Rabu , 28 November 2018
Home / Pariwisata / DIY Butuh Delapan Tahun Normalkan Pariwisata Pascagempa
Wakil Ketua Komisi V DPRD NTB HMNS Kasdiono menyerahkan cindramata pada Kepala Biro Umum dan Protokoler Setda DIY usai pertemuan

DIY Butuh Delapan Tahun Normalkan Pariwisata Pascagempa

YOGYAKARTA, DS –  Masa pemulihan pariwisata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pascagempa bumi yang mengguncang wilayah itu pada tahun 2006 lalu selesai dalam waktu delapan tahun.

“Ada sejumlah pembenahan yang kita lakukan di masa recovery waktu itu, mulai pembenahan destinasi, memperkuat promosi dan yang terpenting kebersamaan semua pihak terkait untuk bangkit,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Distinasi Dinas Pariwisata (Dispar) DIY, Arya Nugrahadi menjawab wartawan saat menerima kunjungan rombongan Jurnalis Parlemen, Biro Humas Pemprov dan Wakil Ketua Komisi V DPRD NTB H.MNS Kasdiono di gedung Pracimosono Kantor Gubernur DIY, Selasa (27/11).

Ia mengatakan, pascagempa bumi yang melanda DIY sektor pariwisata begitu terpukul. Hal ini dibuktikan pada menurunnya jumlah kunjungan wisatawan, sehingga berimbas pada okupansi hotel.

Menurut Arya, angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke DIY tahun 2006 lalu hanya mencapai sekitar 250 ribu. Jumlah itu mengalami penurunan signifikan bila dibandingkan angka kunjungan wisman pada tahun 1998 yang berjumlah 400 ribu orang.

“Sekarang, bisa sampai 400 ribu orang pada tahun 2014 lalu. Itu artinya, kami menunggu sekitar 8 tahun menunggu pariwisata DIY bisa normal pascagempa itu,” jelas dia.

Arya mengakui, ada tiga aspek yang paling terdampak, yakni amenitas (fasilitas), atraksi dan aksebilitas. Meski demikian, yang paling lama butuh perbaikan pada masa rekonstruksi dan rehabilitasi, yakni perbaikan sejumlah situs-situs sejarah (heritage) yang banyak diantaranya sempat roboh.

“Perbaikan rekonstruksi situs sejarah makan waktu lama, karena kita harus hati-hati dan harus dibangun kembali seperti sebelum gempa terjadi,” katanya.

Arya menambahkan, pengalaman gempa DIY beberapa waktu lalu mengajarkan pihaknya bahwa pemahaman geologis terkait edukasi bencana gempa juga dapat dikemas menjadi paket pariwisata.

Hal itu diwujudkan Dispar DIY bekerjasama dengan pihak ASITA setempat menjual paket wisata ke Gunung Sewu yang masuk global Unesco dan berada di Kabupaten Gunung Kidul sebagai wisata geologis.

“Paket ini memperkuat kawasan Gunung Merapi dan sekitarnya. Yang pasti masyarakat DIY selalu ingat pesan Sri Sultan Hamengkubowono terkait adanya bencana jangan sampai membuat masyarakat kehilangan harga diri,” tandas Arya Nugrahadi.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi V DPRD NTB HMNS Kasdiono mengaku, pola DIY yang mampu bangkit pascagempa bumi. Yakni, mengedepankan kearifan lokal serta kebersamaan semua pihak bersatu, dan bergotong royong dalam menghadapi musibah gempa itu layak diadopsi oleh pemprov NTB.

“Kebersamaan kita di NTB ini yang kurang, apalagi kearifan lokal juga sudah banyak dilupakan. Makanya, hasil ini akan kita sampaikan kepada pak gubernur dan pimpinan DPRD agar bisa menjadi solusi dalam masa rehabilitasi dan rekonstruksi yang kini berlangsung di NTB,” ujar Kasdiono. RUL.

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Gerindra Desak Gubernur NTB Turun Tangan Sikapi Konflik Pengurus BPPD NTB

MATARAM, DS –Gubernur Zulkieflimansyah diminta tak tinggal diam terkait berlarut-larutnya kekisruhan di internal pengurus  Badan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *