Jumat , 25 Mei 2018
Home / Kesehatan / Biasanya Pelaku Teror Bom Alami Gangguan Keperibadian
Dr. Elly Rosila W. SpKJ MM

Biasanya Pelaku Teror Bom Alami Gangguan Keperibadian

MATARAM, DS – Aksi teror bom yang terjadi di Mako Brimob, Mapoltabes Surabaya serta bom bunuh diri tiga gereja di Surabaya, bom Sidoarjo dan terakhir, penyerangan di Mapolda Riau benar-benar di luar nalar warga Indonesia. Pasalnya, dari sejumlah pelakunya, ada diantara mereka yang merupakan seorang ibu yang dalam aksinya tega mengajak dua putri kecilnya untuk meledakkan diri.

Terkait hal itu, Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma NTB, Dr. Elly Rosila W. SpKJ MM, angkat bicara. Ia menilai, para pelaku terorisme biasanya memiliki gangguan kepribadian, anti sosial, gangguan jiwa dan depresi.  Akibatnya, mereka akan gampang dipengaruhi oleh paham apapun.

“Pokoknya, siapapun jika dalam kondisi galau dan kondisi kepribadiannya ada masalah dan gangguan maka doktrin yang melanggar aturan. Salah satunya, melakukan pengeboman untuk mati syahid akan mudah diterima,” ujar Ely menjawab wartawan di ruang media center, komplek kantor gubernur NTB, Kamis (24/5).

Ia juga tak habis pikir mengapa orangtua tega melibatkan buah hatinya dalam aksi terorisme. Menurut Elly, jika dilihat dari foto yang beredar luas, terduga pelaku tampak sebagai keluarga yang harmonis.

“Kalau saya lihat foto keluarga itu kayak keluarga harmonis. Saya nggak ngerti bagaimana anak juga dilibatkan dalam aksi teror. Anak kan pasti kita jaga. Kalau dicubit orang saja kita nanya kenapa dia cubit. Normalnya begitu. Tapi ini justru dilibatkan,” ujar Elly.

Ia mengaku pernah memiliki pasien anak terlantar yang jiwanya tengah mengalami gangguan. Hal itu diketahui dari deteksi statusnya di postingan yang dia unggah pada status media sosialnya selama ini. Dimana, kata Elly, terlontar keinginan mati syahid membela ajaran agama Islam.

“Saat itu, saya merawatnya butuh waktu lama, karena kita wawancara dan pelajari dulu kepribadiannya. Alhamdulilah, setelah kita tahu kenapa jiwanya terganggu karena memang ada persoalan di keluarga, sehingga pola asuh pendekatan keluarga yang saya kedepankan, dan pasien itu pun sembuh,” jelasnya.

Untuk itu, Elly menjelaskan pola asuh berperan besar dalam menentukan masa depan anak di masa mendatang. Selain itu, pendidikan juga turut memengaruhi bagaimana pola asuh orangtua terhadap buah hatinya.

“Saya melihat penguatan keluarga melalu gaya pengasuhan sangat penting luar biasa. Namun kalau orangtua tidak berpendidikan, maka cara mendidiknya akan berbeda dengan yang berpendidikan. Yang berpendidikan juga belum tentu sempurna. Saya juga nggak mengerti apa yang ada di pikiran mereka,”  ungkapnya.

Jika pelaku teror bom dalam melakukan aksi mereka karena keyakinan dan jihad, dipastikan hal tersebut sulit disembuhkan. “Kecuali jika mereka mau dites, dirawat dan dibina dengan waktu yang lama,” tandasnya. RUL.

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Digelontor Rp 31,22 Miliar untuk Proyek Rumah Warga Miskin NTB

LOTENG, DS – Bantuan pembangunan rumah layak huni (RLH) tipe 21 yang dirintis pemprov NTB …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *