Rabu , 7 November 2018
Home / Ekonomi / BPS : Ekonomi NTB Turun Drastis Pascagempa Bumi
Kepala BPS NTB Suntono (tengah) saat memberikan keterangan pers terkait pertumbuhan ekonomi NTB pascagempa bumi di kantornya

BPS : Ekonomi NTB Turun Drastis Pascagempa Bumi

MATARAM, DS – Perekonomian Provinsi NTB sampai dengan triwulan III tahun 2018 bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017 mengalami kontraksi sebesar -5,40 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mengakui, kontraksi tertinggi terjadi pada kategori lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar -40,17 persen. Tak hanya itu, perekonomian NTB pada triwulan III tahun 2018 dibanding triwulan III 2017 juga mengalami kontraksi sebesar -13,99 persen.

“Jadi, produk domestik regional bruto (PDRB) NTB atas dasar harga berlaku triwulan III tahun 2018 mencapai Rp 31,17 triliun dan atas dasar harga konstan tahun 2010 mencapai Rp 22,55 triliun,” ujar Kepala BPS NTB, Suntono, menjawab wartawandi Kantor BPS NTB, Selasa (6/11).

Ia menegaskan, bencana gempa yang melanda NTB beberapa bulan lalu menjadi alasan pemicu turunnya konsumsi rumah tangga di NTB pada triwulan IIItahun 2018. “Penurunan konsumsi rumah tangga yang tercermin dari indeks volume konsumsi triwulan III tahun 2018, yaitu sebesar 98,39 akibat terjadinya bencana gempa yang melanda  NTB. Kondisi tersebut yang mendasari turunnya optimisme konsumen,” ucap Suntono.

Dari sisi lapangan usaha kontraksi tertinggi terjadi pada kategori pertambangan dan penggalian sebesar -57,83 persen, sedangkan dari sisi pengeluaran terjadi pada komponen ekspor luar negeri mengalami kontraksi paling tinggi yaitu -66,44 persen.

Menurut Suntono, dibandingkan triwulan II tahun 2018, pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan III 2018 mengalami kontraksi sebesar -2,14 persen, di mana kontraksi tertinggi terjadi pada Kategori Konstruksi yang mencapai -16,53 persen. Selain itu, dari sisi PDRB pengeluaran komponen ekspor luar negeri mengalami kontraksi tertinggi sebesar 23,31 persen.

“Pertumbuhan ekonomi NTB triwulan III 2018 tanpa pertambangan bijih logam secara y on y mengalami kontraksi -0,36 persen, secara q to q mengalami kontraksi -0,79 persen, dan secara c to c hanya tumbuh 3,80 persen,” jelasnya.

Struktur perekonomian NTB berdasarkan PDRB menurut lapangan usaha pada triwulan III 2018 masih didominasi kategori pertanian, kehutanan dan perikanan  sebesar 25,31 persen, diikuti kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor dengan 14,93 persen, dan kategori pertambangan dan penggalian sebesar 11,68 persen.

Sedangkan, jika dibandingkan dengan komulatif triwulan III tahun2017, perekonomian NTB sampai triwulan III 2018 mengalami kontraksi sebesar -5,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017. Kondisi ini disebabkan kontraksi pertumbuhan pada kategori pertambangan dan penggalian yang mencapai -40,17 persen.

“Sementara tanpa pertambangan bijih logam perekonomian NTB masih tumbuh sebesar 3,80 persen. Kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai kategori dominan mampu tumbuh sebesar 2,92 persen,” kata dia.

Pun dengan kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor yang tumbuh mencapai 5,80 persen. Suntono menyebutkan, pertumbuhan tertinggi diperlihatkan kategori jasa keuangan dan asuransi yang mencapai 11,34 persen.

Hal ini, dijelaskan Suntono, sejalan dengan telah tersalurkannya berbagai kredit perbankan pada triwulan III ini, di mana sebagian besar berupa kredit untuk pelaksanaan proyek fisik (konstruksi).

Meski demikian, pelaksanaan konstruksi tersebut masih tertahan akibat terjadinya gempa bumi. “Sehingga pertumbuhan kategori konstruksi tidak signifikan yaitu hanya sebesar 0,42 persen,” tegasnya.

Oleh karena itu, melihat sumber pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan III tahun 2018 secara y on y atau tahun ke tahun, pendorong pertumbuhan terbesar berasal dari kategori perdagangan besar, eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 0,40 poin.

Selanjutnya, kategori jasa keuangan sebesar 0,27 poin, kemudian disusul kategori jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 0,14 poin. “Sedangkan pemicu kontraksi berasal dari kategori pertambangan dan penggalian sebesar -13,81 poin, kategori konstruksi sebesar -1,03 poin, dan kategori penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar -0,28 poin,” jelas Suntono lagi.

Ia merincikan, tingginya kontraksi pertumbuhan pada kategori pertambangan dan penggalian dan diikuti beberapa kategori yang lain yang terdampak gempa pada triwulan III 2018 menarik pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan berkontraksi hingga -13,99 persen.

“Pertumbuhan ekonomi tanpa pertambangan bijih logam juga mengalami kontraksi sebesar -0,36 persen, jauh lebih rendah daripada pertumbuhan y on y pada triwulan yang sama pada tahun lalu  yang tumbuh hingga 7,57 persen. Musibah gempa bumi dan kemarau yang cukup panjang menjadi faktor utama penyebab turunnya kinerja ekonomi tanpa pertambangan bijih logam,” tandas Suntono.

 

Semua Komoditi Turun

Dalam kesempatan itu. Suntono mengakui hampir semua komoditas konsumsi mengalami penurunan pada triwulan III 2018 juka dibandingkan triwulan II-2018. Dia menyoroti empat komoditas yang volumenya menurun tajam menurut pendapat konsumen yaitu pakaian (90,57), rekreasi/hiburan (91,00), akomodasi (91,98), dan perawatan kesehatan atau kecantikan (95,13).

“Hal ini dikarenakan bencana gempa bumi yang melanda Provinsi NTB sejak akhir Juli hingga September lalu. Para konsumen di NTB, terutama yang terdampak gempa memilih sama sekali tidak mengeluarkan uang mereka untuk membeli barang-barang yang dianggap tidak urgent seperti pakaian atau perawatan kesehatan atau kecantikan,” pungkasnya.

Selama gempa bumi, rumah tangga di NTB tidak melakukan rekreasi ditandai dengan indeks rekreasi atau hiburan dan akomodasi yang sangat rendah.

Konsumsi lain yang menurun volumenya pada triwulan III 2018 adalah makanan dan minuman jadi dengan indeks 98,55. “Selama gempa, roda perekonomian di NTB dapat dikatakan mengalami gangguan. Walau tidak seluruh wilayah terdampak gempa, beberapa wilayah yang terdampak cukup memengaruhi kondisi perekonomian NTB secara umum,” jelasnya.

Suntono melanjutkan, Kota Mataram sebagai ibu kota NTB yang juga merupakan pusat perekonomian juga terkena dampak gempa.  Akibatnya selama beberapa waktu pada triwulan III 2018, bahan makanan menjadi barang yang sulit untuk didapatkan oleh konsumen.

Banyak para pedagang yang tidak berjualan, terutama pedagang yang berasal dari luar NTB, dan mereka memilih untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Kondisi tersebut mengakibatkan sulitnya mendapatkan bahan makanan atau makanan dan minuman jadi yang dibutuhkan masyarakat.

“Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya terutama bahan pangan, umumnya masyarakat di NTB yang menjadi korban gempa mendapatkan bantuan dari pemerintah dan organisasi-organisasi sosial lainnya,” ucap Suntono.

Namun begitu, konsumsi barang dan jasa yang masih disikapi cukup optimis oleh masyarakat NTB ialah pembelian pulsa dengan indeks 106,21 serta komoditas transportasi dengan indeks mencapai 106,89. Selama gempa terjadi, konsumsi pembelian pulsa tetap disikapi positif oleh masyarakat karena mereka tetap harus menjaga komunikasi dengan sanak saudara mengenai situasi dan kondisi mereka.

“Walau banyak warga yang memilih untuk tetap berada di lingkungan tempat tinggalnya selama gempa, namun cukup banyak juga yang memilih untuk pergi mencari lokasi yang lebih aman bagi keluarganya sehingga indeks transportasi di NTB juga disikapi positif,” tutur Suntono.

Terkait pascabencana gempa berlalu. Suntono menambahkan, konsumen di NTB memperkirakan perekonomian akan relatif sama. Hal ini tercermin dari persepsi konsumen dalam memperkirakan kondisi perekonomiannya pada triwulan IV 2018 mendatang hanya sedikit lebih optimis dibandingkan dengan triwulan III-2018 ini dengan indeks sebesar 103,59.

“Menariknya adalah bahwa hal tersebut terjadi bukan karena persepsi bahwa penghasilannya akan berkurang dibandingkan triwulan III, namun lebih dikarenakan rasa kurang yakin untuk berinvestasi,” tandas dia. RUL.

 

 

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

TGB : Bank NTB Syariah Bukan Gagah-Gagahan

MATARAM, DS – Bank NTB resmi hijrah dan berubah menjadi Bank NTB Syariah. Peresmian perubahan  …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *