Rabu , 4 Oktober 2017
Home / Kesehatan / Lobar dan Lotim jadi Lokasi Pilot Project Penurunan Pheumonia
Wagub pada acarapencanangan program demonstrasi imunisasi pneumokokus konyugasi di Puskesmas Gunungsari, Lobar

Lobar dan Lotim jadi Lokasi Pilot Project Penurunan Pheumonia

MATARAM, DS –  Bahaya penyakit pneumonia dipastikan masuk katagori The Forgotten Killer (pembunuh yang terlupakan).  Itu menyusul, jika merujuk kasusnya maka, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia setelah diare, bagi balita. Sayangnya, meski pneumonia masih menjadi penyebab kematian utama pada bayi di bawah usia 2 tahun, namun justru belum banyak masyarakat yang mengetahui hal tersebut saat ini.

“Ini dipicu masyarakat menganggap penyakit pneumoniasebagai batuk biasa. Sukar bagi ibu untuk mengetahui anaknya menderita pneumonia kecuali kondisinya telah parah, antara lain ditunjukkan dengan sesak napas berat. Harus diingat bahwa perjalanan penyakit dari batuk menjadi pneumonia berlangsung cepat sehingga seringkali tidak tertolong,” tegas Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan dr HM Subuh MPPM saat membuka pencanangan program demonstrasi imunisasi pneumokokus konyugasi di Puskesmas Gunungsari, Lobar, Selasa (3/10).

Ia mengatakan, kegiatan imunisasi pneumokokus akan menyasar dua wilayah di Pulau Lombok. Yakni, Lombok Barat dan Lombok Timur. Langkah ini menjadi salah satu upaya menekan tingginya kasus bayi dan balita di NTB yang mengidap pneumonia di NTB. Terlebih, sebanyak 6,38 persen balita di NTB dari total angka nasional sebesar 3,55 persen saat ini mengidap penyakit pneumonia itu.

“Pneumonia tertinggi terjadi di NTB, makanya tolak ukur keberhasilan penurunan kasus pneumonia hanya bisa dilakukan di daerah yang tinggi kasusnya, yakni NTB. Karena, keberhasilan imunisasi menurunkan di NTB akan menjadi lokus penurunan nasional,” ujar dr HM Subuh MPPM.

Menurutnya, imunisasi pneumokokus yang kini dilakukan, tidak lain merupakan program warisan atas suksesnya tiga program nasional yang tercatat merupakan salah satu keberhasilan Indonesia dibidang kesehatan selama ini. Diantaranya, imunisasi cacar, polio dan tetanus.

Oleh karena itu pemberian vaksin baru secara nasional, yaitu vaksin polio inaktif (IPV), rubella (MR), rotavirus, Japanese ensefalitis dan pneumokokus (PCV) melalui demontsrasi vaksin pneumokokus menggunakan vaksin PCV 13 di Lobar dan Lotim kali ini, merupakan upaya mencegah dan menurunkan kasus pneumonia di Indonesia.

Terlebih, kata Subuh, merujuk data WHO tahun 2015 lalu, tercatat 5,9 juta kematian balita atau 15% dalam satu tahun, akibat pneumonia. Selain itu, Indonesia masuk dalam 10 besar negara dengan kematian akibat pneumonia tertinggi yakni setidaknya 2-3 anak meninggal setiap jam.

“Pemberian vaksin pneumokokus saat ini tidak lain untuk mencegah pneumonia. Oleh karena itu, pemerintah konsen akan fokus menurunkannya melalui program imunisasi yang dihelat hingga tahun 2020.  Dan NTB, jadi pilot project penurunannya secara nasional,” kata Subuh.

Data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi pneumonia memang sudah menurun tetapi insiden masih 1,8% atau 24 balita meninggal setiap 4 jam karena pneumonia. Oleh karenanya, pemerintah intesif melakukan kampanye mengenai pneumonia setiap tahun, melakukan advokasi dan edukasi kepada tenaga kesehatan dan kader-kader kesehatan.

Hal ini, lanjut dia, dilakukan supaya masyarakat lebih aware terhadap penyakit ini. Semakin cepat gejala-gejalanya diketahui dan ditangani, penyembuhannya pun akan semakin cepat. “Selain pemberian vaksin untuk pneumonia seperti saat ini, kita butuh adanya kerjasama yang solid dengan pemerintah daerah untuk dapat mengurangi tingkat penderita pneumonia, di antaranya penguatan larangan merokok di tempat umum dan kampanye ASI eksklusif yang lebih luas,” tandas Subuh.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTB H. Muhamad Amin mengaku, penyebab tingginya kasus pneumonia di NTB saat ini, tidak lain dipicu masalah lingkungan dan perilaku masyarakat.Yakni, faktor lingkungan yang padat dan kumuh.

Oleh karena itu, diperlukan sinergisitas dan singkronisasi terkait regulasi antar pemprov dan 10 pemda di NTB untuk dapat merubah pola hidup masyarakat agar terhindar dari kasus pneumonia itu. “Disinilah perlu adanya dukungan seluruh masyarakat. Bila perlu kita harus memaksa agar bisa terbiasa dengan pola hidup yang sehat. Termasuk, bagaimana kita wajibkan mereka mau datang ke Puskesmas untuk mengikuti imunisasi pneumononia ini,” ujar Amin.

Menurutnya, sudah menjadi kewajiban anak memperoleh hak kesehatan yang baik. “Kita wajibkan para orang tua menyukseskan program nasional yang berada di NTB dengan datang ke Puskesmas,” tandas Wagub Amin.

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

RAKYAT SEHAT, NKRI KUAT

MATARAM,DS-Wakil Gubernur NTB H. Muh Amin, SH.,M.Si mengatakan kebutuhan SDM kesehatan yang profesional dan inovatif …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *