Rabu , 21 Juni 2017
Home / Religi / KEAJAIBAN SEDEKAH: UANG PAS
Pendistribusian zakat fitrah kepada fakir miskin

KEAJAIBAN SEDEKAH: UANG PAS

Bel berbunyi tiga kali. Sekilas kulirik arloji, pukul 12:15.Waktunya pulang. Anak-anak segera merapikan alat tulis dan memasukkannya ke dalam tas. Kegembiraan terpancar dari wajah mereka. Rasa penat dan lelah sirna seiring suara bel.Sebelum berdoa, kuingatkan anak-anak agar mengerjakan pekerjaan rumah. Satu per satu mereka menyalamiku.

Sekolah mulai sepi, tinggal beberapa anak yang menunggu jemputan. Beberapa guru masih ngobrol di ruang guru.Tas ku letakkan di meja. Aku mengambil mukena. Di mushalla masih ramai. Anak-anak kelas 8 dapat giliran shalat berjamaah. Untung banyak kran dipasang, jadi tidak terlalu lama antre mengambil air wudhu.

Siang ini sinar mentari agak redup. Iringan awan abu mulai berpencar membagi diri dalam kelompok. Langit biru timbul tenggelam tertutup arakan awan. Udara tidak terlalu menyengat.

Pulang sekolah aku ke sebuah bank di Cakranegara. Aku naik angkot dari Seruni.Penumpangnya hanya lima orang. Angkot berhenti di tiap simpang jalan. Mata sopir angkot bergerak cepat, mengamati pejalan kaki yang kira-kira akan menaiki angkot. Tangannya sesekali melambai ke arah jauh.

Angkot yang melewati Jalan Majapahit belok kiri di simpang enam timur Taman Budaya ke arah utara Jalan Airlangga. Seperti biasa, angkot berhenti menunggu penumpang dari arah Pagesangan.Dua lelaki paruh baya turun dari cidomo sambil menenteng keranjang buah yang sudah kosong. Masih tersisa beberapa lembar daun mangga dengan patahan ranting di sela-sela lubang keranjang.

Di depan Jebak Beleq, seorang nenek dengan pakaian lusuh naik. Dia tersenyum ke arahku. Aku membalasnya sambil menyilakan nenek itu duduk di depanku. Aku trenyuh melihatnya. Rambutnya yang memutih berkibar keluar jendela, kadang menutupi sebagian wajahnya.

Aku benar-benar tidak punya uang untuk kuberikan kepadanya. Di dompet hanya tersisa ongkos.Uang setoran sudah kusimpan di tempat terpisah untuk jaga-jaga. Aku merasa sangat tidak enak. Saat ada yang perlu dibantu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Namun aku tidak mau menyerah begitu saja. Aku mencari cara… aku harus memberikannya sesuatu, sekecil apa pun. Kapan lagi aku bertemu dengannya. “Ya Allah, berilah petunjukmu,” aku berdoa sambil berpikir keras.
Alhamdulillah…rupanya Allah mendengar doaku. Aku segera membuka tas dan mengambil ongkos. Uang kusodorkan pada kernet [kenek] angkot. “Dua”, kataku sambil menunjuk nenek itu. “Terima kasi,” ujar nenek dengan mata berkaca-kaca. Bibir tuanya berusaha tersenyum. Aku mengangguk. Lega rasanya, seperti terlepas dari himpitan beban yang amat berat walaupun saat balik nanti aku jalan kaki sejauh satu setengah kilo. Ongkos yang kubayarkan untuk nenek tadi adalah ongkos cidomo menuju rumah.

Kurang lebih satu jam aku di bank. Lumayan menunggu antrian. Aku menyeberang jalan untuk mencari angkot ke Ampenan. Syukur, kebetulan ada angkot yang sedang menurunkan penumpang. Tidak perlu lama-lama menunggu. Di depan SMKK Jalan Pendidikan, naik seorang perempuan. Dia tersenyum saat melihatku. Aku pun terenyum. Dia langsung mengeluarkan uang dari dompetnya. “Dua,” katanya. Tangannya menunjuk ke barat, ke arahku. Aku kaget…agak grogi. Bagaimana tidak, aku belum pernah mengenalnya. Aku mengucapkan terima kasih dengan menyisakan tanda tanya.

Di atas cidomo baru kusadari bahwa Allah telah membalas hal kecil yang kulakukan walau tidak seberapa nilainya. Nurwahidah

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

TGB : Perlu Sinergi Antara BAZNAS dan SKPD Pemprov

MATARAM, DS – Gubernur Dr. TGH. Muhamad Zainul Majdi meminta Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) …

No comments

  1. Your comment is awaiting moderation.

    Glad to be one of many visitors on this awing site :D.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *