Kamis , 27 September 2018
Home / Pendidikan / BUNGLON oleh : Dr.H.Moch.Ali bin Dachlan
Ali bin Dachlan

BUNGLON oleh : Dr.H.Moch.Ali bin Dachlan

 

Nama bunglon seringkali dipersonifikasikan dengan sifat manusia. Sebenarnya bunglon adalah nama binatang yang seringkali hidup disemak-semak. Binatang ini dapat mengubah warna kulitnya menjadi hijau seperti daun, cokelat seperti kayu dan bahkan warna hitam seperti tanah. Tujuan utama si bunglon mengubah warna kulitnya adalah sebuah penyamaran agar pihak lain (calon mangsa) tidak mengenalnya dan akhirnya si bunglon mendapat keuntungan. Pada umunya bunglon berbadan ramping dari jenis sconocep halus bahkan bisa juga terbang kesana kemari dari pohon ke pohon yang lain.
Mencari bunglon bukanlah barang mudah. Warna kulitnya yang sering berubah ubah menipu mata kita. Bisa jadi sang bunglon sedang menempel di baju kita atau berada disekitar halaman rumah kita. Keunggulannya adalah lawan bisa terkecoh dan akhirnya menjadi mangsa. Karena warnanya yang selalu berubah-ubah, mangsa sulit memahami bahkan seringkali mangsa mendekat sendiri. Karena warna sama dikiranya teman baik, mangsa menjadi terkecoh dan bunglon tetap hidup. Dalam pepatah Sasak ada ungkapan yang bunyinya ”dengan bodo te kaken siq dengan ririh”, Artinya orang yang bodoh akan menjadi mangsa dari orang orang culas. Bunglon adalah orang culas itu. Walaupun sebagai binatang, banyak pelajaran yang kita ambil dari tuan de bunglon itu.
Binatang yang dapat melakukan penyamaran untuk mendapatkan mangsa, bukan hanya ada di darat saja. Bahkan di laut jenis ikan tertentu yang karena fisiknya lemah dan lamban, untuk bertahan hidup sangat mengandalkan cara penyamaran sejenis bunglon. Kebanyakan jenis ikan sotong, gurita dan ikan batu sangat mengandalkan teknik penyamaran tersebut. Beberapa jenis bunglon menggunakan lidahnya yang panjang untuk meraih mangsanya. Dalam masyarakat manusia lidah bunglon adalah tutur katanya penuh tipu muslihat. Lebih tragis, para bunglon senang melihat kebodohan bahkan semakin berkembang taktiknya memelihara kebodohan, termasuk dengan menggunakan instrumen agama sekalipun.
Kembali pada ungkapan Sasak (Lombok) yang intinya bahwa orang orang bodoh pasti akan menjadi mangsa orang culas (Bahasa Sasaknya ”lekaq”). Ungkapan kuno orang Sasak sebenarnya memberi pelajaran kepada kita tentang rendahnya derajat orang bodoh sama dengan orang culas . Dengan kata lain tak ada orang culas jika tak ada orang bodoh. Dalam kaitannya dengan ungkapan Sasak tersebut ,biasanya orang orang bodoh menjadi korban, dan orang culas mendapat keuntungan. Untuk tujuan tersebut orang culas mengharapkan agar lebih banyak orang bodoh disekelilingnya, dengan cara itu akan lebih banyak keuntungan yang diperolehnya
Dalam kehidupan ekonomi dan politik akan lebih terang benderang inti permasalahan tersebut Masyarakat Lombok yang rata-rata masih rendah pendidiknnya menjadi lahan empuk bagi pemainan bunglon. Rumusnya sederhana, jika masyarakat menjadi cerdas, maka lahan bagi mencari keuntungan akan berkurang. Karena itulah harus direkayasa sedemikian rupa masyarakat itu agar tetap menjadi obyek. Cara yang paling ampuh adalah dengan menusukkan jarum suntik kepanatikan kepada organisasi atau tokoh yang bersembunyi dalam kelompok organisasi-organisasi keagamaan, bahkan langsung kepada perseorangan tanpa melalui organisasi yang baik. Ada keuntunan ekonomi dan politik yang diraup oleh tokohnya dari aktifitas penyamaran tersebut.
Memang sering kita dengar dari kalangan dunia politik tentang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Akan tetapi jika organisasi keagamaan atau tokoh politik tersebut bersembunyi dalam jubah keagamaan apakah sesuatu yang dianggap halal? Kita melihat dilayar TV beberapa tokoh agama dan organisasi keagamaan di Indonesia menunjukkan wajah sumringah ketika mereka duduk di dekat presiden setelah dilantik menjadi seorang pejabat dengan gaji tinggi dari kas negara. Kebangganan menduduki jabatan politik sekelas menteri, wakil presiden atau sebuah badan yang dibentuk oleh negara sayangnya ditulis terbalik dengan kata-kata, pemerintah menghargai para ulama. Menghargai ulama sebenarnya menjaga marwah dan kehormatan ulama dengan tidak mengubah fungsinya sebagai penjaga nilai-nilai agama itu dalam fatwa dan tindakan para ulama yang ditiru oleh masyarakat dan pemerintah.
Oportunis atau Bunglon.
Seorang mahasiswa saya bertanya,apakah bunglon sama dengan oportunis? Saya minta contoh yang paling dekat dalam kehidupan si mahasiswa. Dia mencontohkan seorang calon Kepala Daerah di Lombok. Calon tersebut maju menjadi Gubernur melalui partai A, tak lama setelah sang calon terpilih sebagai gubernur atau wali kota, dia berpindah ke partai B. Hal tersebut dilakukan beberapa kali atau tidak sekali saja. Entahlah jawab si mahasiswa. Tapi ditambahkan lagi, bahwa orang yang terpilih jadi Kepala Daerah tersebut pindah ke partai lain yang lebih besar dan kuat. Bahkan partai tersebut sedang berkuasa/memerintah.
Kata oportunis sebenarnya berasal dari kata Latin opportunus yang artinya menguntungkan atau cocok bagi orang yang berkepentingan tersebut. Orang ini bersedia mengorbankan prinsip-prinsip yang menjadi dasar idiologi organisasi atau partai bahkan agama yang dianut demi memperoleh keuntungan material atau jabatan tertentu. Kata-katanya berubah tergantung cuaca, orang awan menyebutnya plin plan atau plintat pintut. Tingkah laku seperti inilah yang disebut oportunis. Mahasiswa saya manggut manggut tanda mengerti dari pertanyaan tadi. Pepatah orang Sasak di Lombok menyebutnya ”beserempang elaq”, artinya orang tersebut tidak patut dipercayai karena lidahnya bercabang seperti lidah ular atau lidah komodo.
Sikap oportunis di Indonesia sekarang ini sedang tumbuh subur. Beberapa tokoh media atau orang yang dianggap tokoh oleh media, mementaskan prilaku oportunistik yang nyata. Media tidak sadar, bahwa banyak khalayak mematikan media televisi bila melihat wajah si tukang kibul alias oportunis. Khalayak ramai masih ingat ucapan sang tokoh media itu beberapa bulan yang lalu, telah lebih dari dua kali berubah. Bulan lalu si tokoh bilang pak Prabowo orang hebat, jika beliau memimpin negeri ini pastilah Indonesia akan maju pesat. Tetapi bulan berikutnya ucapannya mendadak berubah sebaliknya. Orang lain mencari sang tokoh dimana alamatnya sekarang, ternyata dia menjadi orang penting dibarisan seberang. Tokoh media tersbut berubah secepatnya bilamana tujuannya telah tercapai. Ini oportuinis sejati alias bunglon.
Jika suatu bangsa penduduknya sebagian besar terdiri dari kaum bunglon, layakkah bangsa itu disebut bangsa yang maju? Tokoh-tokoh bunglon tidak malu-malu menjadi juru bicara majikannya, walupun pengetahuannya tentang suatu hal sebatas mata kaki saja, untuk menghaluskan kata bodoh bagi si bunglon itu. Bangsa yang penduduknya mayoritas bunglon bukanlah bangsa besar, melainkan bangsa yang sedang bermasalah. Bagian besar penduduknya terdiri dari orang bermasalah, apakah dari kalangan partai, organisasi, bahkan juga aparat penting di negara ini dari birokrasi yang paling rendah sampai pada tingkatan para pejabat tinggi. Negeri ini benar-benar telah dikuasi oleh kelompok bunglon. Mereka tidak memperdulikan nasib orang lain asalkan tujuan pribadinya tercapai. Dia bisa mengubah warna dan kata-katanya bilamana hal itu menguntungkan dirinya. Negara ini membutuhkan orang pemikir keras, pekerja keras, berprinsip kuat. Inilah cara utama suatu bangsa untuk menjadi bangsa maju. Dan inilah yang disebut revolusi mental.
Revolusi Mental.
Kata revolusi diartikan sebagai perubahan sosial politik yang dilakukan dengan cepat dan keras. Contoh di dunia kita adalah revolusi Amerika 1770, 1789 Revolusi Prancis, Revolusi di Indonesia 1945 dsb. Memang tidak lazim istilah revolusi mental, namun hal itu sudah menjadi trending issue oleh Presiden Jokowi ketika berhasrat menjadi presiden negara ini.   Revolusi mental berhasil jika terjadi perubahan signifikan pada prilaku bangsa itu, seperti etos kerja yang tinggi, mengakui kesalahan, menerima perbedaan, menghargai ilmu pengetahuan, melihat kemajuan orang atau negara lain sebagai tantangan, tidak menyebut dirinya sebagai bangsa besar sampai negara lain mengakui hal itu. Ini adalah contoh sederhana dari mental bangsa yang baik. Dia dibangun dalam masa yang panjang melalui pelbagai ujian berat bagi masyarakat bangsa yang menempa dirinya menjadi kritis dan bijaksana.
Gagasan revolusi mental Presiden Jokowi adalah sebuah gagasan besar untuk mengubah mental bangsa ini agar berubah dari mental lemper, tak berani bersaing, penuh iri hati dan dengki, malas, mau menjadi kaya dengan cara yang mudah, mau jadi pejabat walau tak mampu, sering berubah-ubah, tidak konsisten, agar menjadi manusia yang lebih baik yang menghargai etos kerja, jujur dan konsisten pada prinsip kebenaran yang telah diakui negara dan bangsa ini. Memang Jokowi menggunakan bahasa sederhana, kerja, kerja, kerja. Tetapi itulah ungkapan hasratnya untuk membagun bangsa ini agar mentalnya lebih baik atau dengan istilah umum, bangsa yang berbudaya.
Sebentar lagi negeri kita akan memasuki masa kritis, yakni pemilihan presiden (2019).Calon presiden (Jokowi dan Prabowo) menjadi pusat harapan rakyat dari berbagai kalangan. Kedua calon presiden kita bukan tak mengerti tentang siapa kawan dan lawan, siapa teman yang dipercaya atau tidak dipercaya. Kaum politisi biasanya, membuat kalkulasi dari pertimbangan tentang untung rugi dengan orang disekitarnya. Kaum politisi juga tahu latar belakang orang di sekitarnya, tapi membuat perhitungan untung rugi walau sekecil apapun, termasuk orang orang yang berubah menjadi bunglon. Kelompok bunglon biasanya diatur di barisan kedua atau ketiga dari para pendukung calon presiden.
Diantara tokoh-tokoh bunglon adalah mereka yang terdepak dari kelompoknya karena suatu kesalahan, tetapi ada juga yang memang bunglon sejati. Cir-ciri bunglon sejati adalah mereka yang menyandarkan perhitungan untung yang instan tanpa kerja keras. Contohnya adalah orang yang selalu pindah partai kearah yang diyakini menang dan memberikannya imbalan yang lebih lumayan. Seorang pejabat, mungkin Bupat, wali kota atau gubernur/wakil gubernur yang memperoleh jabatannya melalui partai A, dengan cepat tanpa proses apapun pindah ke partai B dengan harapan untung yang lebih besar. Ditinjau dari moralitas dan etika umum perbuatan tersebut tercela. Masyarakat akan menghukumnya dengan menyebutnya sebagai bunglon yang tak tahu malu dan tak tahu diuntung. Inilah hukuman langsung dari masyarakat adat kita kepada orang yang tidak baik dalam masyarakat.
Kelompok bunglon yang menjelma menjadi laron dan berkumpul diantara dua lentera calon presiden kita memang bukanlah ciri asli dari masyarakat kita. Kelompok ini selalu menjadi noda dalam sejarah suatu bangsa yang kita alami, demikian pula dalam revolusi kemerdekaan 1945 banyak yang tetap bertahan sebagai bunglon karena mendapat kedudukan dari tangan kaum kolonialis.
Akan tetapi hal ini akan menjadi masalah besar bagi bangsa ini, jika pimpinan negara kita terdiri dari kelompok orang yang tidak kuat pada sikap dan keteladanan. Memang ada istilah pragmatis yang diartikan secara negatif oleh kaum politisi kita, karena berkaitan dengan kepentingan dan keuntungan bagi diri sendiri. Pragmatisme sebenarnya dipergunakan untuk rencana pembangunan yang logic,cepat dan memberi dampak yang lebih baik. Jika hal ini tidak dipertimbangkan secara kritis oleh calon presiden, khususnya Jokowi, saya memastikan, gagasan yang baik tentang revolusi mental , justru hasilnya terbalik, yakni mental bangsa ini semakin buruk, negeri ini menjadi lahan subur berkembang biaknya habitat bunglon bagi para calon presiden tidak mudah menyeleksi sipa yang bermental bunglon dan tidak juga sulit baginya untuk membuang jauh jauh gerombolan bunglon, karena pertimbangan mendua dari para calon. Itulah kenyataan politik di negara ini.

Selong, 16 September 18

 

 

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Pulihkan Trauma Gempa Lombok Aparat TNI Ajak Anak-Anak Bermain, PMII Bersenam Bersama Siswa di KLU 

  MATARAM, DS – Pemulihan trauma  warga Lombok, khususnya anak-anak pascagempa beruntun sejak awal Agustus lalu, terus …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *