Kamis , 19 Oktober 2017
Home / Religi / Ulama Mesir Nilai Kehidupan Islam di NTB Perlu di Contoh Umat Islam di Dunia
Mantan Menteri Waqaf Mesir, Prof. Dr. Muhammad Abdul Fadhiel El-Qoushi (tiga kiri) didampingi Profesor Quraish Shihab dan Gubernur NTB saat memukul gendang beleq sebagai tandaKonferensi Multaqa Nasional IV Alumni Al Azhar resmi dibuka di IC NTB

Ulama Mesir Nilai Kehidupan Islam di NTB Perlu di Contoh Umat Islam di Dunia

MATARAM, DS –  Kehidupan toleransi antar umat beragama yang kini dapat hidup rukun, tentram dan harmonis di Indonesia, khususnya di NTB, dipastikan dirindukan hampir seluruh umat islam di seluruh dunia. Hal itu menyusul, kehidupan kedamaian dengan penuh suasana ketidak saling curigaan dirasa sangat sulit diwujudkan umat islam, utamanya di wilayah Timur Tengah yang kini terus dilanda perang antar saudara.

Mantan Menteri Waqaf Mesir, Prof. Dr. Muhammad Abdul Fadhiel El-Qoushi mengaku, terkagum-kagum atas kehidupan toleransi kehidupan beragama yang berlangsung harmonis di NTB saat ini. Oleh karenanya, potret kehidupan umat islam di NTB saat ini, dirasa akan mampu menjadi cerminan Islam yang penuh dengan moderasi dan toleransi di dunia.

”Kami rasa NTB dan Indonesia layak dijadikan contoh terbaik bagi kehidupan beragama di dunia, seperti layaknya Nabi Muhamad membangun Kota Madinah beberapa tahun silam,” ujar Muhammad Abdul Fadhiel El-Qoushi saat menyampaikan sambutan dalam bahasa arab pada Konferensi Multaqa Nasional IV Alumni Al Azhar, Mesir di komplek Islamic Center (IC) NTB pada Rabu (18/10) kemarin.

Menurut Wakil Ketua WOAG itu, tema “Moderasi Islam: Dimensi dan Orientasi” pada kegiatan kali ini dirasa sangat tepat dalam meluruskan persepsi tentang Islam yang selama ini disalahpahami oleh banyak kalangan.

Padahal, menurut dia, umat Islam itu sesuai ajarannya harusselalu hidup rukun dan saling tolong menolong dengan umat agama lain, seperti yang terjadi pada umat Islam di NTB. Oleh karena itu,umat Islam di seluruh dunia membutuhkan kontribusi umat islam di Indonesia untuk dapat mengaplikasikan konsep islam yang dapat menjadi penyejuk untuk umat lainnya.

Terlebih, lanjut Muhammad Abdul Fadhiel El-Qoushi, agama Islam itu bukan hanya soal kekerasan, namun ada konsep kedamaian bagi para pemeluknya. “Saat ini hingga seterusnya, kami butuh bukanlah wacana atau apa yang tertulis di buku-buku atau di kertas-kertas. Namun umat islam di dunia membutuhkanpengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena, memang suasana kehidupan umat Islam di NTB sangat dirindukan oleh umat-umat di dunia, bahkan di Timur Tengah,” tegasnya.

 

*TANTANGAN NTB

Sementara itu, Gubernur NTB Dr. TGH Muhamad Zainul Majdi mengaku, sangat mengapresiasi kekaguman Wakil Ketua Alumni Al Azhar Internasional Prof Dr Muhammad Abdul Fadhiel El-Qoushi atas kehidupan toleransi kehidupan beragama yang harmonis di wilayahnya. “Bagi kami, kekaguman itu menjadi apresiasi luar biasa dari seorang pimpinan Al Azhar sebagai institusi keislaman yang paling otoritatif di dunia dengan usianya yang sudah lebih dari 1.000 tahun. Jadi, kalau pimpinan Al Azhar mengapresiasi, itu luar biasa,” ujarnya.

TGB menjadikan apresiasi ini sebagai tantangan bagi NTB, dan juga Indonesia untuk meneruskan pengalaman membangun masyarakat yang moderat kepada umat Islam di dunia luar. “Kalau ini kita di Indonesia dan NTB sebagai penerima dari Arab yang terkait dengan Islam, sekarang saatnya Indonesia dan NTB memberi pengalaman, bukan dalam konteks wacana, atau yang tertulis di buku, maupun yang dipidatokan, tapi dalam pengalaman nyata,” tegasnya.

Menurut TGB, Indonesia pada umumnya, dan NTB pada khususnya mengemban amanah untuk menyampaikan pengalaman dalam membangun keharmonisan yang bisa ditiru umat Islam di tempat lain, khususnya di Timur Tengah. Meski mayoritas penduduk NTB beragama Islam, kata dia, namun toleransi antarumat beragama di wilayah ini berjalan dengan harmonis dan saling bahu-membahu dalam memajukan NTB.

“Makanya, tadi saya tekankan berulang kali, jika dalam setiap kebijakan program pembangunan di daerah, meski kita mayoritas muslim dan ada komunitas lain diluar agama islam. Diantaranya, agama Hindu, Konghucu, Kristen, Katolik dan Budha. Maka, kita mengupayakan program pembangunan harus mampu mengakomodir segala potensi dan kekuatan agama lainnya,” kata Gubernur.

 

*ISLAM MODERAT

Terpisah, Ketua Alumni Al Azhar untuk Indonesia Profesor Quraish Shihab mengatakan, tema dalam konferensi yang diikuti ratusan alumni Al Azhar dari 15 negara adalah “Moderasi Islam: Dimensi dan Orientasi”. “Sekali lagi, jika Islam tidak moderat dalam kehidupannya, maka itu jelas tidak mencerminkan kehidupan Islam,” ujar Quraish Shihab di Islamic Center NTB, Rabu (18/10).

Quraish Shihab menyebutkan, ajaran Islam jauh dari segala bentuk kekerasan, teror, dan ancaman. Islam yang moderat merupakan sebuah keniscayaan. Hal ini sudah dijalankan dengan baik di Indonesia.

Selain itu, konferensi ini juga akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan isu radikalisme yang kerap ditujukan kepada dunia Islam. Menurut Quraish Shihab, dampak dari ekstrimisme itu membuat sejumlah orang dengan mudahnya mengkafirkan orang lain. Kemudian, konferensi juga menyoroti tentang adanya fatwa-fatwa yang dianggap menyeleweng. “Semua itu semua berkisar dengan tujuan kita yakni menciptakan moderasi sesuai ajaran Islam,” tandas Quraish Shihab.

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Ponpes Darul Istiqomah Bangun Gedung Bertingkat dengan Rp 50 Juta

SELONG,DS-Pondok Pesantren (Ponpes)  Darul  Istiqomah NW Juet  yang didirikan  oleh TGH.Musa Abdul Haris pada tahun …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *