Senin , 23 Oktober 2017
Home / Ekonomi / Catatan Kunjungan Presiden Jokowi ke NTB (Bagian-1) TGB Minta HPP Empat Komoditi NTB Bisa Ditandatangani Presiden Jokowi 
Presiden Jokowi mengajak gubernur NTB befoto selphie dengan latar keindahan pantai Mandalika, Lombok Tengah

Catatan Kunjungan Presiden Jokowi ke NTB (Bagian-1) TGB Minta HPP Empat Komoditi NTB Bisa Ditandatangani Presiden Jokowi 

Menandai tiga tahun perjalanan pemerintahannya, Presiden Jokowi ternyata lebih memilih berkunjung di NTB selama dua hari sejak Kamis (19/10) hingga Jumat (20/10). Meski tercatat saat Capres lalu, Jokowi kalah telak di NTB, namun ia sama sekali tidak menganaktirikan NTB sebagai satu kesatuan wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sehingga, sejumlah oleh-oleh masyarakat NTB pun dititipkan ke mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut. Salah satunya, agar usulan Pemprov NTB terkait penetapan harga pembelian di tingkat petani (HPP) untuk empat komoditas, yakni cabai rawit, cabai keriting, bawang merah dan bawang putih bisa direalisasikan.

Bagi Gubernur Dr.TGH.Muhamad Zainul Majdi dan seluruh masyarakat NTB, kunjungan orang nomor satu di Indonesia itu  menjadi kebanggaan tersendiri. Terlebih, antusiasme masyarakat untuk berfoto bersama atau sekadar bersalaman dengan Presiden sungguh luar biasa.

Sehingga, saat bertemu Jokowi dalam acara Penyerahan Sertifikat Tanah untuk Rakyat di Lombok Tengah, Jumat (20/10) lalu, Gubernur menyampaikan harapan masyarakat NTB.

“Pak Presiden, warga kami punya usulan, mudah-mudahan bapak Presiden bisa menugaskan Menteri Pertanian untuk menindaklanjuti HPP cabai rawit, cabai keriting, bawang merah dan bawang putih,” ujar TGB dalam sambutannya.

Usulan masyarakat itu mengingat fakta di lapangan harga untuk empat komoditas tersebut acap kali terjadi fluktuasi harga, sehingga menyebabkan inflasi di NTB selalu naik turun. Bahkan, pada saat-saat tertentu harga cabai turun sampai ke Rp 4000 per kilogramnya.

“Kadang-kadang memang tinggi sekali, tapi tiba-tiba saja para pedagang entah karena suplai atau apapun, petani kadang kesulitan menjual cabai mereka,” kata Gubernur.

Oleh karena itu, pihaknya telah mengajukan usulan HPP untuk empat komoditas tersebut, dengan harapan petani tak dirugikan. “Usulan HPP empat komoditas itu sudah kita kirimkan ke Pak Menteri, semoga kedatangan Pak Presiden melihat kondisi langsung masyarakat akan bisa ada regulasi yang menguntungkan para petani asal NTB,” ungkap Gubernur.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian NTB, Ir. H.Husnul Fauzi mengatakan telah menyampaikan melalui SK Gubernur usulan kepada Kementerian Perdagangan untuk menetapkan harga minimal pembelian di tingkat petani.

Menurutnya, usulan ini telah disesuaikan dengan Break Even Point (BEP) atau titik impas petani. “Kita usulkan ke kementerian supaya jangan di bawah itu karena BEP petani itu Rp 15.000-Rp 17.500. Kalau Rp 17.500 sudah untung, bawang merah kita minta Rp 22.500, bawang putih Rp 27 ribu beragam,” tegas Husnul.

Ia mengatakan, jika pada awal Agustus lalu, usulan tersebut telah disampaikan dengan tujuan untuk bisa melindungi petani di NTB. Menilik harga jual cabai saat ini di petani hanya berkisar Rp 8.000-Rp 10.000 per kilogram, yang tentu merugikan petani. Dimana modal tanam yang keluarkan tiap hektarnya Rp 50 juta.

“Sehingga berarti, margin keuntungan tidak ada di petani, itu yang tidak kita inginkan. Jadi kita mengantisipasi kerugian petani dengan Rp 17.500, dengan 1 hektar cost Rp 50 juta kalau Rp 17.500 kali 15 ton sudah berapa itu? Sudah untung itu,” ujar Husnul.

Menjawab aspirasi Gubernur dan masyarakat NTB itu. Presiden terlihat tersenyum-senyum. “Nanti kita lihatlah perkembangannya. Kan HPP sebelumnya untuk komoditas jagung sudah saya tandatangani setelah saya turun melihat faktanya. Sekali lagi, nggak ada yang sulit sepanjang itu fakta guna menyejahterakan masyarakat,” tandas Jokowi. (fahrul BERSAMBUNG)

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Gunung Agung Bali Ditetapkan Status Level III, Pelabuhan Lembar dan BIL Masih Normal

MATARAM, DS – Aktifitas bongkar muat penumpang di dua pintu keluar Pulau Lombok, yakni Pelabuhan Lembar dan Bandara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *