Senin , 27 November 2017
Home / Politik / NU Dukung JK jadi Cawapres Jokowi di Pemilu 2019
Ketua umum PBNU KH Said Aqil Siradj saat menyerahkan rekomendasi Munas dan Konbes NU kepada Wapres Jusuf Kalla

NU Dukung JK jadi Cawapres Jokowi di Pemilu 2019

LOBAR, DS – Dukungan terhadap pencalonan Wakil Presiden Jusuf Kalla agar bisa mendampingi Presiden Joko Widodo pada pemilihan Presiden tahun 2019 mendatang mengemuka pada saat penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Darul Quran Bengkel, kecamatan Labuapi, Lombok Barat pada Sabtu (25/11).

Tak tanggung-tanggung, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Agil Siradj yang menyuarakan langsung dukungan pencalonannya tersebut.

“Kalau undang-undang memperbolehkan, saya dan warga Nahdiyin siap mendukung lagi pak JK sebagai Wapres,” tegas Said Aqil saat menyampaikan sambutannya.

Menurut Said, sosok JK yang dikenal agamis, responsif dan tanggap menyelesaikan persoalan masyarakat masih sangat dibutuhkan bangsa Indonesia. “Indonesia masih butuh figur kebapakan yang agamis kayak Pak JK. Kalau boleh lebih dari dua kali menjabat, saya siap mendukung Pak JK,” kata Said.

Terpisah, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengaku tersanjung atas dukungan dari Ketua PBNU dan kalangan Nahdiyin dalam Munas dan Konbes NU kali ini. JK menyatakan akan menolak jika ada yang menanyakan ingin kembali maju sebagai wapres.   “Tapi, maaf saya mau istirahat, sesuai undang-undang juga menyebutkan presiden dan wapres tidak bisa dipilih dua kali,” ujar JK.

Meski demikian, JK mengatakan sosok yang cocok mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) jika akan maju kembali pada 2019 adalah yang religius. “Kalau presidennya nasional maka wakilnya harus lebih religius, itu biasa,” kata Wapres Jusuf Kalla menjawab wartawan di ruang VIP Bandara Internasional Lombok (BIL) sebelum bertolak ke Jakarta, Sabtu.

Ia juga mengatakan, jika presidennya politisi, wakilnya harus dari kalangan teknokrat. Menurut dia, Presiden yang petahana juga mudah terpilih tanpa kampanye besar asal kepemimpinannya berhasil.

Berdasarkan pengalamannya selama di pemerintahan, kata Kalla, bahwa untuk terpilih pasangan itu harus berasal dari suku berbeda meski saat masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono wakilnya juga berasal dari suku Jawa yaitu Wapres Boediono. “Harus bermacam-macam maka pilihannya luas karena kalau sama pilihannya sempit,” katanya.

Alasannya, kata Kalla, di Indonesia penduduk Jawa hampir 60 persen, secara logika presiden calon dari Jawa lebih mudah. Sama seperti di Amerika Serikat, setelah 170 tahun orang Katolik baru bisa jadi presiden dan 240 tahun orang kulit hitam bisa jadi presiden. “Selain ada kesaamaan, tentunya juga tergantung kepada partai pendukung,” tandas JK. fahrul

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Bersikukuh Maju Independen, PDIP  Tak Lagi Dukung Ali BD di Pilgub 2018

MATARAM, DS – DPD PDIP NTB dipastikan pisah jalan sebelum masuk pelaminan dengan bakal calon gubernur …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *