Rabu , 11 Oktober 2017
Home / Kesehatan / 1.409 Penderita Gangguan Jiwa di NTB Dipasung
Direktur Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma Mataram, dr. Elly Rosila Wijaya, Sp.KJ

1.409 Penderita Gangguan Jiwa di NTB Dipasung

MATARAM, DS – Sebanyak 9.800 orang dari total 4,6 juta jiwa penduduk NTB mengalami gangguan berat alias gila. Parahnya, dari jumlah tersebut  1.409 orang diantaranya dipasung pihak keluarganya.

Sejak periode tahun 2011-2016, Pemprov NTB melalui Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma Mataram mengklaim telah mampu membebaskan sebanyak 571 orang yang telah diberikan pengobatan melalui Sistem Rujukan Komunikasi Tiga Pilar untuk menyisir masyarakat yang dipasung karena menderita gangguan jiwa berat.

“Itu artinya, masih ada sekitar 478 orang yang masih dipasung hingga kini. 478 orang itu jadi pekerjaan rumah yang harus bisa kita tuntaskan hingga tahun 2020 sesuai target RPJMD guna melengkapi sebanyak 571 orang yang kini kita rawat intensif,” ujar Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma Mataram, dr. Elly Rosila Wijaya, Sp.KJ menjawab wartawan dalam pres conference hari kesehatan jiwa yang jatuh pada 10 Oktober di kantornya, Selasa (10/10).

Menurutnya, angka mencapai 9.800 orang yang mengalami gangguan berat itu setara dengan 2,1 persen dari total penduduk di NTB saat ini. Selain itu, sampai akhir 2016 lalu, RSJ sudah menemukan 577 penderita gangguan jiwa yang dipasung. Artinya, masih ada sekitar 800 orang yang belum ditemukan.

“Memang ada kecenderungan keluarga penderita gangguan jiwa ini menyembunyikan anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa. Padahal, kita sudah menyiapkan segala biaya perawatannya melalui program BPJS,” ungkap Elly.

Ia menuturkan, efektifitas program Sistem Rujukan Komunikasi Tiga Pilar untuk menyisir masyarakat yang dipasung karena menderita gangguan jiwa berat dirasa sangat efektif. Lantaran, tiga pilar, yakni RSJ, Puskesmas dan keluarga dilibatkan secara efektif. “Apalagi, Puskesmas yang dikerjasamakan dengan Dinas Kesehatan (Dikes) NTB dan kabupaten/kota tugasnya melakukan pendataan. Tahun ini, kita fokuskan kesana, yakni mendata warga yang menderita gangguan jiwa untuk diobati,” jelas Elly.

Puskesmas, kata dia, merupakan ujung tombak Dikes dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi yang intensif antara ketiga pilar tersebut supaya penderita gangguan jiwa berat tidak dipasung. “RSJ tugasnya melakukan supervisi, memberikan penguatan dan bimbingan kepada dokter, perawat dan kader di Puskesmas. Kemudian petugas Puskesmas membimbing keluarga itu memberikan edukasi, penyuluhan dan pelayanan,” kata Elly.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi mengaku, jika pihaknya telah melakukan pelatihan terhadap para dokter, perawat dan petugas Puskesmas terkait pengetahuan mengenai kesehatan jiwa. Diharapkan, mereka pro aktif memberikan pemahaman kepada keluarga penderita gangguan jiwa agar tak melakukan pemasungan. “Prinsipnya, penderita gangguan jiwa dapat disembuhkan, produktif lagi dan masih dapat berkarya apabila diobati,” tegasnya.

Nurhandini mengatakan, para penderita gangguan jiwa berat tidak boleh putus minum obat. Sebab, mereka ini sama dengan penderita kencing manis yang harus melakukan hal serupa. “Kita ibaratkan penderita gangguan jiwa ini, yakni jika mereka berhenti meminum obat maka gula darah akan naik. Sehingga, para penderita gangguan juga harus terus menerus meminum obat,” ujarnya.

Mantan Kadis Kesehatan Lombok Tengah ini menuturkan, jika jumlah tenaga psikiater di NTB berjumlah 10 orang. Rinciannnya sebanyak 9 orang berada di Kota Mataram dan satu orang berada di wilayah Pulau Sumbawa. Sementara, sebanyak 80 Puskesamas telah diajak berkerjasama menyukseskan program Sistem Rujukan Komunikasi Tiga Pilar di semua wilayah NTB.

“Karena cakupannya masih 90 persen untuk tenaga psikiater, maka kita libatkan pihak Puskesmas. Oleh karena itu, disinilah pentingnya kerjasama dengan Puskesmas. Karena  kuncinya untuk memberikan pengobatan itu adalah masyarakat NTB harus mempunyai akses yang cepat, tepat, terjangkau. Yang paling dekat dengan mereka adalah Puskesmas. Sementara selama ini Puskesmas belum ada pelayanan jiwanya, belum ada ahlinya,” tandas Nurhandini Eka Dewi.fahrul

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

WAGUB SEBUT PANAHAN KIAN DIMINATI MASYARAKAT NTB

MATARAM,DS-Saat membuka turnamen memanah Piala Gubernur NTB yang bertajuk Indoor Archery Tournament 2017, di GOR …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *