Minggu , 9 Desember 2018
Home / Hukum / Guru Dilecehkan Oknum Kepsek Malah Kena Didenda Rp 500 Juta, Baiq Nuril Minta Presiden Jokowi Turun Tangan
Baiq Nuril, korban UU ITE yang menangis setelah mendengar putusan dari Mahkamah Agung

Guru Dilecehkan Oknum Kepsek Malah Kena Didenda Rp 500 Juta, Baiq Nuril Minta Presiden Jokowi Turun Tangan

MATARAM, DS – Putusan Mahkamah Agung (MA) menjatuhkan vonis bersalah terhadap Baiq Nuril dengan enam bulan kurungan dan denda Rp 500 juta mengejutkan sejumlah pihak. Nuril yang merupakan staf Tata Usaha (TU) di SMAN 7 Mataram divonis bersalah menyebarkan percakapan asusila Kepala Sekolah SMU 7 Mataram Muslim.

“Jujur kami kaget, sampai sekarang kami belum tahu pertimbangan dari majelis kasasi seperti apa, kita masih menunggu,” ujar Koordinator Hukum, Joko Sumadi, kepada wartawan, Kamis (15/11).

Joko mengakui, Pengadilan Negeri Mataram membebaskan Nuril dari segala dakwaan pada Juli tahun 2017 lalu. Namun, jaksa mengajukan kasasi sehingga keluar putusan dari MA pada Jumat (8/11) tentang putusan yang menyatakan Nuril bersalah.

Selanjutnya, MA mengabulkan kasasi Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB. Kendati demikian, Joko tetap pada keyakinan Nuril tidak bersalah karena hanya merekam percakapan mesum tersebut.

“Kami tetap beranggapan Nuril tidak bersalah karena yang menyebarkan percakapan bukan Nuril. Dia hanya merekam, yang menyebarkan sudah diakui dalam persidangan,” jelasnya.

Joko mengatakan, pihaknya hingga kini masih menunggu salinan putusan dari MA terkait hal tersebut. Selain itu, sudah ada juga penggalangan dana dari kitabisa.com untuk membantu membayar denda tersebut.

“(Nuril) sudah menjalani pidana 2,5 bulan, kalau tidak bayar berarti masih 6,5 bulan lagi. Kalau bayar ya hanya menjalani sekitar 3,5 bulan lagi,” tandas dia.

 

Minta Keadilan

Baiq Nuril, mantan pegawai honorer SMA 7 Mataram sering mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh kepala sekolah tempatnya dulu bekerja. Pelecehan tersebut dilakukan via telepon.

Baiq Nuril akhirnya memberanikan diri untuk merekam percakapan asusila yang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMA 7 Mataram. Namun, hal tersebut berbuntut pada kasus dugaan pelanggaran UU ITE.

”Waktu itu, Kepsek  sempat menggoda dan mengajak saya berhubungan badan. Bahkan, pernah juga saya diajak ke hotel,” ungkapnya menjawab wartawan di kediamannya di Labuapi Lobar.

Menurut dia, gara-gara kasus itu, ia berhenti dari pekerjannya dan kini jualan kue untuk menyambung hidup dan mengajar ngaji. “Saya tidak hitung seberapa. Saya tidak pernah minta. Seikhlasnya mereka saja,” ujar Nuril menjawab wartawan.

Baiq Nuril pascaberhenti menjadi TU di SMAN 7 Mataram, kini setiap harinya menerima pesanan pembuatan kue dari para tetangganya. Sehabis waktu Magrib ia juga diminta mengajarkan ngaji bagi anak-anak tetangga di komplek perumahan tempat tinggalnya di Labuapi, Lombok Barat.

Honor yang didapatkannya tak seberapa. Selain itu, Nuril juga ikut dipercaya sebagai panitia saat pemilihan kepala daerah dan desa. Sedangkan pekerjan suaminya Isnaini (40) bekerja serabutan sejak berhenti jadi pramuniaga di Gili Trawangan. Kini Isnaini terdaftar jadi tukang ojek online.

“Luar biasa. Sedangkan saya aja, boro-boro mau bayar denda 500 juta, untuk keperluan anak aja sudah kayak begini. Untuk keperluann sekolah apa. Ini pun untuk kebutuhan sehari-hari aja masih kurang,” tegasnya menyikapi denda Rp 500 juta oleh MA.

Nuril memiliki tiga buah hati. Ketiga anaknya sedang membutuhkan biaya yang nilainya cukup besar untuk menuntaskan pendidikan mereka. Pendapatan Nuril dan suaminya tak seberapa. Apalagi ditambah dengan biaya kebutuhan untuk hidup sehari-hari ia merasa sangat kurang.

“Saya minta keadilan, seandainya putusan MA itu pun yang paling tinggi, apa tidak bisa dibatalkan oleh yang paling tinggi seperti presiden. Saya cuma minta keadilan, itu saja,” tandas Baiq Nuril. RUL.

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Dilaporkan Nuril ke Polda NTB Tetangga Sebut Keluarga Besar Muslim Jarang Berinteraksi

MATARAM, DS – Setelah dilaporkan Baiq Nuril Maknun ke Polda NTB Senin lalu, Muslim, mantan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *