Minggu , 11 Juni 2017
Home / Religi / KEAJAIBAN SEDEKAH : TAK DISANGKA, SEPULUH RIBU DIBALAS BERLIPAT GANDA
Disribusi zakat kepada LKSA di Lombok Timur oleh Ketua Bazda H.Rawitah Asy'ari didampingi Ketua Dewan Pertimbangan TGH Abdul Latif

KEAJAIBAN SEDEKAH : TAK DISANGKA, SEPULUH RIBU DIBALAS BERLIPAT GANDA

Pagi ini begitu cerah. Sang surya mulai menampakkan sinarnya dari balik rerimbunan pepohonan di depan rumahku. Burung-burung berkicau dengan riangnya. Namun semua itu tidak seperti hatiku yang terselimuti duka yang mendalam dari dalam jiwaku. Semua itu karena sudah satu bulan ini ibundaku tercinta berpulang ke Rahmatullah.

Tiba-tiba saja aku teringat akan beliau, satu kenangan bersamanya diantara berjuta kenangan.

Inilah kisah keajaiban shadaqah yang kutulis sebagai sebuah kenang-kenangan untuknya — Almarhumah ibuku tercinta.

Aku duduk di sudut kamarku. Anganku menerawang jauh mengingat Almarhumah ibuku tercinta. Air mataku tiba-tiba terasa menggenang di kelopak mataku. Ya… karena selama ini yang aku rasakan aku belum pernah memberikan apa-apa yang barharga selama hidupnya. Dan, kini beliau telah pergi.

Keadaan ekonomi keluargaku yang jauh dari cukup membuatku jarang sekali memberikan materi yang cukup untuknya. Aku hanya seorang guru honorer yang pembaca tentu tahu bagaimana penghasilannya . Semoga dengan kisah ini, menjadi pintu hidayah bagi pembaca agar terketuk pintu hatinya agar mau bersedekah terutama kepada orang tua kita tercinta dan bagiku. Semoga dengan menceritakan kisah ini menjadi nasihat bagi diriku sendiri dan orang lain.

Kisah ini kuawali dengan firman Allah swt : Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak (QS Al-hadid;18).Dan hadis Nabi Muhammmad saw “Harta tidak akan berkurang dengan sedekah “ (HR.Muslim).

Empat belas tahun aku menggeluti profesi ini, sebagai guru honorer di salah satu MTs swasta yang agak jauh dari desaku, Desa Rensing, Kecamatan Sakra Barat. Sedang aku berasal dari Desa Sakra.

Aku ingat saat-saat awal aku mengabdi yakni pada tahun 2000 lalu. Aku harus pulang pergi mengajar menumpang mobil umum. Saat itu ongkosnya masih Rp 1000 – Rp 2000 untuk pulang pergi. Itupun sangat sulit aku dapatkan. Kadang aku berutang sebagai ongkosku.

Namun aku tetap bersabar dan tekun untuk pergi mengajar walaupun honor yang aku terima, kata orang, hanya cukup untuk beli sabun. Karena niatku, jika aku belum mampu barsedekah dengan materi maka aku akan bersedekah dengan setitik ilmu yang kupunya.

Menjadi seorang guru harus benar-benar mempunyai kesabaran yang tinggi. Cobaan demi cobaan datang menghampiriku terutama masalah ekonomi. Kadang orang-orang di sekitarku mencemoohkanku karena mereka tahu bagaimana penghasilan seorang guru swasta yang mereka katakan hanya cukup untuk beli sabun saja.

“Lebih baik kamu cari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan”. Itu kata-kata mereka.

Namun hal itu tidak menggoyahkan semangatku. Ttetap saja aku berangkat mengajar. Intinya aku harus senantiasa belajar dan terus menambah ilmu serta memperbaiki diri setiap hari agar aku menjadi guru yang profesional nantinya. Amiiin.

Kisahku ini sungguh pengalaman yang tidak pernah aku lupakan dan begitu terasa berkesan dalam hatiku. Karena kisah ini kulalui dengan almarhumah Ibuku waktu itu.

Berawal dari suatu pagi. Sebagaimana biasa setiap pagi, aku berkemas-kemas mau berangkat mengajar. Motorku satu-satunya hasil kreditan yang biasa kugunakan untuk pergi mengajar aku bersihkan dan periksa bensinnya.

Aku lihat dan ternyata bensinnya menunjukkan angka nol alias sudah kering minyaknya. Sedangkan uang tinggal Rp 10.000 di dompetku. Itupun aku dapatkan karena berutang di iparku untuk beli bensin guna berangkat ke sekolah.

Sebelum berangkat, aku lewat rumah ibu yang kebetulan dekat dari rumahku untuk pergi melihat keadaannya sebentar. Saat itu aku lihat ibu sedang memilih-milih sayur dan lauk pauk untuk dimasak nantinya. Melihat aku datang ibu langsung menyapaku, ”Kamu ada uang nak, aku minta ya Rp 10.000 untuk tambah bayar beli sayur nih,uang ibu tidak cukup”.

Ibu mengulurkan tangannya. Dalam hatiku berkata ,“Ya Alloh bagaimana ini?”

Aaku tidak ingin mengecewakan hati ibuku. Aku berikan saja uang itu, walaupun cuma itu yang ada untuk ku beli bensin. Aku pamit bersalaman.

Aku balik dari rumah ibu, sekarang aku tak punya uang sepeser pun, sedang aku harus berangkat ke sekolah. Hatiku bingung. Hampir saja aku tidak jadi berangkat ke sekolah. Hatiku sedih.

“Ya Allah.. tolong hambaMu ini,” gumamku.

Kucoba starter motorku, ternyata bisa hidup, padahal bensinnya tidak ada.
“Ajaib sekali,” pikirku.

Kunaiki motorku dan membaca Bismillahi tawakkal tu Alallah. Kupasrahkan semuanya kepada Allah. Akhirnya aku berangkat juga mengajar.

Di perjalanan hatiku senantiasa berdoa agar motorku tidak mogok. Betul juga, motor itu tidak mogok. Akhirnya aku sampai juga di sekolah tempatku mengajar.

Seperti biasa aku masuk kelas untuk memberikan anak – anak pelajaran sampai waktu pelajaran selesai dan keluar istirahat. Langsung aku masuk kantor dan berbincang-bincang dengan para guru di sana. Dalam hati aku ingin mengutarakan niatku untuk meminjam uang kepada salah satu guru di sana untuk membeli bensin, namun ku tahan. Aku malu sekali mengutarakan nia ku itu.

Ajaibnya, sebelum aku utarakan niatku itu, tiba- tiba bendahara sekolah menyodorkan amplop honorku.

Allah maha tahu keadaanku. Aku benar- benar bersyukur saat itu. Langsung teringat kata-kata para ustad di pengajian bahwa Allah akan melipatgandakan apa-apa harta yang kita shadaqahkan .

Maha benar Allah atas segala Firmannya, terbukti uang yang aku beri ke ibu yang hanya Rp 10.000 itu dibalas oleh Allah dengan berlipat ganda tanpa aku sangka-sangka. Benar- benar sebuah keajaiban yang aku rasakan hari itu. Yakni motorku bisa jalan tanpa bensin, dan datang rizki yang tidak pernah ku sangka -sangka. Allah SWT Maha tahu keadaan hambaNya.

Dan tiba-tiba tanpa aku sangka-sangka di tahun 2014 pengabdianku di madrasah ini, namaku tercantum dalam daftar nama guru-guru yang dipanggil untuk disertifikasi. Alhamdulillah… Aku ingat perkataan Ibuku; “Setiap sesuatu yang akan kita sedekahkan harus Ikhlas. memberi dengan tangan kanan tidak diketahui oleh tangan kiri”. Itulah nasihat yang selalu ia pesankan padaku. “Ikhlas” dalam melakukan apapun.

Allah SWT Maha kaya , tidak memerlukan apa-apa dari mahlukNya. Menjadi keuntungan hamba itu sendirilah setiap harta yang ia akan sedekahkan, bekal dia di akhirat dan itulah benar-benar rezekinya. Walaupun hartanya sangat banyak namun itu belum tentu rezekinya dia, bisa saja apa yang tersedia di piring kita kemudian akan kita makan. Kalau itu bukan rezeki kita , di saat kita akan makan tiba-tiba piring kita jatuh dan makanannya jatuh berserakan ke tanah yang tentunya kotor dan tidak bisa kita makan dan sia-sia. Itulah rezeki sudah ditentukan oleh Allah SWT. Namun kita dituntut untuk berikhtiar dan berdo’a agar dimudahkan segala urusan kita di dalam mencari rezeki.

Yakinlah apa yang kita lakukan dan apa yang kita shadaqohkan akan dibalas berlipat ganda oleh Allah di dunia maupun di akhirat, karena sesungguhnya sedekah itu lebih dahulu jatuh ke Tangan Allah (Untuk diberi pahala) sebelum jatuh ke tangan peminta.

Kita harus senantiasa selalu sabar dan ikhlas, lebih- lebih dalam bersedekah. Dan bagi mereka yang punya harta yang cukup haul dan nisabnya, jangan sampai lupa untuk berzakat.Kita sebagai seorang yang beriman mengaku diri mukmin tentu ada cirri-cirinya yakni shalat,puasa dan berzakat. Dalam realita kehidupan sehari-hari banyak sekali kita jumpai contoh-contoh mereka-mereka yang sangat kaya di satu sisi dan orang-orang yang sangat miskin disisi lainnya, jelas sekali ketimpangan-ketimpangan ini terjadi. Jika seandainya mereka yang mampu sudi kiranya menolong mereka yang berada jauuh dibawah garis kemiskinan, mungkin hal itu tidak akan terjadi. Karena harta kita hanya titipan dari Allah SWT. Balasan Allah SWT bagi mereka yang tidak mau berzakat sangat nyata baik di dunia lebih-lebih di akhirat kelak.

Sebagai ibrah atau contoh perenungan bagi kita, bukan maksudku untuk mengungkap aib seseorang namun ini nyata terjadi; ketika itu salah seorang yang kukenal baik — sebut saja si Fulan, Allah menganugrahkan harta yang berlimpah ( cukup haul dan nisabnya untuk dizakati). Salah seorang kerabatku menganjurkan dia untuk berzakat, namun dia menolak.

”belum wajib aku berzakat, “ katanya. Padahal dia sudah cukup haul dan nisabnya untuk berzakat. Tak lama kemudian Allah SWT tunjukkan kekuasaanNya. Sedikit demi sedikit hartanya berkurang, usaha bisnisnya tidak berhasil dan akhirnya bangkrut dan meninggalkan hutang ratusan juta rupiah. Akhirnya dia pergi ke luar negeri untuk mengais rezeki di sana.

Nyata balasan Allah SWT baik di dunia lebih-lebih di akhirat, bagi mereka yang tidak mau berzakat. Zakat memberi arti bahwa manusia itu hidup bukan untuk dirinya saja, melainkan harus memperhatikan nasib sosial masyarakat sekitarnya. Sifat mementingkan diri sendiri harus disingkirkan dari hati kita. Zakat akan membersihkan harta dari bercampur dengan yang haram.

Berbagai nasihat telah terlontar dari berbagai banyak pengajian ibarat mutiara yang menyala di tengah Thogut masyarakat saat ini. Telah terkupas mengenai keistimewaan dan keutamaan zakat,infak dan shadaqah yang tidak akan ada batasnya. Secara umum banyak terpublikasi melalui berbagai kisah-kisah islami, namun itu hanya sebatas kulitnya kalau kita tidak mengamalkan sendiri perbuatan itu dan mengimplementasikannnya dalam kehidupan sehari-hari. Sudah selayaknya jika nasihat tersebut dijadikan I’tibar (pelajaran dan perenungan) untuk memperbaiki diri guna mencapai ke RidlhaanNya. Wallahu A’lamu Bissawab./B Zohriyah, S.Ag, salah satu pemenang lomba Kisah Keajaiban Sadaqah Bazda Lotim/

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Ribuan Ulama akan Tumpah ke NTB

MATARAM, DS – Nahdatul Ulama (NU) bakal menggelar Musyarawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *