Jumat , 6 Juli 2018
Home / Kesehatan / Generasi Kerdil Merusak Ekonomi Masa Depan
Wapres H. Jusuf Kalla saat berinteraksi dengan anak-anak TK Terintegrasi dengan Posyandu dalam kunjungannya ke kampung stunting di Desa Dakung, kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah,

Generasi Kerdil Merusak Ekonomi Masa Depan

LOTENG, DS –”Ini bukan masalah sekarang, tetapi kita bicara akibat dari ’stunting’ ini untuk 20 sampai 30 tahun ke depan. Kalau generasi kita kerdil maka akan merusak produktivitas, merusak ekonomi masa depan,” kata Wapres Jusuf Kalla.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan, program pemberantasan pertumbuhan anak kerdil atau stunting dihajatkan agar generasi Indonesia tidak memiliki otak yang kerdil. Oleh karena itu, stunting harus dicegah sejak dini untuk menghindari generasi yang tidak produktif di masa mendatang.

“Kalau anak yang lahir hari ini tidak diberikan asupan gizi yang baik, baik ibu dan anaknya maka 20 atau 30 tahun yang akan datang generasi kita akan menjadi generasi yang kerdil. Bangsa yang punya generasi kerdil itu pasti produktivitasnya rendah,” tegas Wapres Kalla saat menghadiri Rembuk Desa Pencegahan Anak Kerdil (stunting) di desa Dakung, kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah, Kamis (5/7).

Wapres yang dalam kunjungannya didampingi Gubernur NTB TGH Zainul Majdi mengemukakan kondisi kerdil biasanya disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang diperoleh bayi dalam periode usia 1000 hari. Kurangnya gizi tersebut bisa bersumber dari asupan ibu sejak mengandung dan gejalanya bisa terlihat ketika sang anak berusia dua tahun.

Menurut JK, Indonesia menjadi negara tertinggi keempat di dunia dengan anak kerdil sehingga hal itu menjadi perhatian Pemerintah untuk menggalakkan kampanye pemenuhan gizi ibu hamil dan anak-anak.

“Jadi ini tentu menjadi tanggung jawab bersama, bagaimana perilaku harus kita ubah. Tentu sudah dijelaskan tentang penyebabnya, apa yang harus dilakukan, tentang asupan ASI dan gizi, dan juga layanan kesehatan. Oleh karena itu, kita ingin hidupkan lagi kampanye ini,” ujar Wapres Jusuf Kalla.

Kurangnya asupan gizi pada anak tersebut menyebabkan sistem pertumbuhan menjadi terhambat, anak akan memiliki tubuh pendek dan kecil. Selain itu, perkembangan otak pada anak juga tidak maksimal sehingga membuat minat belajar berkurang.

“Ini bukan masalah sekarang, tetapi kita bicara akibat dari ’stunting’ ini untuk 20 sampai 30 tahun ke depan. Kalau generasi kita kerdil maka akan merusak produktivitas, merusak ekonomi masa depan,” kata JK .

Sementara itu, Menteri Kesehatan, Nila Djuwita F Moeloek, menjelaskan kasus malnutrisi, seperti gizi buruk dan stunting, masih menjadi masalah yang harus diselesaikan di Indonesia.

Nila mengatakan sepertiga dari total jumlah balita di Indonesia mengalami kekerdilan, dan hal itu menyebabkan potensi kerugian ekonomi hingga tiga persen per produk domestik bruto setiap tahunnya.

“Sehingga, persoalan stunting pada anak akan berdampak pada kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia ke depan. Studi menunjukan bahwa potensi kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh stunting mencapai 2-3 % PDB setiap tahunnya,”  tandas Menkes menjawab wartawan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla yang didampingi Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, mengunjungi desa Dakung, kecamatan Praya Tengah, NTB untuk melihat dari dekat berbagai program pencegahan stunting (kekerdilan anak) dan upaya konvergensi pada tingkat desa.

Adapun dalam kunjungan tersebut, wakil presiden didampingi oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadi Muljono, serta Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo.

Dalam kunjungannya kali ini, orang nomor dua di Indonesia tersebut, menerima laporan Ketua Kelompok Kerja Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Elan Satriawan, yang didampingi oleh Program Leader for Human Development – World Bank Indonesia, Camilla Raad Holmemo untuk progres penanganannya. Selanjutnya, Jusuf Kalla akan meninjau Pos Kesehatan desa dan berdialog dengan masyarakat.

Setelah itu, Jusuf Kalla juga melihat langsung Posyandu Terintegrasi TK, dan Kegiatan Penerima Manfaat Keluarga Harapan (PKH). Usai peninjauan, wakil presiden akan langsung kembali ke Jakarta.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk menangani masalah anak kerdil (stunting), yang ditunjukkan dengan berbagai upaya yang telah dilakukan selama ini. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 37 persen atau kurang lebih 9 juta anak balita di Indonesia mengalami masalah stunting.

“Ini membahayakan untuk jangka panjang. Disamping berakibat pada bangsa secara keseluruhan, berakibat untuk ibu-ibu,” tandas Wapres JK.

Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi, dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah lainnya. Prevalensi stunting di Indonesia masuk dalam kelompok tinggi, bersama negara-negara Afrika dan Asia Selatan. Apabila persoalan ini tidak segera diatasi, maka akan berpengaruh terhadap kinerja pembangunan Indonesia baik yang menyangkut pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan ketimpangan.

 

Langkah Kemenkes

Untuk mengatasi stunting, pemerintah telah menyiapkan dua program yaitu program yang bersifat spesifik dan program yang sensitif.

Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek menjelaskan, program bersifat spesifik adalah berkaitan dengan kesehatan seperti pemberian Air Susu Ibu (ASI) ekslusif pada anak.

“Saya kira pemberian ASI eksklusif kita tingkatkan kesadaran pemberian ASI eksklusif. Ini akan terus kita galalakkan secara masive,” ucapnya.

Untuk program yang sensitif, lanjut Nila, contohnya adalah akses air bersih dan sanitasi yang akan dilakukan dengan bekerja sama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PERA).

“Jadi prilaku juga memang masuk, (pemberitahuan) di sekolah-sekolah, itu penting,” ujar Nila Djuwita F Moeloek. RUL.

 

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

PKK NTB DIAPRESIASI PUSAT

MATARAM,DS-Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB, Hj Erica Zainul Majdi, mengungkap rasa syukur dan dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *