Jumat , 6 Juli 2018
Home / Kesehatan / Wapres JK : Pemerintah Tak Punya Hak Larang Warga Merokok
Wapres RI H. Jusuf Kalla

Wapres JK : Pemerintah Tak Punya Hak Larang Warga Merokok

MATARAM, DS – Semua orang tahu bahwa yang namanya kebiasaan tentu tak mudah dihentikan atau diubah menjadi kebiasaan lainnya. Begitu juga dengan kebiasaan merokok. Meski mengetahui bahwa merokok buruk untuk kesehatan, masih banyak orang yang kesulitan berhenti merokok.

Wakil Presiden H. Jusuf Kalla ikut mengomentari terkait kebiasan merokok masyarakat Indonesia. Menurutnya, pemerintah tidak bisa melarang masyarakatnya untuk merokok, apalagi menihilkan keberadaan rokok di masyarakat.  Meski demikian, adanya sejumlah regulasi yang diterapkan, termasuk kawasan tanpa rokok (KTR) adalah upaya mengurangi jumlah perokoknya.

“Negara tidak mungkin melarang orang merokok. Karena, memang belum ada pengganti rokok. Selain itu, industri tembakau di negeri ini bisa tutup semua. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengurangi perokoknya dengan cara penerapan regulasi,” ujar Wapres Jusuf Kalla saat menghadiri Rembuk Desa Pencegahan Anak Kerdil (stunting) di desa Dakung, kecamtan Praya Tengah, Lombok Tengah, Kamis (5/7). Wapres didampingi Gubernur NTB TGH Zainul Majdi.

Wapres JK mengaku bangga lantaran di wilayah yang dikunjungi di Pulau Lombok. Salah satunya, di desa Dakung di Lombok Tengah ini, berjejar banyak tanaman tembakau.  Sehingga, jika ada pelarangan merokok maka akan bisa mematikan para petani tembakau di Lombok.

Oleh karena itu, adanya gerakan tidak merokok merupakan upaya menjaga kesehatan yang murah. Selain itu, membiasakan diri untuk berolahraga juga bagian penting untuk merawat tubuh tetap sehat dan bugar.

“Obat penting, tapi berolah raga merupakan kebiasaan sehat, tidak merokok merupakan upaya menjaga kesehatan yang murah,” tegas Jusuf Kalla.

Lantas, apa yang menyebabkan orang sangat sulit berhenti merokok? Penelitian terbaru mengungkapkan alasannya. Peneliti menemukan bahwa nikotin yang terdapat dalam rokok secara perlahan mengubah cara kerja otak seseorang dan melemahkan kemampuan seseorang untuk mengontrol keinginan mereka merokok.

Hasil ini didapatkan peneliti setelah melakukan pemindaian otak terhadap 37 perokok berusia 19 sampai 61 tahun. Scan otak dilakukan dua kali yaitu setelah mereka merokok, dan setelah mereka dilarang merokok selama 24 jam dan merasakan adanya efek kecanduan nikotin, seperti dilansir oleh Healthy Living (14/03).

Peneliti menemukan bahwa gejala penarikan nikotin dari tubuh akan melemahkan koneksi otak yang membuat perokok tak bisa mengendalikan keinginan mereka untuk merokok. Hal inilah yang membuat mereka semakin kesulitan untuk berhenti merokok karena tak bisa mengendalikan keinginan mereka untuk menyentuh rokok kembali.

“Gejala penarikan diri dari nikotin berkaitan dengan perubahan pada otak perokok,” ungkap peneliti Caryn Lerman dari Brain and Behavior Change Program di University of Pennsylvania.

Selanjutnya peneliti akan mengidentifikasi cara yang lebih efektif untuk membantu perokok berhenti. Mereka akan melakukan perawatan yang berbasis pada aktivitas otak dan konektivitas otak perokok. RUL.

 

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Pengobatan Gratis Inspiratif Expo On Site, Tangani Ratusan Pasien

MATARAM,DS-Inspiratif Expo On Site yang dirangkaikan dengan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan secara gratis dari dokter …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *