Senin , 25 Juni 2018
Home / Politik / Ini Dia, Orang yang Tidak Pernah Merasa Gagal
Ali BD (sorban merah) bersama para pendukungnya

Ini Dia, Orang yang Tidak Pernah Merasa Gagal

Ketika presenter TVRI dalam Kupas Tuntas Kandidat Gubernur NTB menanyakan kepadanya, “Apakah pernah merasakan kegagalan dalam hidup?”, Ali spontan menjawab, “Tidak!”

Apakah parameter kegagalan dalam hidup Dr.H.Moch.Ali BD? Berbeda dengan umumnya, Ali tak pernah merasa gagal. Kalah dalam pilkada Lotim maupun Kota Mataram, itu bukan bentuk kegagalan. Tidak pula dia melihat ketika menang itu sebuah kesuksesan. Semua bagi Ali BD berproses. Manusia menjemput perjuangan dalam hidupnya. Ketika menjadi kepala daerah bukan sebuah tujuan maka tidak pernah ada kata gagal. Pucuk pimpinan tertinggi di suatu daerah itu hanya tujuan antara mengingat tujuan sesungguhnya adalah pengabdian.

Tidaklah mengherankan jika Ali mengaku tidak pernah merasa gagal dalam hidupnya. Jika kalah maka itu sebuah proses namun bukan kemenangan tertunda. Proses untuk belajar dan berjuang lagi. Itulah sebabnya, dinamika hidupnya terus berubah, tidak pernah sepi dari perencanaan dan kegiatan. Ada tujuan mulia dari cita-cita besarnya, tidak untuk meraih popularitas, melainkan sesuai tuntutan Rasulullah yaitu menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi orang banyak.

Hal itu memang sudah dibuktikan sejak merintis berbagai usaha. Dia mengundurkan diri sebagai PNS karena merasa kurang bermanfaat di sana untuk berkiprah lebih banyak. Dengan kapasitasnya, Yayasan Swadaya Membangun (YSM) yang didirikan banyak berkiprah membantu masyarakat dengan ratusan kegiatan seperti membangunkan rumah penduduk ketika terjadi gempa tahun 1984 serta bantuan kepada warga miskin. Ada jembatan di Desa Langko bernama “Jembatan Ali BD”.

Usaha ini kemudian berkembang dengan pikiran baru agar lebih mandiri dan tidak mengandalkan funding. Ia membentuk unit usaha BPR masing-masing Segara Anak Kencana, Samawa Kencana dan Bima Abdi Swadaya (BIAS). Tidak sembarang orang bisa mengelola bank namun Ali bisa membawa ketiga BPR tersebut menjadi Bank Sehat yang menerima beberapa kali penghargaan dari InfoBank.

Dalam soal jabatan, Ali mengaku tidak pernah punya cita-cita menjadi bupati atau gubernur. Hal yang mendorongnya justru keadaan masyarakat dan tokoh masyarakat itu sendiri. Masyarakat NTB masih banyak yang hidup susah yang memerlukan pemrograman secara sistemik dalam memberdayakan mereka.

Persoalannya, berada di luar ring politik tidak memberi keleluasaan berjuang untuk rakyat. Karenanya Ali memasuki sistem politik, bertarung dan berkorban. Dua periode di LombokTimur berhasil diraihnya. Hasilnya, sederet pembangunan dengan mengandalkan kreativitas dilakukan mulai dari puluhan pasar tradisional, ribuan kilometer jalan, jembatan, bendungan, pelabuhan, kantor pemerintah, televisi, lembaga keuangan, hingga Bazda.

Tidak banyak dijumpai kepala daerah setingkat bupati, apalagi di daerah yang tergolong misikin, mampu mendorong kreativitas dengan pembangunan yang cukup pesat dengan dana APBD. Malah tidak sedikit yang terpaksa berhutang ke PIP. Sebaliknya Ali “mengharamkan” pemerintah berhutang. Karena, tujuan menjadi kepala daerah adalah mengatur dan mengelola pemerintahan secara sehat. Jangan sampai kepala daerah meninggalkan beban bagi kepala daerah berikutnya, walaupun hal itu tidak disalahkan.

Pengatur anggaran secara sistematis itu memang memerlukan upaya menggenjot PAD sebagai pendapatan yang bisa menutupi kekurangan anggaran. Itulah yang terus-menerus dilakukan sehingga pemerintahannya tidak perlu menjerit-jerit tidak bisa membangun karena tak ada uang. Metode ini tidak lepas dari kepiawaian Ali. Ia menata anggaran sedimikian rupa sehingga nyaris tidak pernah nampak kesulitan. Malahan banyak sekali bantuan yang digulirkan termasuk bantuan yang sifatnya pribadi. Sebutlah untuk pondok pesantren.

Tidak mengherankan, ketika beberapa kali kalah dalam Pilkada, Ali tidak mengalami kebangkrutan. Saat kalah di Kota Mataram, para pendukungnya ditraktir ke Bali melakukan tamasya. Ia tidak meninggalkan pendukungnya begitu saja. Oleh sebab itu, Ali dikenal sebagai sosok yang tajir dan dermawan. Setiap orang yang mengalami kesulitan, jika melapor kepadanya, pasti diberi solusi.

Contohnya beberapa waktu lalu ketika sejumlah seniman mengaku kesulitan membayar sewa gedung Taman Budaya NTB untuk suatu pentas. Tanpa banyak tanya Ali mengatakan, “Saya yang bayarin!”. Plong? Tentu saja. Ia telah memberi solusi yang tepat. Namun, seberapa jauh orang memahaminya tidak sekadar kata-kata blak-blakan yang ia ucapkan?

Dalam soal ini Ali tidak terlalu peduli karena itu tipikal seorang amaq. Dia berhasil tidak pernah mengatakan berhasil dan berpesta, dia gagal tidak pernah mengatakan gagal dan bersedih. Ali adalah Ali. Tak pernah merasa gagal dalam hidupnya karena ia selalu memulai dan memulai lagi. ian

 

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Survei SDI Dianggap Abal-Abal, Tim Ahyar-Mori Klamin Unggul

MATARAM, DS –  Ketua Tim Pemenangan pasangan calon (paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur nomor urut dua, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *