Minggu , 11 Juni 2017
Home / Pariwisata / Rumah Adat Limbungan, Destinasi Wisata yang akan Diguyur Rp 7,5 Miliar
RUMAH ADAT LIMBUNGAN

Rumah Adat Limbungan, Destinasi Wisata yang akan Diguyur Rp 7,5 Miliar

LOTIM,DS-Rumah adat (Bale Laek : Sasak) Limbung berada di Dusun Limbung Barat dan Timur. Posisinya rapi, nampak sebagai refleksi jiwa yang memantulkan laksa makna masyarakat yang berbudaya dan beragama. Atap rumah ini dari anyaman ilalang (Re : Sasak) yang banyak tumbuh di Gumi Selaparang pada masa lampau yang dimanfaatkan dengan penuh kearifan.

Dusun Limbung, merupakan bagian dari wilayah Desa Perigi Kecamatan Suela. Dimasa lalu Perigi merupakan bagian dari Pringgabaya yang berarti susunan batu/tebing yang berbahaya sebagai bagian dari benteng pertahanan (dalam Babad Selaparang). Desa Selaparang dan Suela sendiri pada tahun 1970 an masih sebagai bagian dari Kecamatan Pringgabaya.

Dari Perigi inilah banyak muncul para pejuang yang gagah berani, pendirian yang teguh dan jati diri yang kuat menjadikan mereka tak gampang menyerah dengan keadaan. Mereka hidup sebagai warga masyarakat yang kaya dengan norma adat-istiadat yang tindih (patut-patuh-patju).

Rumah adat Limbungan sebagai saksi para leluhur yang banyak menyimpan aura dan mampu menjawab napak tilas peradaban masa lampau. Adalah suatu keniscayaan jikahal itu digali dan dilestarikan.

Untuk itulah, Pemda Lotim mengucurkan Rp 2,5 miliar untuk penataan Rumah Adat Limbungan. Selain itu, pemerintah pusat telah berjanji dengan dana Rp 5 miliar. “Insyaallah tahun 2016 beberapa harapan akan terwujud menjadikan Libungan destinasi wisata,” kata mantanKadis Budpar Lotim, Khairil Anwar.

Sedikitnya ratusan rumah adat masih berada di sana. Karena ada yang sudah rusak, itulah yang akan direhabilitasi tanpa menghilangkan kekhasannya. Sejauh ini memang belum ada PAD yang masuk. Namun jika dilakukan berbagai penataan, bukan tidak mungkin aktifitas ekonomi akan bangkit.

Pasalnya, lewat biro perjalanan setidaknya 100-200 orang pengunjung dari berbagai negara melintasi kawasan tersebut setiap hari. Karena penduduk setempat pun menekuni kerajinan tradisional menenun, hal ini pun akan dibangkitkan kembali sebagaimana halnya di Desa Sade, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Infrastruktur dan Sarana Air Bersih
Salah seorang pengamat dan pelaku wisata budaya, Sareh Erwin, mengapresiasi program penataan Rumah Adat Limbungan oleh Pemerintah. Dia mengaku sering membawa para turis mancanegara ke banyak destinasi wisata di belahan Gumi Selaparang. Saat ini bahkan tengah membawa puluhan turis untuk kunjungan ke beberapa destinasi wisata.

“Saat ini, di rumah saya ada 80 orang turis untuk saya bawa keliling Pulau Lombok, ke beberapa destinasi wisata,” ungkap Erwin. Namun ia belum membawa turis ke Rumah Adat Limbungan mengingat infrastruktur jalan yang masih rusak.

Menurut guide berkelas internasional ini, beberapa hal yang perlu segera dipenuhi, selain penataan fisik rumah adat, juga infrastruktur jalan, instalasi listrik dan sarana air bersih. Namun demikian eksotisme Rumah Adat Limbungan dengan ciri khasnya pun harus ditonjolkan.

“Instalasi listrik haruslah ditata sebagaimana penataan instalasi air bersih yang kabelnya haruslah dibenamkan ke tanah,” cetus tokoh Pokdarwis Songket Tradisi Pringgasela ini.

Erwin Belo (naman akrabnya) mengungkap Pokdarwis Songket Tradisional akan membawa pipa paralon untuk pengadaan air bersih sebagai akses pengembangan lebih jauh dari Rumah Adat Limbungan ini. “Ada sepanjang antara 6 hingga 7 kilometer pipa paralon untuk pengadaan air bersih di komplek destinasi wisata yang langsung dari mata air (kemualan : Sasak) Gunung Malang,” katanya.

Ia mengakui Rumah Adat Limbungan kini mempunyai daya pikat yang kuat dalam dunia pariwisata, sehingga sangat potensial berkontribusi terhadap pertumbuhan sosial-budaya dan ekonomi Daerah Lombok Timur.

“Karena itu, kedepan kita upayakan dengan terus secara intens mengenalkannya ke dunia mancanegara,” cetus Khairil Anwar. Seiring dengan itu, dilakukan juga sosialisasi lewat Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) mengingat Pokdarwis sangat dibutuhkan peran sertanya dalam menggaungkan destinasi wisata.

“Semua Pokdarwis yang ada di seluruh wilayah Lombok Timur kita harap terus secara intens untuk mengadakan promosi dalam rangka tercapainya sadar dan peduli wisata,” pintanya.

Di sisi lain, para pelaku wisata terus mengadakan kegiatan-kegiatan secara berkala. “Bahkan kami setiap 3 bulan mengadakan kegiatan pembersihan di sekitar lokasi TNGER (Taman Nasional Gunung Rinjani),” ungkap Sareh.

“Bagi kami sesama guide dan kelompok pencinta lingkungan sesungguhnya sudah terbangun sebuah aksi nyata secara terjadwal dalam kurun waktu 1 tahun,” imbuhnya.

Atas nama pribadi ataupun masyarakat, Erwin mengemukakan perlunya tindak lanjut dari pemerintah berupa pengangkatan tenaga khusus dari masyarakat yang dijamin lewat gaji, untuk selanjutnya bertanggung jawab dalam tupoksinya sebagai petugas seperti halnya di kawasan TNGR.KUSMIARDI

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Tingkatkan Kunjungan Wisman melalui Aplikasi APPS

MATARAM, DS – Pemprov melalui Dinas Pariwisata NTB meluncurkan aplikasi APPS Lombok-Sumbawa pada Kamis (25/5). …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *