Jumat , 17 Agustus 2018
Home / Kesehatan / Tangani Gempa, Koordinasi BPBD NTB Tak Berjalan Baik Isvie : Bantuan Jangan Ditahan-Tahan
Hj. Baiq Isvie Rupaedah

Tangani Gempa, Koordinasi BPBD NTB Tak Berjalan Baik Isvie : Bantuan Jangan Ditahan-Tahan

 

MATARAM, DS – Ketua DPRD NTB Hj. Baiq Isvie Rupaedah MH, memahami fakta kesimpangsiuran perbedaan data korban gempa Lombok. Menurutnya, perbedaan data itu, lantaran koordinasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB dengan sejumlah pihak terkait diantaranya, TNI dan Kepolisian tidak berjalan dengan baik di lapangan.

“Hal ini juga karena minimnya SDM dari BPBD dan fasilitas yang mereka miliki. Sehingga, kami masih bisa menoleransi adanya perbedaan data korban akibat gempa bumi kali ini,” ujar Isvie menjawab wartawan di rumah dinas Ketua DPRD NTB di Jalan Langko, Kota Mataram, Senin (10/8).

Isvie mengaku, perbedaan data itu telah mengundang persoalan ditengah masyarakat. Salah satunya, menyangkut jumlah korban yang meninggal dunia.

Sekretaris DPD Golkar NTB itu menyebut, dari laporan masyarakat yang diterimanya, justru jumlah korban yang meninggal dunia mencapai sekitar 400 orang. Sementara, data BPBD NTB malah tidak bergerak hingga kini, yakni tetap dikisaran kurang lebih 300 orang korban yang meninggal dunia.

“Bisa jadi karena perbedaan pengambilan data di sana. Seharusnya basis data itu adalah RT dan bukan tingkat kecamatan. Sehingga, akurasinya bisa tepat,” tegas Isvie.

Dalam kesempatan itu Isvie juga menyoroti distribusi bantuan bagi korban terdampak gempa bumi yang hingga kini tidak merata. Sehingga, menjadi keluhan masyarakat.

Oleh karena itu, ia menyarankan, distribusi bantuan juga perlu melibatkan aparat TNI/Polri juga Ketua RT, sehingga akurasinya bisa tepat pada penerimanya.

“Kalau untuk masyarakat, tidak usahlah terlalu formal dan pakai birokrasi panjang. Jika sudah ada jaminan dari RT dan TNI/Polri maka kasih saja mereka, jangan ditahan-tahan kayak sekarang ini,” tandas Isvie Rupaedah.

Sebelumnya, Menko Polhukkam Wiranto juga meminta maaf terkait kesimpang siuran perbedaab data korban meninggal akibat gempa Lombok. Wiranto mengklaim adanya perbedaan pengambilan data di lapangan oleh setiap institusi. Ada satu insititusi yang sumbernya berdasarkan laporan-laporan dari penduduk dan secara formal kepada aparat-aparat desa.

“Tapi ada pendataan langsung yang door to door oleh Koramil, Babinsa, Binpolda. Itu belut-betul mendata yang meninggal, yang langsung dikubur, tidak sempat dilaporkan. Itu jumlahnya lebih besar,” katanya.

Hasil dari pendataan yang terakhir ia terima, ada sebanyak 319 korban jiwa akibat gempa bumi berkekuatan 7 skala Richter itu. Agar tak terjadi kesimpangsiuran data lagi, mantan Panglima ABRI itu meminta seluruh pihak yang mendata untuk melakukan verifikasi terlebih dahulu secara bersama-sama sebelum diinfomasikan ke publik.

“Karena saya sudah memerintahkan untuk ada satu kepaduan humas di sana sebelum diumumkan ke publik, disesuaikan dulu jumlah orang meninggal, luka berat, dan sebagainya,” ujar Wiranto.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban jiwa yang meninggal akibat gempa bumi yang mengguncang NTB, Ahad (5/8) mencapai 259 jiwa. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, disepakati bahwa data resmi adalah dari Posko Utama yang selanjutnya BNPB yang menyampaikan ke luar kepada masyarakat dan media sebagai data resmi.

“Hingga Kamis (9/8) pukul 17.00 WIB (H+4), jumlah korban meninggal dunia akibat gempa 7 skala richter (SR) yang mengguncang NTB dan Bali adalah 259 jiwa yang terverifikasi meninggal dunia,” katanya seperti dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Kamis lalu.

Perinciannya, kata dia, di Kabupaten Lombok Utara 212 orang, Lombok Barat 26 orang, Lombok Timur 11 jiwa, Kota Mataram enam orang, Lombok Tengah dua orang, dan Kota Denpasar dua orang. Ia menambahkan, data ini masih akan terus bertambah mengingat tim pencari dan penyelamat (SAR) masih menemukan korban di reruntuhan bangunan dan masih diidentifikasi. “Sehingga data korban meninggal dunia akan bertambah,” ujarnya.

Tak hanya itu, sebanyak 1.033 orang luka berat dan masih dirawat inap di rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Kemudian pengungsi sebanyak 270.168 orang yang tersebar di banyak tempat.

Jumlah pengungsi ini juga sementara karena belum semua pengungsi terdata baik. Kerusakan fisik meliputi 67.857 unit rumah rusak, 468 sekolah rusak, enam jembatan rusak, tiga rumah sakit rusak, 10 puskesmas rusak, 15 masjid rusak, 50 unit mushola rusak, dan 20 unit perkantoran rusak. “Angka ini juga sementara,” katanya. RUL.

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Dampak Gempa, 30 an KK Warga Punia Bermalam di Kuburan

MATARAM,DS-Sebanyak 30 an KK warga Punia Saba, Kelurahan Punia, Kota Mataram, mengungsi sekaligus bermalam di …

No comments

  1. Your comment is awaiting moderation.

    Hello, I think your blog might be having browser compatibility issues.
    When I look at your website in Opera, it looks
    fine but when opening in Internet Explorer, it has some overlapping.
    I just wanted to give you a quick heads up!

    Other then that, excellent blog! //bitly.kr/LivaliSkinCare30704

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *