Sabtu , 17 November 2018
Home / Hukum / Minta Ibunya Tak Sekolah Lagi, Anak Baiq Nuril Surati Presiden Jokowi
Inilah surat yang ditulis Rafi, putra Baiq Nuril pada Presiden Jokowi

Minta Ibunya Tak Sekolah Lagi, Anak Baiq Nuril Surati Presiden Jokowi

LOBAR, DS – Lalu Muhamad Rafi, siswa kelas 1 pada SDN Karang Bongkot, kecamatan Labuapi, Lombok Barat menulis surat pada Presiden Jokowi Widodo. Anak ketiga dari Baiq Nuril Maknun (36) itu mengirim surat agar ibunya tidak lagi pergi meninggalkannya untuk bersekolah lagi.

 

Baiq Nuril, korban UU ITE yang menangis setelah mendengar putusan dari Mahkamah Agung

Surat yang ditulis Rafi pada buku tulis yang dibawanya sekolah setiap hari tidak lain merupakan bentuk upaya keadilan hukum atas kasus yang kini menjerat ibunya yang telah divonis melanggar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Padahal, ibunya merupakan korban pelecahan seksual.

“Saya minta pak Presiden Bapak Jokowi, Jangan suruh ibu saya bersekolah lagi, dari Rafi,” ujar Rafi menjawab wartawan di kediamannya di BTN LHP Telagawaru, kecamatan Labuapi, Lobar, Jumat (16/11).

Sambil memegang handphone orangtuanya. Rafi dengan polosnya mengaku, tahu betul persoalan yang kini dialami oleh ibunya itu. “Ibu sering cerita, kalau dia tidak salah tapi tetap disekolahkan. Pokoknya, ibu tidak boleh sekolah lagi, saya ingin terus bersama ibu,” kata Rafi.

Sementara itu, Baiq Nuril, Baiq Nuril, mengaku, pada kasus tahun 2017 lalu, dirinya sering mengajak putranya (Lalu Muhamad Rafi) ikut menghadiri pemeriksaan di Kejaksaan Negeri (Kejari) Mataram. Bahkan, saat ia langsung ditahan pun, Rafi ikut didalam selnya.

“Disitu anak saya, nanya kok ibu sekolah di kantor polisi. Memang berat menjelaskan, tapi ya harus saya jalani sambil membawa buku dan tas sekolah Rafi,” ungkap Nuril sambil meneteskan air matanya.

Ia menuturkan, untuk dua anaknya, lantaran sudah dewasa. Yakni, SMA dan SMP, sepertinya sudah memaklumi kasus yang dialami itu. “Tapi, anak yang kecil ini, terus bertanya-tanya karena pas pemeriksaan, dia selalu ikut mendampingi,” kata Nuril.

Pascadivonis bebas oleh Pengadilan Negeri (PN) Mataram. Baiq Nuril mengaku, senang. Sebab, ia bisa berkumpul bersama keluarga besarnya. Namun, baru mengeyam beberapa bulan kumpul bersama keluarga, justru putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) malah menjatuhkannya vonis bersalah.

Nuril pun bersiap memperoleh hukuman enam bulan kurungan dan denda Rp 500 juta. Sehingga, ia pun merasa kaget atas putusan MA itu yang mengganggapnya bersalah menyebarkan percakapan asusila Mantan Kepala Sekolah SMU 7 Mataram, Muslim beberapa waktu lalu itu.

“Putusan MA ini yang membuat saya kaget, yakni bagaimana lagi menjelaskannya pada anak-anak yang sudah beberapa bulan senang bisa kumpul lagi dengan saya,” ucapnya.

Nuril menjelaskan, jika ia sering mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh kepala sekolah tempatnya dulu bekerja. Bahkan, Mantan Kepseknya itu sempat dipindah ke LPMP NTB, namun informasi yang diperolehnya semua staf di instansi tersebut menolak kehadiran Muslim.

“Sehingga, Pak Muslim balik ke Dinas Pendidikan Kota Mataram, tapi malah kini promosi menjadi Kepala Bidang (Kabid),” ungkapnya.

Baiq Nuril akhirnya memberanikan diri untuk merekam percakapan asusila yang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMA 7 Mataram. Namun, hal tersebut berbuntut pada kasus dugaan pelanggaran UU ITE. ”Waktu itu, Kepsek  sempat menggoda dan mengajak saya berhubungan badan. Bahkan, pernah juga saya diajak ke hotel,” ungkapnya menjawab wartawan di kediamannya di Labuapi Lobar, kemarin.

Menurut dia, gara-gara kasus itu, ia berhenti dari pekerjannya dan kini jualan kue untuk menyambung hidup dan mengajar ngaji. “Saya tidak hitung seberapa. Saya tidak pernah minta. Seikhlasnya mereka saja,” ujar Nuril menjawab wartawan, kemarin.

Baiq Nuril pascaberhenti menjadi TU di SMAN 7 Mataram, kini setiap harinya menerima pesanan pembuatan kue dari para tetangganya. Sehabis waktu Magrib ia juga diminta mengajarkan ngaji bagi anak-anak tetangga di komplek perumahan tempat tinggalnya di Labuapi, Lombok Barat.

Honor yang didapatkannya tak seberapa. Selain itu, Nuril juga ikut dipercaya sebagai panitia saat pemilihan kepala daerah dan desa. Sedangkan pekerjan suaminya Isnaini (40) bekerja serabutan sejak berhenti jadi pramuniaga di Gili Trawangan. Kini Isnaini terdaftar jadi tukang ojek online.

“Luar biasa. Sedangkan saya aja, boro-boro mau bayar denda 500 juta, untuk keperluan anak aja sudah kayak begini. Untuk keperluann sekolah apa. Ini pun untuk kebutuhan sehari-hari aja masih kurang,” tegasnya.

Nuril memiliki tiga buah hati. Ketiga anaknya sedang membutuhkan biaya yang nilainya cukup besar untuk menuntaskan pendidikan mereka. Pendapatan Nuril dan suaminya tak seberapa. Apalagi ditambah dengan biaya kebutuhan untuk hidup sehari-hari ia merasa sangat kurang.

“Saya minta keadilan, seandainya putusan MA itu pun yang paling tinggi, apa tidak bisa dibatalkan oleh yang paling tinggi seperti presiden. Saya cuma minta keadilan, itu saja,” pungkas Baiq Nuril.

Terkait rencana pengacara Hotman Paris Hutapea yang akan membantu membelanya atas vonis bersalah telah melanggar Pasal 27 ayat 1 UU ITE karena dianggap menyebarkan informasi elektronik yang mengandung muatan asusila. Nuril menambahkan, ia baru mengatahui informasi rencana pembelaan itu melalui status instagram milik pengacara kondang itu.

“Kalau ketemu langsung dan bertatap muka saya belum pernah sama sekali dengan pak Hotman. Yang pasti, saya bersyukur atas rencana pembelaan dari beliau (Hotman Patis Hutapae). Ini sama kayak suport dari semua warga komplek perumahan dan seluruh keluarga yang sejak awal bersatu dan mendukung perjuangan saya untuk memperoleh keadilan itu,” jelas Baiq Nuril.  RUL

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Mendagri: Waspadai Ancaman Radikalisme dan Terorisme

Jakarta, DS-Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo menekankan agar para sekretaris daerah (sekda) provinsi mencermati …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *