Selasa , 20 Maret 2018
Home / Pendidikan / Agar IPM Naik, NTB Jaga Siswa Tak DO
Kadis Dikbud NTB H. Muhamad Suruji (kiri) didampingi Kabag Pemberitaan Biro Humas dan Protokoler Setda NTB Lalu Ismu saat memberikan keterangan pers

Agar IPM Naik, NTB Jaga Siswa Tak DO

MATARAM, DS – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi NTB masih bertahan di posisi 30 dari 34 provinsi di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) memasukkannya dalam provinsi ber IPM “sedang”. Kendati demikian, pertumbuhan IPM NTB cukup baik dan berada di atas pertumbuhan IPM nasional.

Kepala Dinas Pendikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, H. Muhamad Suruji, mengatakan pihaknya terus menggenjot dua hal di bidang pendidikan guna meningkatkan angka IPM di NTB. Diantaranya meningkatkan angka partispasi agar jangan lagi ada anak usia sekolah di NTB yang tidak bersekolah.

Selanjutnya, anak-anak yang sudah bersekolah agar dijaga untuk tidak sampai drop out (DO) alias putus sekolah.

“Kalau sudah angka drop out kita mencapai nol persen dan partispasi murni mencapai 100 persen maka kita tidak butuh lagi komponen lain-lain. Sebab, otomatis tidak akan ada lagi bua aksara, rata-rata lama pendidikan akan meningkat. Yang lain-lain semua indikator pendikan selesai dengan dua hal itu, khusus menopang kenaikan angka IPM,” ujar Suruji menjawab wartawan, Selasa (20/3).

Menurutnya, penanganan buta aksara warga NTB yang kini tidak masive seperti pada tahun 2010 lalu lantaran program sebelumnya sudah dianggap cukup baik dalam mengatasi angka buta huruf di wilayah NTB.

Sesuai survei BPS pada tahun 2017 lalu, rata-rata penduduk NTB yang berusia 21 tahun keatas telah mencapai 90 persen. Akibatnya, rata-rata lama usia sekolah warga NTB jelas berubah mencapai 10 tahun.

Selain itu, trend pergerakan partisipasi angka drop out juga mencapai 10 tahun. Sehingga, rasio buta aksara warga NTB yang dihitung sampai usia 60 tahun menjadi kian berkurang.

“Jika sudah masuk fase 10 tahun, maka angka partisipasi sekolah warga NTB akan bisa menembus kisaran 98 persen. Sehingga, diprediksi, dalam 8-10 tahun kedepan, tidak ada lagi buta aksara baru di NTB,” tegas Suruji.

Suruji mengakui dulu angka buta aksara di NTB  tinggi lantaran  ribuan warga NTB yang berusia 60 tahun. Namun jika ditambah dengan 10 tahun maka umur mereka akan masuk fase umur 70 tahun. Sehingga, dalam perhitungan buta aksara umur 70 tahun tidak akan masuk perhitungan lagi.

“Maka, tugas kami adalah fokus memastikan anak-anak yang sudah bersekolah agar dijaga untuk tidak sampai drop out alias putus sekolah kedepannya,” tandasnya.

Diketahui, IPM Provinsi NTB pada tahun 2016 mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya IPM dari dari 65,19 tahun 2015 menjadi 65,81 pada tahun 2016.  Atau meningkat dengan pertumbuhan  0,95 persen setahun.

“Sementara, IPM  Nasional tumbuh sebesar 0,91 persen,” ujar Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Provinsi NTB, Isa Ansori, menjawab wartawan, beberapa hari lalu.

Isa menjelaskan, untuk tahun 2016 IPM provinsi NTB masih berada pada kategori sedang sebagaimana tahun lalu. Penentuan IPM ini menggunakan metode baru di Indonesia. Di antaranya diukur dari dimensi umur panjang dan hidup sehat, dimensi standar hidup sehat, dimensi pengetahuan, dan agregasi indeks.

Sedangkan, IPM NTB tahun 2016 sebesar 65,81, seluruh komponen mengalami kenaikan. Sebab, bayi yang baru lahir memiliki peluang untuk hidup hingga 65,48 tahun, meningkat 0,1 tahun (1,2 bulan) dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara, anak-anak usia 7 tahun memiliki peluang untuk bersekolah selama 13,16 tahun, meningkat 0,12 tahun (1,44 bulan) dibandingkan pada 2016.

“Demikian juga penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 6,79 tahun (setara kelas VII SLTP), meningkat 0,08 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Dan pengeluaran per kapita masyarakat yang disesuaikan (harga konstan 2012) telah mencapai Rp 9,58 juta  pada tahun 2016, meningkat Rp 334 ribu rupiah dibandingkan tahun sebelumnya,” jelas Isa.

Meningkatnya daya beli ini dihitung dari 96 komoditas. 60 diantaranya dari komoditas makanan dan 33 dari komoditas non makanan. Peningkatan daya beli ini sekaligus didukung oleh pertumbuhan ekonomi dan pergerakan investasi.

Pada tahun 2016, IPM NTB tumbuh 0,95 persen, tumbuh melambat disbanding tahun 2015. Tetapi menjadi pertumbuhan tercepat ke 14 se Indonesia. Tahun 2011 IPM NTB tumbuh 62,14, 2012 tumbuh 62,98, 2013 tumbuh 63,76, 2014 tumbuh 64,31, 2015 tumbuh 65,19 dan 2016 tumbuh 65,81. Atau jika dirata-ratakan setahun tumbuh 1,23 persen sejak enam tahun terakhir.

“NTB berada pada peringkat 30 nasional, namun hanya terpaut 0,07 poin dari Kalimantan Barat. IPM terendah adalah Papua, dan tertinggi DKI Jakarta,” jelas Isa.

Tahun 2016, laju pertumbuhan IPM nasional sebesar 0,91. NTB laju pertumbuhan IPM-nya sebesar 0,95. Berada pada urutan ke 14 provinsi dengan laju pertumbuhan IPM tertinggi setelah Papua, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Maluku Utara, Bengkulu, Sumatera Barat, Sulawesi Tengah, Jambi, Lampung, DIY, Sulawesi barat, Banten, Kalimantan Selatan dan NTB.

“Peluang NTB besar untuk melampaui Kalimantan Barat dan Gorontalo beberapa tahun yang akan datang, jika laju pertumbuhan IPM NTB bisa tinggi,” tandas Isa Ansori. fahrul

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

10 Ribu Ton Beras Dilayarkan ACT ke Palestina

MATARAM, DS – Sebanyak 10 ribu ton beras akan dilayarkan Aksi Cepat Tanggap ke Palestina. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *