bahasa ketika anak-anak masih balita diajarkan dengan bahasa halus dengan maksud dia dapat terbiasa menggunakan kosa kata tersebut kelak setelah besar.

Pada usia antara 2 s/d 6 tahun anak anak laki-laki tiba saatnya di sunat, sesuai tuntutanan agama. Sunatan dengan aksud untuk menerapkan kesucian pada mereka karena dalam masa ini anak-anak diperkenalkan dengan agama. Perintah agama sunatan inipun diperindah dengan tradisi lokal yang disebut dengan ritual “Praja Besunat”, dimana anak-anak di arak keliling kampung dengan kesenian “Jaran Kamput”(patung kuda berkepala singa) dan tetabuhan gamelan pengiring.
Sejak menginjak saat 6 atau 7 tahun anak –anak mulai diantar ke lembaga pendidikan baik formal maupun informal untuk menuntut ilmu. Bagi anak anak wanita pada saat akil balig dengan ditandai dengan menstruasi saat memasuki masa remaja/gadis maka mereka menjalani ritual potong gigi, pemasangan “soweng” (anting dari daun lontar) dan pemasangan “teken nae“ (gelang kaki). Hal ini menyimbulkan agar mulai menjaga ucapan, pendengar dan tingakah laku dalam pergaulan. Karena pada saat ini masa rawan baginya dalam tradisi sasak usia ini mulai boleh di kunjungi oleh orang yang memiliki ketertarikan yang disebut dengan ‘MIDANG”.

Anak anak laki yang mulai dewasa mulai diperkenalkan oleh sang ayah cara mengelola lahan pertanian, diberikan tanggung jawab memelihara ternak di ladang pengembalaan dan berburu ke hutan. Mereka selain ilmu dibidang agriculture mereka juga dibekali dengan keterampilan membuat rumah, membuat persenjataan, menganyam serta yang tidak kalah penting juga diajarkan seni bela diri dan ilmu kedigjayaan.

Sifat persatuan dan gotong royong dalam komunitas adat begitu kental. Sikap komunal mereka mendasari hubungan sosial mereka. Tanggung jawab perlindungan dan pendidikan di emban bersama, sehingga semua wajib melindungi, Sikap “MERANG” atau solidaritas mengikat mereka secara erat. Jika seorang anak dari mereka melanggar aturan maka semua berhak untuk menegurnya , demikian juga jika ada seseorang anak terancam dalam bahaya mereka bertanggung jawab untuk melindunginya. Demikian ciri dari masyarakat adat dalam kehidupan masyarakat Sasak yang sebenarnya.

KONDISI KINI PADA PENDIDIKAN DAN PERLINDUNGAN ANAK DI MASYARAKAT SASAK
Apa yang kita lihat kini terhadap kenyataan pada perhatian masyarakat dalam rangka pendidikan dan perlindungan anak-anak di tengah bangsa Sasak. Seiring dengan melunturnya budaya dan adat Sasak yang didasari oleh prinsi komunal (Jamiiah) tergantikan dengan semangat liberal dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa saat ini, melahirkan sistim sosial yang berbeda. Kondisi kekinian yang didukung oleh gelombang ideologi kapitalisme menjadikan sistim sosial kemasyarakat menjadi gamang. Eksistensi kebudayaan lokal tergusur dengan budaya baru yang dianggap lebih moderen dan liberal. Tatanan perilaku kehidupan tidak dapat dikontrol lagi dengan mengatas namakan kebebasan berdemokrasi. Nilai moral dan sopan santun menjadi terancam oleh mode life stile yang bercorak westernisasi. Sistim pendidikan tidak mengacu pada penguatan karakter tapi hanya bertumpu pada kapasitas individual untuk penguasaan pengetahuan yang bertujuan mengekpolitasi sumberdaya alam dan pengembangan tekhnologi.

Dengan melemahnya kebudayaan lokal ini diharapkan dapat disangga oleh hukum formal yang menguat sebagai wasit dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Namun apa yang terjadi lembaga hukum dan peradilan tidak bisa melayani rakayat dengan baik hanya berpihak pada kepentingan yang mampu memberikan layanan sesuai anggaran dan bayaran. Celah celah kerentanan sosial ini kemudian dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki modal dan kekuasaan. Dan kata “perlindungan Hukum” terhadap rakyat miskin menjadi barang mahal yang didapat dijangkau oleh kondisi kemiskinan yang mendera.
Setidaknya ada 3 hal yang sangat berpengaruh dalam masalah perlindungan hak anak adalah faktor, historis, faktor kemiskinan dan faktor sistim kenegaraan.

a. Secara historis permasalahan yang dihadapi adalah karakter dari produk penjajahan yang begitu melekat dalam diri bangsa Sasak. Prilaku penjajah yang menghancurkan karakter kebudayaan yang adi luhung memproduksi sikap apatis dan cendurng kurang peduli terhadap lingkungan. Fedodalisme yang dipraktikkan menjadi membekas sehingga menjadi model dari sikap orang tua Sasak (baca; laki-laki) yang kurang dialogis, sangat feodal dan hirarkis. Sehingga sosok ayah utama dalam keluarga terkesan sebagai juru hukum yang ditakuti oleh anak-anak.

b. Faktor kemiskinan membuat kesempatan pendidikan menjadi sempit. Mereka hanya menduduki sektor sektor informal di level perburuhan. Biaya hidup dan pemenuhan gaya hidup menjadi hantu bagi keluarga, sehingga muncul stress yang hebat membuat karakter keperibadian tidak terkontrol sehingga menimbulkan kriminalitas dan asosial.
c. Sitim kenegaraan yang ahistoris dan acultural membuat bangsa ini seketika gamang dengan jati dirinya. Sistim demokrasi yang liberal sudah terlanjur di adopsi dan menjadi pilihan negara sementara adegan- adegan politik yang bermain di dalamnya semakin menjijikkan karena menunjukkan amoral. Wacana Demokrasi Pancasila yakni demokrasi yang berakar dari khasanah kebudayaan nusantara gagal dibangun atau bahkan runtuh oleh gelombang besar kapitalisme. Kita maikin tidak percaya pada negara, tidak percaya kepada pemimpin, tidak percaya terhadap masa depan, saling menyalahkan dan yang kurang imannya ada pula yang menyalahkan Tuhan Sang Pencipta.

REKOMENDASI :
1. Mendesak agar sistim politik negara mulai dibenahi sesuai dengan keperibadian budaya nusantara yang adi luhung berazaskan PANCASILA.
2. Mengupakan perbaikan ekonomi mayarakat agar memiliki keberdayaan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya disesuaikan dengan kondisi SDM dan sumberdaya lingkungannnya.
3. Merivitalisasi lembaga-lembaga adat yang berfungsi memulihkan norma-norma sosial yang terdapat dalam kearifan lokal deberikan kewenangan untuk berpartisipasi seluas-luasnya dalam menata kehidupan bermasyarakat serta difasilitasi sesuai tuntutan tugasnya oleh pemerintah.
4. Membenahi lebaga hukum dan aparatur keamanan agar lebih memiliki wawasan dan kepedulian atas perlindungan hak hak anak dengan memperlakukan mereka secara baik dan benar untuk memulihkan karakter dan kemartabatannya.
5. Memberikan pendidikan baik secara formal dan informal terhadap permasalah perlindungan terhadap anak pada semua jejang dan layanan informasi publik terhadap masyarakat luas.
6. Digalakkannya gerakan peduli anak dalam berbagai event baik secara nasional maupun lokal.

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

CERPEN : Harku; Sang Daiku KARYA Febry Hadiqotul Aini

Disini seseorang dapat menemukan kehidupan yang luar biasa. Lantunan merdu ayat suci serta adzan yang …

No comments

  1. Your comment is awaiting moderation.

    I always spent my half an hour to read this webpage’s articles or reviews
    every day along with a cup of coffee.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *