Senin , 27 November 2017
Home / Pendidikan / Wapres JK Sebut Radikalisme Karena Pikiran ke Surga Instan
Ketua umum PBNU KH Said Aqil Siradj saat menyerahkan rekomendasi Munas dan Konbes NU kepada Wapres Jusuf Kalla

Wapres JK Sebut Radikalisme Karena Pikiran ke Surga Instan

LOBAR, DS – Musyawarah Nasional  (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama(NU) 2017 resmi ditutup pada Sabtu (25/11). Wakil Presiden Jusuf Kalla menutup kegiatan itu dengan diiringi guyuran hujan lebat di Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Quran, Bengkel, kecamatan Labuapi, Lombok Barat.

Kedatangan JK disambut dengan shalawat badar. JK juga mendengarkan hasil rekomendasi Munas NU 2017 yang dibacakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siraj.

Dalam sambutannya, Wapres menegaskan aksi radikalisme yang kini marak di berbagai wilayah di Indonesia, bahkan di penjuru dunia, merupakan pilihan yang berlebihan.  Menurut JK, hal ini dipicu adanya pikiran ingin masuk surga secara instan.

Padahal, kebanyakan para pelakunya malah tidak pernah ke masjid atau berbadan penuh tato.”Maka dari itu, surga itu sebaiknya jangan dijual murah, sehingga orang mau bersikap radikal,” tegas Wapres.

Wapres mencontohkan, aksi teror bom masjid di Mesir, yang menewaskan sebanyak 240 orang pada Jumat (24/11), tidak lain karena adanya  keinginan masuk surga menggunakan jalan pintas melakukan bom bunuh diri berlebihan.

Padahal, menurut Wapres, saat ini Islam di Indonesia telah mengalami sejumlah perkembangan besar dibandingkan 20-30 tahun terakhir. JK mengajak masyarakat bersyukur atas pencapaian ini.

“Ada dua hal yang sangat penting bahwa keagamaan, khususnya keIslaman berkembang luar biasa dan kemakmuran juga berkembang dari tahun ke tahun, meski belum seperti Cina,” ujar JK

Wapres menyebutkan, melalui televisi dan radio setiap hari disiarkan acara dakwah yang ditonton oleh dua juta orang. ”Semua berkembang luar biasa,” ungkapnya.  Bahkan, stasiun televisi sering menampilkan Ustad Maulana, Ustad Somad, Ustad Wijayanto, Mama Dedeh, dan lain-lain. Demikian pula keberadaan lebih dari 800 ribu masjid di sekolah maupun mal menggambarkan perkembangan Islam yang luar biasa.

Bahkan, kesadaran mahasiswa yang mengenakan jilbab di berbagai kampus, antara lain di Universitas Indonesia dan di Institut Teknologi Bandung juga makin meningkat. “Saya takjub. Ini mungkin hasil dakwah ulama melalui televisi dan radio,” kata dia.

Menyinggung infrastruktur masjid atau mushala misalnya. Indonesia memiliki 800 ribu lebih masjid dan mushala yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk di NTB dengan ribuan masjid dan mushala yang membuat NTB, terutama Pulau Lombok mendapat julukan Pulau Seribu Masjid. Tak hanya banyak dari segi kuantitas, lanjut JK, secara kualitas aktivitas di masjid dan mushala Tanah Air lebih ramai dibandingkan negara-negara lain.

“Di negara lain ramai saat Jumatan, sedangkan di Indonesia, lima waktu ramai, belum lagi ada pengajian-pengajian,” lanjut JK.

Sementara, dari sisi ibadah haji, kata Wapres, jamaah asal Indonesia selalu menempati peringkat teratas. Bahkan, di Sulawesi Selatan, kata JK, harus rela menunggu 20-25 tahun untuk bisa bertamu ke Tanah Suci. Pun dengan ibadah Umrah, kata JK, terdapat satu juta penduduk Indonesia yang berangkat umrah setiap tahun.

“Kata seorang ustaz kepada saya dimana-mana, di Makkah ada orang Indonesia, berarti paling banyak di surga orang Indonesia, karena penduduk Islam paling besar jumlahnya, yang berarti di neraka juga paling banyak,” ucap JK berkelakar.

Sementara itu, Rais Am PBNU KH Ma’ruf Amin menuturkan arus baru Indonesia dalam memasuki 100 tahun kedua, NU menguatkan landasan agar lebih baik. “Ajaran Islam Indonesia adalah Islam Nusantara yang moderat,” ucapnya

Apresiasi Munas

          Dalam kesempatan itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan pentingnya tindak lanjut dari Munas melalui tindakan nyata. “Musyawarah saja tidak cukup tanpa kita iringi dengan kerja keras,” ujar JK.

Wapres mengapresiasi hasil rekomendasi Munas dan Konbes NU yang menjadi masukan berharga bagi pemerintah. JK memaparkan sejumlah perkembangan Islam saat ini dibandingkan 20-30 tahun ke belakang. JK juga menjelaskan sejumlah tantangan yang dihadapi dunia Islam di Indonesia, mulai dari radikalisme, modernisasi, hingga ekonomi.

Sidang pleno forum yang mengusung tema “Mengokohkan Nilai-nilai Kebangsaan melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga” ini diisi laporan dari sidang-sidang komisi, antara lain Bahtsul Masail Maudlu’iyah (pembahasan isu-isu tematik-konseptual), Bahtsul Masail Waqi’iyah (pembahasan isu-isu aktual), Bahtsul Masail Qanuniyah (pembahasan soal perundang-undangan), Program, Organisasi, dan Rekomendasi.

Forum yang dihelat selama tiga hari ini melahirkan sejumlah rekomendasi bagi pemerintah di bidang ekonomi dan kesejahteraan, pencegahan dan penanggulangan radikalisme, kesehatan, pendidikan, serta politik dalam negeri dan internasional.

Selain di Islamic Center NTB sebagai lokasi pembukaan, perhelatan akbar tersebut juga melibatkan lima pesantren sebagai lokasi utama, antara lain di Pesantren Nurul Islam (Mataram), Pesantren Darul Fallah, Pesantren Darul Hikmah, Pesantren Darul Qur’an, dan Pesantren Al-Halimy (Lombok Barat).

Terpisah, Ketua Panitia Daerah Munas dan Konbes NU Lalu Winengan bersyukur atas kehormatan yang diberikan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla yang berkenan membuka dan menutup gelaran Munas dan Konbes NU di NTB, serta dukungan penuh Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi dan Wali Kota Mataram Ahyar Abduh. Winengan mengatakan, kerja sama pemerintah pusat dan juga dukungan pemerintah daerah menjadikan Munas NU di NTB berjalan lancar dan sukses.

“NU tentu tidak akan pernah melupakan budi baik ini,” kata Winengan.

 Bawa Berkah Bagi NTB

Gubernur NTB Dr. TGH Muhammad Zainul Majdi pada sambutan selamat datangnya mengaku, bersyukur atas dipilihnya NTB sebagai lokasi Munas dan Konbes NU kali ini. “Pak Wapres dan guru-guru kami, Alhamdulillah kesyukuran tidak putusnya dan suka cita warga NTB dan warga NU di NTB menjadi tuan rumah Munas,” ujarnya.

TGB mengatakan, musyawarah selalu mendatangkan keberkahan. Ia mengibaratkan, saat dua orang bertemu bermusyawarah, Allah SWT mendatangkan berkah. Terlebih, Munas NU yang menghadirkan para kiai dari seluruh Indonesia.

“Musyawarah jangankan dalam lingkup besar, hanya dua orang saja Allah kasih berkah, apalagi ini musyawarah alim ulama, tak hanya lingkup daerah, tapi seluruh Indonesia. Insya Allah membawa berkah untuk kami, warga NTB,” tegas TGB.

Dalam kesempatan itu. Gubernur melaporkan kinerja pembangunan NTB yang cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi tahun ke tahun mencapai 6,02 persen. Sementara, pertumbuhan dari triwulan II ke triwulan III sebesar 5,56 persen.

Hal ini, menurutnya, justru tidak lepas dari adanya kontribusi warga nahdliyin di NTB. “Majunya NTB adalah partisipasi nyata dari seluruh warga NU dan warga NTB,” kata TGB.

Menurutnya, Ponpes Darul Quran merupakan peninggalan bersejarah dari TGH Saleh Hambali atau Tuan Guru Bengkel. Berkat Tuan Guru Bengkel, NU berkembang pesat di Bumi Seribu Masjid. “Wajarlah, karena beliau sebab bisa kita bertemu pada Munas ini, mari saya mengajak kita semuamembaca Alfatihah untuk TGH Saleh Hambali dan seluruh sesepuh NU lainnya,” tandas Gubernur.  fahrul

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Umi Rauhun dan Raehanun Kompak Terima Anugrah Pahlawan Nasional Maulanasyekh

MATARAM, DS –  Presiden Joko Widodo (Jokowi) menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada empat tokoh yang berasal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *