Senin , 13 November 2017
Home / Religi / Islam adalah Agama Menghargai Perbedaan dan Kebinekaan
Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj (kiri) bersama Gubernur Sulut Olly Dondokambey saat pembukaan pra-Munas dan Konbes NU di Manado

Islam adalah Agama Menghargai Perbedaan dan Kebinekaan

MATARAM, DS – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH. Said Aqil Siroj, menegaskan, ajaran Islam sangat menghargai kebinekaan. Sebab, Allah SWT menghendaki adanya perbedaan tidak lain untuk saling belajar satu sama lain

Apalagi, Nabi Muhamad juga sangat menghargai kebinekaan ketika ia membentuk Negara Madinah. “Dalam negara Madinah, hidup masyarakat yang plural, dengan beragam latar belakang suku dan agama, serta profesi. Karena itulah, negara tersebut dikatakan sebagai negara Madinah dari kata tamaddun, yang berarti berperadaban,” ujar Said Agil dalam siaran tertulis yang diterima wartawan, Minggu (12/11).

Said Agil  saat menyampaikan sambutannya pada acara pra-Munas dan Konbes NU dengan tema NU dan Kebinekaan yang diselenggarakan di Manado, Sulawesi Utara pada Sabtu (11/11), mengatakan Nabi Muhamad sebagai contoh umat Islam di seluruh penjuru dunia, telah mengajarkan kehidupan kebinekaan harus dilakukan seluruh umat islam.

Namun syaratnya, satu cita-cita dan satu garis perjuangan. “Sesungguhnya mereka adalah satu umat. Jadi Nabi Muhammad, modern banget, karena telah lama mencontohkan cara hidup dengan kebinekaan,” tegasnya di hadapan perwakilan NU se-Wilayah Indonesia Timur itu.

Menurut Said, Negara Madinah itu penduduknya ada yang Muslim dan non-Muslim, Arab dan non-Arab, semua diperlakukan sama. Semua penduduk Madinah telah menandatangani kesepakatan bersama untuk hidup damai. Terdapat tanggung jawab bersama kalau ada serangan dari luar. Mereka yang berkhianat juga harus diusir.

Kiai Said yang tinggal di Arab Saudi selama tiga belas tahun untuk belajar dari sarjana sampai dengan doktor ini memberikan sejumlah contoh tindakan Rasululah yang berlaku adil pada semua kelompok. Yakni, pertama, ketika ada sahabat yang bertengkar dengan Yahudi, kemudian mereka berkelahi sampai si Yahudi meninggal. Nabi marah besar. “Disitu nabi mengatakan, Barangsiapa membunuh non-Muslim, berhadapan dengan saya. Dan barang siapa berhadapan dengan saya, tidak akan selamat,” ungkapnya.

Selanjutnya, keadilan juga diperlakukan kepada sesama umat Islam, yaitu ketika ada perempuan yang tertangkap mencuri. Ada usulan agar pencuri tersebut tidak dihukum karena berasal dari keluarga terpandang.

Menurutnya, dalam kesempatan tersebut, Rasulullah menyampaikan, seandainya Fatimah, anak satu-satunya, yang mencuri, beliau akan menghukumnya sendiri. “Kalau kita bandingkan umat Islam dulu dan sekarang, kita sekarang akan malu,” katanya mengomentari tindakan tegas Nabi dalam menghukum pencuri tersebut.  “Tidak boleh ada permusuhan, kecuali kepada yang melanggar hukum. Tidak boleh ada permusuhan karena alasan beda agama, beda suku, beda budaya, apalagi beda pilihan gubernur,” lanjut Said Agil.

Sebagai pemimpin dari seluruh komunitas yang sangat beragam, Rasulullah juga sangat memperhatikan kepentingan dari pemeluk agama Nasrani. Suatu ketika ada gosip dari Yahudi bahwa Maryam berzina sehingga melahirkan seorang anak. Ia sangat bersedih dan bagaimana menjelaskan peristiwa tersebut, sampai akhirnya Allah menurunkan surat Maryam yang menegaskan bahwa Maryam atau disebut Maria dalam agama Kristiani merupakan perempuan suci yang bersih dari perilaku tidak terpuji.

Demikian pula, ketika terjadi perang antara Kristiani dan pengikut Zoroaster, Rasulullah mendoakan agar umat Kristiani dimenangkan. Romawi pertama kalah dalam perang tersebut, tapi kemudian kurang dari sepuluh tahun, menang dalam peperangan. Dalam kesempatan tersebut, umat Islam diminta untuk menyambut dengan gembira. Peristiwa tersebut diabadikan dalam surat Ar-Ruum.

Kiai Said mempersilahkan generasi muda untuk belajar agama Islam di Arab karena memang kawasan tersebut merupakan pusat pendidikan Islam yang belum bisa ditandingi di tempat lain seperti di Al Azhar atau di Arab Saudi, tetapi ia mengingatkan agar yang dibawa adalah ilmunya, bukan budayanya

Cara pandang orang Arab dalam hubungan antara agama dan negara sangat berbeda dengan bangsa Indonesia. “Di sana, para ulama bukanlah tokoh nasionalis, sedangkan tokoh nasionalis bukanlah ulama. Situasi ini menyebabkan terjadinya benturan dan pertumpahan darah,” jelasnya.

Berbeda dengan di Arab, kata Said Agil, di Indonesia Kiai Hasyim Asy’ari mampu menyatukan agama dan nasionalisme dengan ungkapannya, mencintai tanah air adalah bagian dari iman. “Jadi, apa yang disampaikan oleh Kiai Hasyim tersebut merupakan bentuk refleksi atas kondisi di Nusantara yang sangat beragam,” tandas Said.

Sementara itu, Ketua Panitia Munas Robikin Emhas menambahkan, pra-Munas dan Konbes ini merupakan kegiatan pendahuluan untuk mematangkan berbagai tema yang akan dibahas di acara tersebut. Menurutnya, tema-tema yang dibahas meliputi permasalahan kebangsaan dan keagamaan aktual yang membutuhkan pandangan dari para ulama.

“Yang jelas, beberapa tema penting diantaranya adalah hukum investasi dana haji, penggunaan frekuensi publik untuk kepentingan kelompok tertentu, fikih disabilitas, revisi KUHP, ujaran kebencian, dan lainnya akan kita bahas dalam Munas dan Konbes yang akan berlangsung di Kota Mataram, NTB dalam waktu dekat ini,” ujar Robikin Emhas.

Terpisah, Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey menghargai dan mendukung peran-peran yang selama ini telah dilakukan oleh Nahdlatul Ulama dalam menjaga keharmonisan hubungan antaragama. Apa yang dilakukan oleh NU selaras dengan program pemerintah.

Olly menjelaskan, Sulawesi Utara selama ini telah menjadi miniatur kebinekaan Indonesia. Jauh sebelum ada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), di Sulut sudah memiliki Badan Kerjasama Antar Umat Beragama.

“Bagi kami, sangat-sangat penting agar seluruh masyarakat di Sulut mendengar peran NU seperti apa. Apalagi, banyak hal yang perlu kerjasama antara pemerintah dan tokoh agama agar ketenteraman dan kedamaian terus berjalan,” tandasnya.

Diketahui, Manado sendiri merupakan wilayah yang diapit oleh daerah konflik. Terakhir, konflik di Marawi, Filipina yang lokasinya sangat dekat dengan Sulut. Tapi karena peran tokoh agama, aparat keamanan dan masyarakat, serta pihak lainnya, maka konflik tersebut tidak meluas ke Manado.fahrul

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

TGB Komit Bantu Munas dan Konbes NU di NTB

MATARAM, DS – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menyelengarakan musyawarah nasional (munas) dan konferensi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *