Senin , 12 Juni 2017
Home / Seni Budaya / CERPEN :Tangisan Lembain KARYA NAJMUL HUDA
tangisan lembain/LINGSARTHA

CERPEN :Tangisan Lembain KARYA NAJMUL HUDA

Angin sore berhembus pelan. Menyibak lembut gerai rambut gadis itu. Sesekali geraiannya terbang sebahu, sekedar menampakkan keindahan dirinya. Seorang gadis tampak duduk manis di atas berugaq yang berada di depan rumahnya. Gadis itu bagaikan bunga pukul sembilan yang baru mekar dengan sentuhan sinar matahari pagi. Keanggunannya pantaslah menjadi tempat berlabuhnya setiap bait nyanyian hati laki-laki. Pandangan matanya yang selalu bersinar indah, semakin menampakkan keindahannya.

Lembain. Gadis desa berusia enam belas tahun.

Dikenal seantero desa menjadi gadis tercantik di desa itu. Keindahan tubuhnya yang tak terkalahkan, dan baru mengalami pase pertumbuhan menuju babak gadis dewasa. Dan seperti kebiasaan, dimana-mana ada gadis yang baru mekar maka si gadis pun akan segera terjangkit penyakit ’Balek bembeq ’, maka pintu rumahnya pun sudah mulai dibuka untuk mengadakan satu audisi yang di tanah Lombok cukup dikenal dengan sebutan ’Midang’. Seperti itulah yang sudah mulai terjadi dengan diri Lembain saat ini.

Midang , adalah salah satu kebiasaan yang bisa dikatakan menyeluruh penuh di daratan daerah itu. Dalam acara midang inilah sebagian orang tua gadis akan dengan suka-sukanya memilah, selanjutnya memilih mana sosok pemuda yang pantas untuk ia jadikan menantu. Di satu tempat anak gadisnya akan duduk sopan sambil menemani para pemuda yang datang midang. Dan di satu tempat yang bersebrangan orang tua pun dengan leluasanya memasang kuping mendengarkan setiap visi dan misi yang dipaparkan para pemuda.

Dalam acara midang ini para muda dan mudi yang sudah saling mencintai, seringkali akan menjadikannya sebagai acara perjanjian pernikahan. Ketika para muda mudi berkeinginan untuk menikah maka itu bisa saja akan langsung dirayakan dengan mencuri sang gadis pada malam hari. Dengan demikian, janur pun akan siap bersaksi atas kedua pasang pengantin itu. Dan jadilah masalah perkawinan bukanlah hal yang sulit, melainkan telah menjadi hal yang lumrah.

*****
Saat ini, Lembain yang sudah memasuki usia gadisnya. Seperti kebiasaan malam yang terjadi di desanya, rumah Lembain jarang sepi dari kedatangan para pemuda yang datang midang dari berbagai tempat. Kecantikan paras Lembain selalu menjadi buah bibir setiap pemuda, bukan hanya di kampungnya melainkan hingga ke kampung-kampung sebelah. Dan tak heran bila Lembain selalu menjadi rebutan para pemuda.

Orang tua Lembain yang melihat keadaan itu mulai resah menanggung takut. Ia sangat takut bila anak gadisnya akan terus-terusan menjadi rebutan para pemuda. Maka dengan demikian bisa saja satu waktu anaknya akan dicuri seorang pemuda untuk dinikahinya.

Di usia enam belas tahun bukan hal yang asing bagi gadis di desanya akan nekat menikah. Dan itu bisa saja dilakukan Lembain, bila ia mau. Mengenai masalah restu orang tua akan dibicarakan di belakang hari. Sementara orang tua Lembain yang sangat mengharapkan masa depan anaknya, sangat takut bila hal itu akan terjadi dengan anak gadisnya itu. Karena seminggu yang lalu, Maryam tetangga sekaligus teman kelas Lembain dicuri pemuda untuk dinikahi. Orang tuanya yang telah susah payah menyekolahkannya pun harus rela melepas semua harapannya pada anak gadisnya itu. Itulah yang sangat ditakutkan Amaq Dolah selaku orang tua Lembain.

*****
Seiring detik waktu yang tak henti melaju. Kekhawatiran Amaq Dolah semakin tampak. Dia tak ada waktu selain memberi nasihat kepada anak gadisnya agar ia selalu berpikir jernih akan masa depannya di hari esok. Sementara Lembain, dia tak begitu mempedulikan nasihat-nasihat ayahnya. Dia malah sangat menikmati pesonanya sebagai gadis yang telah masuk perhitungan gadis tercantik. Dia mulai menentukan laki-laki mana yang akan ia terima sebagai kekasihnya. Dan diantara sekian para pemuda yang datang midang ke rumahnya, hanya satu pemuda tempat Lembain menaruh hati. Laki-laki itu cukup sempurna di hatinya.

Supar, laki-laki berusia dua puluh tahun. Laki-laki yang merasa selalu berdiri gagah. Tersebab dari sekian banyak pemuda itu, dialah yang menjadi pilihan hati Lembain. Tentu itu adalah prestasi yang cukup membanggakan di hatinya.

Supar tinggal di kampung sebelah. Dia tak pernah menapaki jenjang pendidikan. Hingga ijazah SD pun tak pernah ia dapatkan. Selebihnya ia hanya hidup urak-urakan dalam kehampaan pendidikan. Sampai sekarang ia hanya hidup menganggur, mengikuti arus zaman yang tak menentu arah. Sedangkan bagi Lembain, semua itu tak pernah ia ambil peduli meski sejatinya itu kurang pantas. Dia gadis berpendidikan, sementara Supar hanyalah laki-laki yang sama sekali tak pernah menyentuh dunia pendidikan. Namun Lembain sangat mencintainya, bahkan dengan penuh cinta dan pengorbanan.

Pagi Sabtu yang cerah, Lembain pergi ke pasar yang tak jauh dari rumahnya. Dia bertemu Supar di sana. Mereka mulai mengambil tempat yang sedikit jauh dari keramaian pasar. Selang beberapa menit keduanya mulai berpisah setelah Supar mengantar Lembain sampai pertengahan rumah.

Seulas senyuman di wajah cantik Lembain terlihat mengembang. Wajahnya semakin terlihat ayu. Ia tak pernah sebahagia itu. Apakah ada yang telah diberikan Supar saat pertemuan di dekat pasar tadi? Tapi tak ada satu barang pun yang dibawa Lembain selain senyum bahagia yang masih menghias di wajahnya.

Adzan Magrib mulai berkumandang. Lembain sudah tak tahan dengan suasana itu. Ia segera memasang mukenah putihnya. Ia mulai berangkat ke masjid yang berada di pertengahan kampung. Di Magrib kali ini orang tua Lembain sepertinya merasakan ada hal aneh, namun mereka tak mampu membaca itu.

Satu keputusan telah diambil. Seperti kebiasaan yang terjadi di kampung Lembain setiap malam Senin selalu ada Yasin-an di masjid. Lembain yang dikira mau Yasin-an ke masjid ternyata sudah mengadakan perjanjian dengan kekasihnya. Ia benar-benar nekat dalam memutuskan satu perkara berat. Seperti yang dibicarakannya tadi pagi dengan Supar, keduanya ternyata telah berencana untuk menikah malam ini. Setelah Lembain selesai shalat Isya’ ternyata Lembain tak pulang ke rumahnya. Lembain ternyata diam-diam telah mengikuti para pemuda yang telah diutus Supar untuk menjemputnya.

Selang beberapa jam Amaq Dolah dan isterinya mulai ribut mencari anak gadisnya. Setiap teman-teman Lembain ditanya oleh Amaq Dolah. Semuanya memberi jawaban yang sama, Lembain tadi pulang bersama mereka, tapi setelah berpisah mereka tak tahu. Hanya satu teman Lembain yang memberi jawaban yang terdengar cukup panas di telinga Amaq Dolah.

”Tadi Lembain pulang sama aku, tapi ketika aku hendak masuk ke rumah aku sempat melihatnya, dia berbincang-bincang dengan tiga laki-laki yang pakai motor di pertigaan dekat rumah Amaq.” Mendengar kalimat itu, darah Amaq Dolah serasa berhenti mengalir. Mukanya tampak memerah. Ia kelihatan sangat kecewa. Ia yakin, anak gadisnya pasti telah pergi menikah.

”Setan kanak no, nuq lalon merariq aran ” Amaq Dolah mengumpat marah. Ia hampir tak percaya akan hal ini. Setelah itu ia terdiam membisu, tak mampu lagi berucap sepatah kata pun. Amaq Dolah menangis perlahan, ia sungguh bersedih dengan kepergian anak gadisnya.

Malam itu, rumah Lembain dipenuhi dengan suara jerit tangis ibunya. Ia tak sanggup bila secepat itu anaknya telah meninggalkannya, meski kepergian itu tidak untuk selamanya, melainkan kepergian dekat menuju singgasana janur kuning.

Seperti itulah kebiasaan yang selalu terjadi di tengah kehidupan masyarakat Amaq Dolah. Menikah sering dianggap sebagai hal yang tidak berat. Bahkan banyak diantara mereka, gadis-gadis di desanya yang menikah dibawah umur, bahkan laki-laki pun demikian adanya. Perkawinan di usia dini sudah menjadi hal terbiasa di tempat itu. Itulah salah satu kebiasaan masyarakatnya yang sangat sulit dihentikan.

Kini harapan orang tua Lembain benar-benar telah lenyap. Anak gadis yang selama ini ia harapkan akan merubah keadaan keluarga ternyata telah hilang ditelan pernikahan usia dini. Perkara itu berawal dari tradisi midang, satu tradisi yang terlalu memudahkan lelaki mengambil gadis untuk dinikahi.

Semuanya sangat angkuh, meskipun itu adalah adat, aku membenci semua itu. Hati Amaq Dolah sekali waktu tersayat kebencian yang dahsyat. Tak ada yang mampu ia lakukan selain ia harus merestui pernikahan Lembain, meski itu sangat mengecewakannya. Kini harapannya pada Lembain benar-benar telah menjadi harapan yang semu.

*****
Amaq Dolah tampak bersedih di tengah kerumunan orang-orang di sekelilingnya. Kini ia tengah berada di acara akad nikah Lembain dan Supar. Acaranya berlangsung di masjid besar di kampung Supar. Jelas sekali acara itu meyiratkan paduan kebahagian dan kekecewaan di hati sang anak dan sang ayah. Lembain yang sudah berada di depan Ayahnya selalu menampakkan rona wajah kebahagiaan, sementara ayahnya sungguh tak bisa menahan jerit hatinya yang semakin mengamuk, itu disuratkan lewat sebutir air matanya yang terjatuh tanpa ia sadari.

Selang beberapa menit acara akad nikah pun usai. Sebelum Amaq Dolah pulang, Lembain sempat menghampiri ayahnya. ”Amaq, maafkan Lembain telah lancang mengambil keputusan ini. sekarang Lembain hanya minta restu dari amaq. Doakan anakmu semoga anakmu bahagia selalu. Ingat, demi kebahagiaan anakmu, amaq” suara Lembain terdengar pelan diiringi air mata yang mengalir perlahan.

”Anakku, meski aku sangat kecewa dengan semua ini, sekarang tiada lagi yang kuharapkan darimu selain kamu harus berjanji untuk menjadi isteri yang baik terhadap suami. Berbaktilah kepada suamimu dengan sebenar-benar bakti. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu anakku. Dan pesan ayah, jangan pernah kau hadirkan kata-kata penyesalan di kemudian hari, ingat ini anakku…” suara Amaq Dolah sangat berat, sangat sedih. Dengan berlinang air mata Lembain pun tak kuasa menahan kata-kata yang dengan sedih terlontar dari bibir Ayahnya. Ia langsung memeluk ayahnya. Sempat di dalam hatinya, ia merasa menyesal. Ia merasa telah menjadi anak yang durhaka dan berdosa pada ayahnya dan ibunya. Kini air mata yang terus terurai telah menjadi saksi bisu peristiwa itu.

*****
Sekian waktu berlalu, tangisan dan kebahagiaan telah menjadi senyawa yang akan selalu mengiringi hidup manusia. Dan dunia pun sepertinya telah lebih banyak menceritakan kesan hidup yang dihiasi dengan genangan air mata. Dan ternyata itu pun harus terjadi dengan Lembain di sepanjang perjalanan kisah rumah tangganya, alur kisah hidup yang ia pilih sendiri di belakang hari lalu.

Lembain kini telah memiliki seorang anak. Pada saat kelahiran anak pertamanya, ternyata mulai hadir kisah hidup yang berbeda. Hari-harinya tak jarang dihiasi dengan genangan air mata, tersebab hatinya yang tak jarang tersentuh duka. Suaminya yang hanya seorang pengangguran benar-benar telah membawanya menghadapi bahtera rumah tangga yang begitu deras.

Bila dulu Lembain mengenal Supar cukup sempurna meski di sisi lain penuh kekurangan, namun sekarang justru ia dengan semampunya mencari tahu kedalaman arti dari kehidupannya yang sesungguh menderita. Meski Lembain masih mampu menahan segala jeritan hatinya, namun hatinya takkan pernah mampu menampik penyesalan yang mulai hadir itu.

Lembain tak jarang menangis meratapi hidupnya yang semakin pedih. Suami yang pada awalnya begitu ia banggakan, kini telah berubah menjadi singa yang selalu haus akan cinta. Meski Supar telah memiliki Lembain, namun kebiasaan midangnya ternyata diam-diam tak pernah ia hilangkan sampai sekarang. Saat ini Lembain merasa bahwa Supar masih haus akan cinta perempuan lain, bahkan hidup seperti tak pernah menanggung beban, tak pernah ada keluarga. Itulah dua hal yang membuat hati Lembain selalu terkuras cemburu dan kepedihan.

Dengan hanya bermodal cinta, tidak mungkin kebahagian itu akan bisa diraih begitu saja. Karena untuk membangun sebuah rumah tangga, tidak cukup hanya dengan saling mencintai.Suami isteri harus sama-sama memiliki rasa saling memahami dan menghargai. Ketika rasa cinta telah disertai dengan sifat saling memahami dan saling menghargai, disanalah kebahagiaan itu akan lahir menghiasi kehidupan rumah tangga yang harmonis penuh kedamaian dan kebahagiaan.

Seharusnya dulu Lembain benar-benar berpikir tentang keputusan yang dambilnya. Ketika ia memilih masuk ke lembah pernikahan usia dini, seharusnya ia bertanya pada dirinya, bahwa pantaskah laki-laki itu menjadi pendamping hidupnya? Dan siapkan ia akan menerima segala resiko pernikahan usia dini?

Bagi Lembain, ia merasa saat ini sangat tak pantas bila ia akan menyesali semuanya. Meski sejatinya ia sudah berada di ambang penderitaan yang sungguh rumit. Ia selalu ingat akan kata-kata ayahnya waktu itu, ketika ayahnya dengan terpaksa melepas kepergiannya untuk berlayar di bahtera kehidupan rumah tangga. “Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, anakku. Dan pesan ayah, jangan pernah kau hadirkan kata-kata penyesalan di kemudian hari, ingat ini anakku” sangat lekat di hatinya pesan ayahnya saat itu.

*****
Pagi terlihat cerah. Pemandangan di lapang langit tampak indah dengan hiasan awan-awan yang tampak selalu tersenyum bahagia dalam gumpalan-gumpalannya. Angin pun berdesir pelan menjadikan suasana sangat indah. Namun suasana indah itu lenyap seketika dengan suara jeritan-jeritan histeris. Suara itu terdengar persis di rumah Lembain. Jeritan itu sampai menembus dinding rumah dan sampai terdengar ke luar sana. Apakah yang terjadi dengan keluarga itu?
”…pergi kau wanita sialan. Jangan pernah kau kembali lagi ke rumah ini, aku menceraikanmu…” suara Supar terdengar melengking sangat keras setelah selesai memukul-mukul tubuh Lembain.
Lembain yang mendengarkan kata-kata itu, sepertinya tidak percaya. Ia hanya mampu menangis sambil menggendong anaknya yang ikut menangis, seolah anaknya juga sedang ikut dalam pedebatan dua hati itu. Ia lemah, sangat lemah. Jiwa gadisnya yang dulu begitu tegar sekejap itu telah remuk dihempas kepedihan. Lembain mendadak tak kuasa meraba belah hatinya. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan. Sungguh pedih dan perih hati Lembain.

*****
Seminggu kemudian, Lembain telah kembali ke rumah orang tuanya. Di sana ia hanya menghabiskan hari-harinya dengan isak tangis. Kini dia pun sudah mendapatkan gelar ’bebalu nganak sekeq ’, satu gelar yang terkadang amat malu diceritakan, namun ternyata gelar itu tidak asing di tengah kehidupan perempuan desa. Hati Lembain semakin tersayat luka yang mendalam.

Benci dan cinta, dua hal yang berbeda namun saat ini keduanya sedang beramuk rasa dengan dahsyatnya di kedalaman hati Lembain. Dusta bila ia akan mengatakan sudah tak mencintai Supar. Justru rasa cinta itu semakin memburu di hatinya. Lembain benar-benar menderita. Sungguh menderita. Namun siapakah yang pantas dipersalahkan? Apakah Supar manusia yang tak punya nurani itu? Untuk saat ini tak ada yang perlu dipersalahkan. Hanya saja semua ini sejatinya akan tetap kembali ke masa lalu Lembain.

Semua ini akan kembali ke masa lalu Lembain. Masa lalu yang telah ia warnai dengan menghambakan dirinya pada bisikan nafsu yang selalu berdalih pengorbanan terhadap cinta. Iya cinta terhadap Supar, pujaan hatinya saat itu. Saat itu ia sanggup berkorban demi Supar dengan mengambil keputusan menikah, maka saat ini ia pun akan tetap dituntut untuk menerima akibat dari semua itu.

Saat itu, ia telah berjanji pada ayahnya untuk tidak akan menyesal, maka saat ini hal itu haruslah mampu Lembain rayakan. Namun justeru janji itulah yang semakin ia sesali. Ia merasa sangat berdosa.
“Mengapa baru sekarang aku berpikir tentang masa depanku, mengapa tidak saat itu…” Lembain merapa belah hatinya yang pedih. Ia menangis. Sangat sedih tangisan itu.

Semestinya kisah yang berujung tangisan dan sesal, janganlah sampai akan kembali diceritakan. Seperti kisah tangisan Lembain dalam kisah ini. Perlu direnungi, bukankah takdir itu berada dalam kegelapan. Karenanya semua manusia selalu dituntut untuk pandai-pandai memilih jalan hidup. Meskipun Tuhan sang pengatur sekenario hidup, namun Tuhan tetap akan memberi pilihan kepada hamba-Nya untuk menentukan jalan mereka masing-masing. Tinggal manusialah yang harus memilih. Kemudian Tuhan yang Maha menentukan. pemenang II LCCP 2015

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *