Senin , 7 Mei 2018
Home / Kesehatan / TGB Sebut Masyarakat Mulai Enggan Konsumsi Kelor
Gubernur Dr. TGH. Muhamad Zainul Majdi MA

TGB Sebut Masyarakat Mulai Enggan Konsumsi Kelor

MATARAM, DS – Masih tingginya kasus stunting atau anak yang mengalami pertumbuhan pendek akibat masalah kurang gizi mencapai 37,2 persen atau setara dengan 40 persen di NTB saat inim enjadi perhatian serius Gubernur Dr. TGH. Muhamad Zainul Majdi.

          Sebab, menurut TGB, dari delapan kabupaten di NTB yang telah menjadi proyek kesehatan dan gizi masyarakat MCC Compact (kerjasama kemitraan pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia), justru kasus stunting yang tertinggi terjadi di Lombok Barat (Lobar).

“Oleh karena itu, program penanganan stunting ini akan tetap kita lanjutkan kendati kegiatan Milenium Challenge Corporation (MCC) telah berakhir tahun ini,” ujar Gubernur menjawab wartawan, Senin (7/5).

          TGB menegaskan, tingginya kasus stunting umumnya dipicu adanya perubahan prilaku sosial masyarakat yang enggan mengkonsumsi makanan bergizi di sekitar mereka. Masyarakat menganggap makanan yang biasa dimakan waktu kecil. Diantaranya, singkong dan kelor, dirasa tidak bergensi.

          Padahal, mereka sesungguhnya tidak memahami, manakala makanan disekitar mereka itu memiliki kandungan gizi tinggi. Akibatnya, banyak turis asing yang datang ke NTB, mulai Amerika Serikat dan Jepang berbondong-bondong datang hanya sekadar mencari makanan berbahan kelor dan ubi-ubian.

“Disinilah kita perlu melakukan edukasi kepada masyarakat, terkait pentingnya mengkonsumsi sumber makanan bergizi yang berada disekitar kita, karena memiliki gizi yang baik bagi tubuh. Yakni, proteian, karbohidrat dan kalsium,” kata Gubernur.

Ia mengaku, pemberian makanan tambahan yang selama ini telah digalakkan kepada seluruh bayi dan balita di NTB akan juga tetap dilanjutkan. Mengingat, memberi edukasi pada masyarakat bukanlah merupakan pekerjaan mudah.

Lantaran, kata TGB, iklan makanan, salah satunya mie instan di semua stasiun televisi, apalagi disantap satu keluarga dalam acara sinetron kejar tayang akan pasti banyak diburu dan dibeli oleh masyarakat. Terlebih, jika ada pembukaan cabang makanan cepat saji, misalnya di salah satu desa di Lotim sudah pasti akan dibanjiri oleh masyarakat yang akan datang ke tempat itu.

“Memang, tugas berat untuk kita membangun kembali kampenye budaya makan bergizi dan bukan makan bergensi. Ini tidak bisa kita serahkan ke SKPD, karena adanya iklan moderan yang sangat masive itu, jelas menimbulkan pengaruh. Apalagi, ditampilkan makanan keluarga saat acara sinetron,” jelas Zainul Majdi.

Ia menjelaskan, membangun kesadaran bahwa stunting tidak saja hanya sekadar memberi makanan tambahan, tapi bagaimana mengubah pola makan keluarga NTB supaya lebih sehat dan bergizi bukanlah tugas yang pendek.

          “Memang ini perlu waktu yang tidak bisa pendek, tapi harus kita lakukan secara terus menerus terkait edukasi kepada seluruh masayarakat itu,” tandas Zainul Majdi. hm

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

BHAKSOS PEMERIKSAAN KESEHATAN, SASAR PASAR MANDALIKA

MATARAM,DS-Wakil Ketua I TP. PKK Provinsi NTB Hj. Syamsiah M. Amin dan jajarannya, Sabtu pagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *