Minggu , 19 November 2017
Home / Pariwisata / Catatan Kunjungan Presiden Jokowi ke NTB (Bagian-2) Hijaukan Perbukitan Mandalika, Presiden Titip Pesan ke TGB
Presiden Jokowi menyapa warga usai berkeliling ke areal KEK Mandalika bersama Gubernur NTB menggunakan kendaraan milik ITDC

Catatan Kunjungan Presiden Jokowi ke NTB (Bagian-2) Hijaukan Perbukitan Mandalika, Presiden Titip Pesan ke TGB

Saat ini, sekitar 78 persen dari total luasan 1.071 juta hektare lahan dan hutan di NTB merujuk data Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) NTB dalam kondisi kritis dan butuh penanganan segera untuk direhabilitasi. Salah satu areal hutan kritis, akibat kesalahan kelola pada masa lalu dan maraknya perambahan berada di sepanjang perbukitan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah.

Untuk itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam kunjungannya ke Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Mandalika, Lombok Tengah, menaruh perhatian serius terkait gersangnya kawasan hutan di perbukitan yang indah tersebut.

Saat menyampaikan sambutannya, Jokowi menitipkan empat hal sebagai pesan bagi pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Salah satunya mengenai pentingnya penghijauan guna mempercantik kawasan tersebut.

“Saya titip, pertama untuk Pak gubernur dan bupati dan dibantu dari Pangdam, Danrem untuk menghijaukan kawasan di sana, ditanami biar hijau, biar tambah cantik kawasan ini. Kawasan-kawasan yang kurang vegetasi ditanami,” ujar Presiden.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga meminta agar pengelola KEK Mandalika yaitu Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) bertanggungjawab untuk mengajak seluruh pihak menghijaukan kawasan yang memang masih sedikit ditanami pohon itu.

“Sekali lagi, kalau mau minta tanaman berapa ratus ribu, berapa juta saya kirim, tapi kalau nanam diurus, jangan ditinggal, dipelihara diawasi. Kita sering sebut tanam 1 juta, 1 miliar pohon yang hidup hanya 3 ekor. Model-model seperti itu harus kita tinggal. Tanam tidak usah banyak-banyak, tanam 3.000 atau 5.000 tapi hidup semuanya tidak usah bombastis. Saya hapal karena orang lapangan, jangan dibohongi,” tegas Presiden.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Eskekutif Walhi NTB Murdani membenarkan, manakala kondisi Hutan di NTB sudah rusak parah. Lantaran, hanya tersisa masih kondisi baik sebanyak 22 persen dari jumlah 1.071 juta hektare tersebut.

“Sekitar 78 persen hutan yang rusak dipicu penebangan pohon di hutan, perambahan ilegal yang sudah kerap kita dengar terjadi. Setiap bulan ratusan kubik kayu ilegal tercatat diamankan aparat,” kata dia menjawab wartawan, Senin (23/10) kemarin.

Murdani mendukung langkah Presiden yang telah memerintahkan semua pihak terkait mulai Gubernur, bupati dan aparat TNI (Pangdan dan Danrem) diharuskan menghijaukan kawasan perbukitan di KEK Mandalika itu. “Gagasan pak Presiden itu sangat baik. Itu positif, karena ngapain kita bangun kawasan pariwisata tapi mengabaikan konservasi lahan,” tegasnya.

Ia mengaku, sebenarnya pemda setempat telah melakukan program penghijauan guna merestorasi hutan sekitar 500 ribu hektare di wilayah NTB. Namun, fakta dilapangan angka kerusakan hutan malah kian parah sekali. “Itu artinya, ada pengawasan yang tidak komprehensif terkait program penghijauan selama ini,” ungkap Murdani.

Ia mencontohkan, kerusakan hutan di wilayah Pulau Sumbawa, khususnya  di Bima dan Dompu telah berlangsung sejak 15 tahun lalu. Dan selanjutnya, diprediksi jauh-jauh hari akan menyebabkan terjadi banjir, akhirnya terbukti. “Jika tidak ada pembenahan dari sisi penghijauan lahan, maka tidak saja di wilayah Pulau Sumbawa yang bakal mengalamai kebanjiran, Pulau Lombok akan bisa terkena banjir kedepannya,” tandas Murdani.

Sementara itu, dalam pesan keduanya. Presiden Jokowi meminta agar pihak pengelola menyiapkan pasar cenderamata bagi masyarakat sekitar. “Jangan biarkan masyarakat membuat sendiri, sehingga tidak tertata dan kumuh, biar masyarakat menikmati kawasan ini tapi tata yang baik,” kata Presiden.

Pesan ketiga, agar pengelola menampilkan bangunan yang sesuai dengan karakter arsitektur NTB. Hal itu dirasa penting agar ada pembeda kawasan KEK Mandalika dengan Bali dan kawasan wisata yang lain.

Menurut Presiden, NTB memiliki kekuatan arsitektur yang baik, seperti rumah-rumah suku Sasak dan yang lain. “Kekuatan karakter harus dimunculkan jangan malah yang banyak rumah model spanyol, kita bukan orang Spanyol,” ungkap Presiden.

Selain itu, bangunan-bangunan itu juga harus dilengkapi dengan toilet berstandar internasional. “Mumpung ini baru pada titik nol, kita mulai sehingga terkonsep dengan baik, terencana dengan baik dan kita ingin agar ini jadi kawasan besar yang akan memberikan dampak ke Nusa Tenggara Barat,” tambah Presiden.

Pesan keempat adalah bagi para investor agar ada aturan main atau yang jelas.

“Kapan mulai bangun, jangan hanya tanda tangan saja, cabut kalau tidak mulai konstruksi dalam 6 bulan cabut karena yang mengantri di Mandalika banyak sekarang ini,” ungkap Presiden.

Presiden juga mengaku menawarkan Mandalika kepada Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani. “Kemarin saya ketemu Sheikh Tamim al Thani, saya tunjukkan gambar di sini. Sheikh Thani kagum betul dengan keindahan di Mandalika ini, langsung beliau sampaikan Presiden Jokowi sudahlah saya ambil semuanya, saya katakan Nanti dulu saya tahan harga dong, biar Sheikh Tamim kirim tim baru kita bicara, jangan maunya diambil semuanya,” jelasPresiden.

Ia pun menegaskan agar jangan sampai dibiarkan ada investor yang membiarkan tanah menganggur selama 6 bulan.(fahrul BERSAMBUNG)

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

TGB Cek Kesiapan IC NTB

MATARAM, DS – Gubernur Dr. TGH. Muhamad Zainul Majdi meminta seluruh SKPD lingkup pemprov bersama stakeholder …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *