Rabu , 9 Mei 2018
Home / Ekonomi / TGB Tak Risau Pertumbuhan Ekonomi NTB Alami Kontraksi
Gubernur Dr. TGH. Muhamad Zainul Majdi saat menyampaikan jawabannya pada sidang paripurna DPRD NTB

TGB Tak Risau Pertumbuhan Ekonomi NTB Alami Kontraksi

MATARAM, DS – Gubernur Dr. TGH. Muhamad Zainul Majdi mengaku tidak terlalu risau atas pencapaian pertumbuhan ekonomi provinsi NTB pada triwulan I-2018 dibanding periode yang sama tahun 2017 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar -0,33 persen. Sebab, selama ini indikator pertumbuhan ekonomi NTB telah disesuaikan dengan tidak menggunakan tambang sebagai acuan utamanya.

Hal ini telah termaktub pada indikator RPJMD. “Memang kalau pakai tambang trend pertumbuhan ekonomi kita menurun, tapi sebaliknya jika tanpa tambang sesuai indikator RPJMD, justru trend kita sangat positif mencapai 4,23 persen pada triwulan 1 tahun 2018 ini,” ujar Gubernur menjawab wartawan usai menghadiri sidang paripurna DPRD NTB, Selasa (8/5) .

TGB menegaskan trend pertumbuhan ekonomi daerah yang hanya dihitung berdasarkan penurunan produksi barang tambah dari PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMNT) seusai rilis BPS NTB, dirasa tidak relevan.

Pasalnya, jika kinerja perusahaan menambangnya banyak dan sedikit, jelas ini akan mempengaruhi kebijakan suatu daerah. Padahal, disisi lain masih banyak indikator dan sektor usaha lainnya yang justru tumbuh subur dan bergerak meningkat saat ini. Diantaranya, pariwisata, sektor jasa dan pertanian.

“Kalau saya jelas hitungan BPS yang acuhannya hanya mengukur berdasarkan satu perusahaan tambang beroperasinya. Ini jelas tidak relevan, sehingga sejak awal kami selalu mengukur pertumbuhan itu ngitungnya bukan tanpa tambang,” tegas Zainul Majdi.

Gubernur mengatakan, jika dirinya masih optimis manakala pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat. Mengingat, hitungan yang dijadikan kalkulasi hanya pada triwulan pertama. “Selanjutnya, kita akan meningkat. Tapi, tolong juga jangan digeneralisir manakala pertumbuhan ekonomi NTB dari tambang saja, karena fakta dilapangan, justru industri kita terus merangsak naik ke arah trend positif,” tandas Zainul Majdi.

Diketahui, BPS NTB merilis jika pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I-2018 dibanding periode yang sama tahun 2017 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar -0,33 persen. Kontraksi tertinggi terjadi pada kategori Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar -20,29 persen. Hal ini juga tergambar dari sisi PDRB Pengeluaran dimana Komponen Ekspor Luar Negeri mengalami kontraksi paling tinggi yaitu -22,46 persen.

Dibanding triwulan IV – 2017, pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB pada triwulan I-2018 (q to q) mengalami kontraksi hingga -6,10 persen, dimana kontraksi tertinggi terjadi pada Kategori Pertambangan dan Penggalian yang mencapai -27,41 persen. Dari sisi PDRB Pengeluaran tergambar komponen Ekspor Luar Negeri yang mengalami kontraksi sebesar -31,63 persen. ‘

‘Demikian pertumbuhan ekonomi NTB tanpa tambang bijih logam -1,11 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi NTB Endang Tri Wahyuningsih melalui Berita Resmi Statistik NTB di kantornya, Senin (7/5) kemarin.

Menurutnya, dibanding triwulan I – 2017 tanpa tambang  tumbuh  4,34 persen dan  dibanding triwulan IV – 2017 minus 1,11 persen. Dimana, perekonomian Provinsi NTB berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku triwulan I-2018 mencapai Rp 29,70 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 21,84 triliun.

Endang Tri Wahyuningsih juga menyebutkan bahwa indeks tendensi konsumen NTB Triwulan I-2018 bernilai 104,75. ”Hal ini memberi gambaran bahwa masyarakat merasa perekonomian mereka sedikit lebih baik dibandingkan triwulan IV-2017,” ujarnya.

Optimisme konsumen triwulan I-2018 didasari oleh meningkatnya indeks Pengaruh Inflasi terhadap konsumsi (106,14), Indeks Pendapatan Kini (104,97) dan sedikit peningkatan pada Indeks Volume Konsumsi (102,49).

Konsumen memperkirakan bahwa kondisi ekonomi pada triwulan II-2018 akan lebih baik dibandingkan triwulan I-2018 dengan ITK Mendatang sebesar 117,81. Selanjutnya ia mengemukakan bahwa pendapatan konsumen pada triwulan II-2018 akan meningkat karena Tunjangan dan Bonus biasanya diberikan saat hari raya Idul Fitri yang akan terjadi di triwulan tersebut.

Indeks pendapatan mendatang bernilai 131,80 dipicu oleh persepsi tersebut. Ada kecenderungan konsumen memilih menunggu untuk melakukan pembelian barang tahan lama di triwulan II-2018 dengan indeks 93,28. fahrul

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Produksi Jagung NTB Tembus Lima Besar Nasional

MATARAM, DS –Produksi jagung di NTB tahun 2017 yang mencapai 2,127 juta ton berhasil menempatkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *