Kamis , 15 Juni 2017
Home / Politik / Ali BD Reuni dan Nostalgia Bersama Seniman
Ali BD memberikan orasi

Ali BD Reuni dan Nostalgia Bersama Seniman

MATARAM,DS-Ali BD bukan orang baru di kalangan seniman. Tahun 90-an ia merogoh dana yang sangat besar guna terbangunnya sebuah gagasan brilian dari Lombok, yakni Mataram Award. Ini adalah sebuah penghargaan di bidang kebudayaan bagi seniman dan budayawan yang dianggap berjasa di Tanah Air.

Karena itulah, ketika hadir di tengah-tengah komunitas seniman dan budayawan pada “Tadarus Sastra” Senin (12/6) di Taman Budaya NTB, Ali tidak asing lagi. Berbagai suguhan diberikan seperti musikalisasi puisi, keroncong hingga baca puisi. Ali sendiri didaulat memberikan orasi kebudayaan.

Pada tahun 1994, lewat Yayasan Esa, Ali menggelontorkan dana puluhan juta rupiah. Penghargaan pertama diberikan kepada Emha Ainun Nadjib, kemudian tahun berikutnya kepada Sapardi Joko Damono. Tidak ketinggalan seniman dari daerah pun mendapat bagian penghargaan itu. Padahal, kala itu begitu sulit mencari pendanaan dari pemerintah daerah untuk program seperti ini.

Tidak mengherankan, kegiatan-kegiatan berbau seni dan budaya senatiasa menerima suport darinya. “Itulah sebabnya pertemuan semacam ini saya anggap sebagai reuni,” katanya.

Dalam orasinya Ali banyak mensitir desertasinya tentang suku Badui yang sempat ditelitinya dalam menyelesaikan program doktoral. Dalam pandangan Ali, banyak pendekatan keliru yang diterapkan pemerintah terkait suku yang dinilai terasing ini.

“Orang Badui itu banyak yang tidak sekolah, tetapi dia bisa membaca,” katanya seraya menyebut ada empat kelompok Badui bukan dua sebagaimana dilansir pemerintah yang membagi dalam Badui Dalam dan Badui Luar.

Pemerintah melakukan pendekatan kepada suku Badui, diantaranya dengan membangunkan masjid. Namun oleh orang Badui, masjid itu justru tidak digunakan, melainkan justru ruangannya menjadi lorong dimana mereka melintas.

Mengamati fenomena itu, nampak ada pendekatan yang kurang tepat dilakukan pemerintah. Hal itu tidak hanya terkait dengan Badui, melainkan bisa juga dengan suku bangsa lain di Indonesia.

NTB dengan banyak suku bangsa di dalamnya merupakan salah satu daerah yang merekam berbagai nilai-nilai di dalamnya. Nilai-nilai itu meliputi etika, moral, agama. Hal itu semua tertuang dalam Pancasila.

“Jadi Pancasila itu adalah kumpulan dari nilai-nilai yang ada di Indonesia. Soekarno sendiri mengakui bahwa Pancasila itu bukan ciptaannya,” cetus Ali.

Ketika kini banyak yang terkejut Pancasila seperti tergerus, Ali mengatakan, “Tidak seperti itu, ya!” ian

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

MOLOR, PAW DUA ANGGOTA DPRD NTB

MATARAM, DS – Proses pergantian antar waktu (PAW) terhadap dua orang anggota DPRD NTB, HL. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *