Selasa , 13 Juni 2017
Home / Seni Budaya / CERPEN : Harku; Sang Daiku KARYA Febry Hadiqotul Aini

CERPEN : Harku; Sang Daiku KARYA Febry Hadiqotul Aini

Disini seseorang dapat menemukan kehidupan yang luar biasa. Lantunan merdu ayat suci serta adzan yang bersahutan, menyadarkan jiwa-jiwa lelah dan latah. Di sinilah harapan seorang akan menemukan benih-benih ketenagan jiwa. Di sini pula tempat bertemu orang-orang relegius, yang keluar masuk masjid untuk mendapatkan pencerahan. Tempat yang mengisahkan banyak ulama besar yang biasa disebut Tuan Guru. Mereka disanjung karena kharismanya. Juga dipuji karena aksen dakwah yang kental dengan bahasa Arabnya, serta keloyalan jamaah yang berbondong-berbondong hadir dalam setiap pengajiannya. Inilah Lombok. Pulau yang banyak dinisbatkan sebagai pulau dengan julukan “pulau seribu masjid” .

Di sudut sempit pulau inilah kisah ini berawal. Sejatinya, Ia bukan seorang idola kampung, bukan pula seorang yang tersohor karena pengaruh atau kekuasaanya. Ia bukan juga seorang Tuan Guru dengan sorban, kitab kuning ataupun jubah panjangnya. Ia juga bukanlah Pahlawan dengan sederet pangkat, gelar ataupun bintang jasa. Bahkan di kampung yang tidak memiliki sudut ini, namanyapun tak terngiang-ngiang setenar publik figure.

Ia adalah seorang anak buruh tani. Kehidupan keluarganya bergantung pada upah harian ayahnya yang bekerja di ladang atau sawah tetangga. Karenanya, tak banyak yang menyangka, jika setamat ia dari sebuah madrasah swasta di desanya kala itu, ia dapat melanjutkan sekolahnya ke Mekkah. Sebuah negeri yang menjadi sumber ulama besar di pulaunya.

Dialah Har. Jika ditanya nama panjangnya, dia akan melafalkan Hardiman dengan pelafalan tiga huruf akhir yang lumayan lama. Inaq dan amaq, panggilanya untuk kedua orang yang ia sangat hormati, memberikan nama yang sangat berarti untuknya. Sebuah nama yang selalu melekat dengan peringkat satu disetiap akhir semesternya. Wajar jika kala itu, sebuah yayasan terbesar di pusat kabupaten memberinya beasiswa untuk belajar ke Mekkah.

Genap sepuluh tahun ia membentuk kematengan jiwanya di Tanah Suci ini. Kini ia telah kembali ke desanya. Tepatnya satu tahun yang lalu, sepulang dari Tanah Suci, ia telah mengabdi untuk desanya. Di bulan pertama, namanya diagungkan. Tapi bulan-bulan berikutnya, ia tenggelam dalam persepsi negatif warga masyarakatnya. Ia tampil terlalu biasa untuk ukuran orang yang telah lama tinggal di negari yang begitu sakral. Ia bahkan seringkali meninggalkan sorban dan menanggalkan jubahnya. Peci hitam lebih akrab dikepalanya ketimbang melilitkan sorban kebanggaan masyarakat desanya. Ia terlihat sama dari sudut pandang kemarin maupun sekarang. Sepuluh tahun yang lalu ataupun beberapa bulan yang lalu. Ia bahkan selalu hadir tak lebih seperti senior merangkap guru ngaji di mushallaku. Ia mengajar kami tanpa menonjolkan diri seperti seorang guru ataupun seorang tuan guru. Diskusi dengan bahasa ringan menjadi ciri dari setiap pertemuan kami. Kedekatan dengan kami seolah menambah kuat bahwa ia tak ingin diagung-agungkan sebagai guru, apalagi tuan guru. Ia sering kali memegang pundakku saat aku salah melafalkan ayat atau tak jelas pada pelafalan. Seseorang yang juga sering mendengus atas kopiyahku, lalu tersenyum menggoda nuraniku.

Persepsi atau pandangan ternyata tak selalu sama. Nyatanya, orang-orang desa di sekitarnya menyayangkan penampilannya yang dianggap tak menjaga kesan. Semangatnya bersama kami yang hanya berpusat di mushalla kecil dianggap sebagai bentuk ketidakberkahan ilmu yang begitu lama ia tuntut. Mengira perbuatan baik yang tak memberi imbalan nyata benar-benar tak bermakna. Mengira ke Makkah adalah sesuatu aktivitas pemborosan uang, ketika ia tak memperlihatkan jubah serta kopiah yang menggunung. Ketika ia tak tampil beretorika di tengah-tengah berjubelnya para jamaah.

Namun di penglihatanku, ada banyak hal yang membuat mataku tak henti terpana. Bukan ingin mengalihkan padangan dari Tuhan atau mencoba untuk berkedip darinya. Namun lebih kepada terperangah terhadap sesuatu yang ia ciptakan, yang kuanggap sungguh luar bisa. Ia bagiku tak terlihat seperti anggapan atau persepsi umum masyarakatnya. Ia terlihat bersinar tanpa aku tahu pasti alasannya. Aku hanya bisa mengambil kemungkian mengapa ia ditinggalkan serta membuat semua orang hanya tersenyum miris ketika membicarakannya..
Walaupun aku bukan saudara dekat Kak Har, namun aku memosisikan diriku sebagai seorang yang tak selera dengan guyonan nenek moyang. Di mushalla kecil ini, semuanya berubah. Ia tumbuh dan mendewasa sepenglihatanku, namun masih sederhana dan terkesan biasa-biasa saja.

“Ketika kita berubah, itu bisa saja manipulasi. Tapi ketika kita membuat suatu perubahan, itu pertunjukkan proses,” itu kata-katanya yang terlontar lalu kami tertawakan karena terlalu baku. Ia juga tertawa lalu meminta maaf dengan mengubah bicaranya menjadi lebih santai. Tak mudah tersinggung dan mau membuka telinga, itulah yang melekat dari sosok dewasa bernama Hardiman ini. Seseorang yang bahkan terpampang diingatanku dengan label, ‘jika besar aku ingin sepertinya’.

Saat-saat ia berbicara serius seperti itu membuatku merenung, melihat ia yang tertawa berbeda, kehidupan sederhananya yang ia pertahankan. Padahal tuntutan masyarakat adalah sorban dan kitab kuning serta jamaah yang berjubel. Ia hanya mau membuat pandangan yang tak maruk pada perhatian dan menyeretnya ke lembah keriya’an. Hanya mencoba membuat seseorang tidak terpaku pada ungkapan nenek moyang. Sesuatu telah membuatnya banyak sekali belajar.

Setiap ilmu yang ia berikan membuatku terpana, entah dengan berdecak tiba-tiba atau teringat menutup mulut setelah terbuka perlahan-lahan sekian lama. Entah hanya aku sendiri yang berekspresi seperti itu atau yang lainnya juga. Mungkin diluar harapan, mereka hanya menyadari bahwa nada bicara Kak Har sekarang bisa naik 1 oktaf. Dia sudah mengoreksi kegugupannya saat berbicara, dan memilih jalan untuk tidak meneggelamkan suaranya saat ia meras gugup. Itu sebuah proses perubahan yang membuatnya tampak lebih kokoh lagi.

Namun, hari-harinya tak semulus apa yang bisa aku deskripsikan tentangnya atau kesubjektifitasanku menggambarkan diri dan kehidupannya. Kak Har memiliki titik tertentu dimana langkahnya sesekali tersendat, titik lemah yang membuatnya beristirahat untuk sejenak. Saat itu adalah ketika orang tuanya ikut dibuat kesusahan dan risih mendengar gunjingan orang. Dia yang dianggap berbeda membuat ribuan pro-kontra. Saat berjalan dengannya lalu masyarakat merasa kasihan dengan hidupya, atau ada juga yang malah terang-terangan menunjukkan keidaksukaannya. Kesederhananya malah memunculkan cemoohan yang tak beralasan.

Itu adalah titik terburuk yang aku lihat dari kehidupan Kak Har. Sebuah jembatan suram yang membuat orang terlihat sangat menyedihkan. Ketika aku menyambangi rumahnya pada malam hari di tiga hari absennya di mushalla kecil kami, senyuman yang sama ditengah raut lelah yang tak tersembunyikan membuatku memikirkan sebuah cahaya terang untuk menyeretnya kembali ke musholla. Semua pembicaraan terus menekankan bahwa aku merindukan jadi jamaahnya ketika shalat, bahwa anak-anak sulit dikendalikan, dan suasana mushalla yang membosankan. Saat mengatakan itu aku mencoba menaikkan volumeku setinggi mungkin agar tak hanya ia yang mendengar, tapi semua orang yang tengah berada di rumahnya. Harapanku, mereka bisa diajak bekerjasama.

“Berhenti sekarang adalah sesuatu yang menyakitkan, kan?”
“Aku tidak tahu, yang jelas ini membosankan,” ujarnya. Seseorang yang ku kategorikan sebagai manusia terbahagia di dunia malah merasakan bosan.Itu benar-benar kondisi yang buruk.
Setelah berbincang cukup lama, kata terakhir yang kuucapakan adalah keharusannya untuk datang lagi ke musholla. Ia tersenyum sambil menggerakkan bibir mengatakan ‘doakan’ tanpa suara, lalu menepuk pundakku. Kurasa kemungkinan terwujudnya harapan itu sudah enampuluh persen sekarang.

Aku menengok ketika mendengar langkah seperti tergesa menyusulku yang hendak menarik gerbang bambu rumah Kak Har. Kutemukan wanita paruh baya menatapku dengan penuh harapan, terlihat wajah lelah yang lebih condong mengekspresikan kekhawatiran.

“Ajak dia kembali…,” ujarnya menangkap kedua lenganku. Itu adalah ibu Kak Har, wanita yang kini tengah terlihat mengusahakan kebahagian anaknya dan berhenti memikirakn hujatan orang lain, bahkan jika itu menyakitkan pikirannaya akan segera mengatakan itu hal yang tak penting. Aku mengangguk yang dibalas senyuman lega olehnya.

Besok paginya, aku seperti seorang tak waras karena tak hentinya tersenyum. Ia telah kembali. Namun beberapa hari berselang, masalah baru kembali muncul di benakku ketika kerap aku melihanya datang sangat awal dan pulang paling akhir, dengan rutinitas sebelum pulang yakni merenung di samping tumpukan Al-Qur’an. Terdiam sejenak, lalu membolak balik beberapa lembaran, melafalkannya dan seperti menerawang kembali.

Sempat dirundung ragu aku ingin menganggu aktivitanya lalu mengajukan kebingunganku. Aku tak bisa diam jika otakku berfikir liar untuk menyusup ke kehidupan orang lebih dalam. Namun pada suatu hari, dia sendirilah yang menjawab tanpa aku tanyakan.
Ia melambaikan tangannya mengkodeku untuk mendekat, membuatku cukup terkejut. Apakah terlalu kentara sikap keingintahuanku. Apakah penasaran membuat seseorang tampak konyol bahkan disaat ia tak menginginkannya. Entahlah. Ia mengajakku duduk bersila, lalu ia mulai berbicara seperti sedang berceramah, tak menyisakan ruang tanya sebelum ada tanda mempersilahkan. Aku mendengarnya kurang lebih lima menitan lalu memenggalnya tanpa ada unsur kesengajaan. Mukaku yang tampak kaku tak berekpresilah yang membuatnya berhenti berbicara.

“Apa ini cukup dimengerti?” aku terkesip, terlalu kentara bahwa sejak tadi kebingungan dan sibuk berfikir yang berimbas pada tak memperhatikan.

“Ini yang kedua…sebentar ya.”

Kali ini tak mau terlihat aneh, aku pun memperhatiakannya lebih seksama. Lalu setelah selesai menanyakan yang mana yang lebih kumengerti. Tak mau mengambil langkah gegabah, karena tak adil saat memperhatikan keduanya, aku haya punya tujuan untuk tahu apa yang ia lakukan.

Di suatu pagi, kokokan ayam menyelip diantara lantunan suci ayat Al-Qur’an sebelum adzan Subuh berkumandang. Aku terbangun dan bergegas menembus dingin beranjak ke mushalla, entah apa mimpiku semalam, tapi kakiku bergerak untuk segera bertemu dengan Kak Har .
Sebuah kebetulan atau cerita karangan Tuhan, entahlah. Aku melihat Kak Har tengah terduduk di tengah mushalla sambil menunduk membaca kitab. Aku tak berfikir akan ada seseorang di sini disaat mungkin hanya aku saja yang akan mengunjungi tempat ini, mengingat udara rasanya ingin meremukkan tulang rusukku.

Mendengar derap langkah membuatnya mungkin terusik. Ia memutar badannya ke belakang, dan lagi-lagi mengeluarkan senyuman yang sama. Ia mengakhiri ayatnya lalu menghadapku.

“Sudah lama aku tak punya teman,” ujarnya ditemani deheman kecil untuk membuka percakapan. Walaupun tak jelas, namun mungkin maksudnya mengarah kepada kondisi mushalla ini yang tak pernah jelas juga. Mungkin terkesan kasat mata sehingga tak terjamah, bahkan ketika waktu telah memanggil.

Subuh adalah waktu yang sangat sulit, dimana orang lebih mementingkan menarik selimut daripada mengambil air wudhu, karena syaitan telah membelenggu jiwanya yang masih berkata ‘baik-baik saja’ dan ‘tak apa’. Kak Har mungkin sudah menunggu teman yang ia bisa ajak membangun sebuah jamaah, tapi tak ia dapatkan setelah sekian lama. Pagi itu, aku akhirnya berdiri di belakang memosisikannya sebagai imam, berjamaah dengannya lalu pulang dengan kengantukan yang entah mengendap kemana.

Siangnya, entah dorongan dari mana aku mempromosikan kegiatan jamaahan Subuh. Mengajak teman-teman dengan segala cara untuk bisa segar lebih awal. Mengajaknya untuk tahu diri dan mementingkan ibadah daripada hasratnya. Sudah ada beberapa anak seusiaku menjadi rombongannya. Mungkin itu membuatnya terkejut terlihat dari ia yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya dengan sempat berdiri mematung sebelum menyapa kami dengan senyumannya.

Hari berikunya jamaah bertambah, dan bertambah dan terus bertambah. Sampai-sampai, shaf mushalla tak renggang lagi. Sebuah kebanggan sendiri bagaimana membuat seseorang antusis untuk ikut dalam hal kebaikan.

Untuk beberapa bulan, setidaknya dua bulan berlalu, kebahagiaan berjamaah dengan anak-anak seusiaku dapat kunikmati, sampai pada akhirnya tiba waktu di suatu pagi. Pagi itu, tiba tiba keadaan jamaah di mushalla kecilku berubah. Jamaah mushalla ternyata tak sampai satu shaf. Rumor tak sedap ternyata telah merubah segalanya. Banyak orang tua yang melarang anaknya datang ke mushalla lagi karena termakan rumor itu. Mushalla kecilku telah divonis sebagai tempat subur ajaran sesat. Pandangan aneh orang-orang tak hanya tertuju pada Kak Har, tetapi juga mengarah kepada kami yang masih eksis di mushalla tersebut. Tak jarang mereka bersuara lirih dan sinis untuk menunjukkan ketidaksukaan mereka.

Berhari-hari isolasi masyarakat terhadap Kak Har semakin kencang. Di tempat yasinan malam jum’atan, di tempat arisan ibu-ibu, bahkan sampai di tempat pengajian sekalipun, obrolan tentang ajaran sesat semakin menjadi jadi. Inaqnya KakHar pun ternyata harus mendekam di rumah sakit. Entah karena sakit alami, atau mungkin karena tak tahan menerima terpaan badai anak tersayangnya.

Tapi ini bukanlah suatu rintangan yang akan membuatnya tak datang, sekedar rumor yang akan menghilang sehari setelah disapukan hujan. Ia sudah mengalami yang lebih dari ini, ketika bukan orang lainlah yang berbicara tapi keluarganya, dan ia dapat mengatasinya. Hari ini rumor tak sedap yang tak bertuan kuyakini tak akan menggoyahkan jiwa yang tulus dan ikhlas. Kak Har kuyakini telah kuat dengan berbagai cobaan.

“Yaa, ini sebuah cobaan. Berat memang, tapi …Allah tidak akan membebankan kepada hambanya sesuatu yang tak mampu dipikulnya, ketika kita bersabar, badai ini pasti berlalu. Insyaallah”, itulah ungkapan kak Har ketika di suatu hari aku diajak berdiskusi menyikapi surat undangan debat di masjid besarku. Akupun menimpali seadanya. Yaa… benar juga kak Har, kataku seolah-olah menyemangati.

“Tapi bagaimana dengan surat ini kak Har? Apakah Kak Har akan datang?” kataku menimpalinya. Ini bagiku sebuah penghargaan, aku yakin masyarakat salah paham dengan sikap dan tindakanku selama ini. Allah telah memberikan jalan terbaik untuk penyelesaian masalah ini.

“Mari kita berdoa saja,” katanya sembari menepuk pundakku.
Pagi itu, dihari perdebatan yang dijadwalkan, aku bergegas menuju rumahya Kak Har. Kedatanganku kembali disambut senyuman yang hangat, kali ini dari kedua orang tuanya.Walaupun mungkin lupa-lupa ingat, orang tuanya menyambutku dengan sangat ramah ketika tahu aku adalah salah satu murid anaknya di mushalla. Mereka bilang Kak Har baru saja berangkat ke masjid. Tanpa banyak basa-basi, akupun pamit menyusul Kak Har ke masjid. Sepanjang jalan, pikiranku tak terarah. Jantungkupun berdetak tak menentu. Terbayang, Kak har akan melewati kerumunan cemoohan jamaah yang sudah lama menunggu sang terdakwa. Langkah kuperpanjang, dan… ternyata kegiatan debat yang dikemas dalam kegiatan pengajian desa telah berlangsung. Aku melihat Kak Har dengan kopiah hitam dan kemeja putihnya yang tengah bergabung dengan para pedakwah lainnya. Penampilannya yang terkesan mencolok karena berbeda dengan yang lainnya, membuatku sedikit terkekeh. Dia tetaplah Kak Har.

Tak terbayangkan sama sekali dalam benakku. Pengajian yang selama berabad-abad dikemas dalam model ceramah sang Tuan Guru ternyata tak tampak sama sekali. Aku seolah-olah melihat bahwa pengajian pagi itu adalah pengajian di mushallaku. Para ustad, Tuan Guru, Kak Har, dan jamaahnya berbaur dalam satu diskusi yang interaktif. Diskusi berjalan menarik karena kali ini tak ada kesan saling menggurui. Tak ada kesan garis strata antara Tuan Guru dan jamahnya. Semuanya terlihat saling berbagi ilmu dan mencocokkan pendapat masing-masing.

Aku tersenyum ketika dia keluar dari masjid setelah berpuluh-puluh menit terlena dalam kegiatan pengajian.

“Pagi yang mudah?” Ia bertanya sambil menginginkan jawaban iya. Jadi aku mengangguk saja ketika ia merangkulku untuk pulang bersama. Kekhawatiran berhari-hari yang telah mengendap di memori terdalam, ternyata terhapuskan begitu saja.

“Sampai di sini, apakah aku terlihat berlebihan?” katanya merendah.
“Bukan. Bahkan aku bangga. Itulah kelebihan Kak Har. Tapi aku masih penasaran Kak Har. Bagaimana ini bisa terjadi?” kataku kurang yakin dengan apa yang aku lihat.

“O, yaa, Allah Maha Penolong,.. Tadi malam, beberapa tokoh agama bersama bapak kepala desa datang ke rumah. Kami berdiskusi panjang tentang apa yang terjadi. Aku hanya menceritakan apa yang selama ini kita lakukan di mushalla, dan inilah pertolongan Allah itu.” Kak Har menutup ceritanya.

Cerita Kak Har benar-benar menginspirasiku dengan berbagai penjelasannya. Dunia bukanlah lahan pamer sehingga sebisa mungkin mengoptimalkan segalanya agar mendapat pujian.

Dunia tak pernah memberikan kebanggan yang bisa kau kenang setahun kemudian. Itu yang kulihat saat ia sudah terkenal namun masih tetap dengan kesederhanaannya, merangkul jamaahnya dengan senyumannya yang tak beda saat kulihat ia dipuji sang narasumber di sebuah tayangan TV lokal.

Model pengajian baru yang menghapus strata antara sang guru dan jamaahnya, telah menjadi model idola masyarakatnya. Model yang telah melambungkan nama Kak Har sebagai sosok yang membawa suasana baru. Orang-orang mulai berdatangan mendengar dakwahnya ketika tak mau hanya mendengar cerita. Bulan terus berlalu, kini orang-orang menatapnya dengan penuh makna.

Keutamaan tidaklah bergantung pada sorban yang selalu terlilit di kepala, ataupun jubah yang berkibar sepanjang jalan. Tidak pula harus dengan bahasa-bahasa kitab kuning ataupun kefasihan rangkaian bahasa Arab, meski dalam nyatanya, tak dipahami sang jamaah. Dakwah butuh kesetaraan, bukan ke-strataan. Dakwah adalah komunikasi dan bukan sterilisasi. Kak Har yang telah cukup lama tinggal berguru di negeri nan jauh, tak lupa bahasa, budaya dan kebutuhan masyarakatnya. Ia tampil bukan untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi tampil karena kebutuhan masyarakatnya. Kesalehannya tidak hanya terukur karena ritual-ritual shalat ataupun puasanya semata, tetapi kesalehan lingkungan dan kesalehan sosial jamahnya menjadi penyerta setiap langkah dakwahnya. Berbicara sekomunikatif mungkin dan sebisa mungkin menyesuaikan diri dengan masyarakatnya. Karena agama bukan hanya satu bidang, Membawa ciri khas sendiri yang tak ingin ia dominasi, sehingga membuatnya terlihat sama dengan yang lainnya.

Entah ini akhir yang menyenangkan atau bagaimana. Namun, menurutku ini bukan akhir. Tapi setidaknya, sampai titik ini bisa menunjukkan sesuatu, bahwa sebuah anggapan tidak selamanya harus membebani, dan kebiasaan tak mengandung unsur untuk selalu ditaati. Belajar adalah cara terbaik untuk tahu cara menyikapi keduanya.PEMENANG III LCCP 2015

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *